Cikadu.id – Pemerintah Indonesia resmi memberlakukan aturan baru yang mewajibkan delapan platform digital memblokir akun pengguna anak di bawah umur. Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menerbitkan Peraturan Menteri Komdigi Nomor 9 Tahun 2026 sebagai aturan turunan dari PP Tunas yang sebelumnya Presiden Prabowo Subianto sahkan pada 28 Maret 2025.
Implementasi aturan blokir akun anak ini secara resmi dimulai pada 28 Maret 2026. Platform yang masuk dalam daftar wajib patuh mencakup Roblox, YouTube, TikTok, Facebook, Instagram, Threads, X (Twitter), dan Bigo Live.
Aturan ini berlaku efektif sejak 1 April 2025, namun pemerintah memberikan masa penyesuaian selama satu tahun penuh. Dengan demikian, platform-platform digital memiliki waktu untuk menyiapkan sistem dan mekanisme penonaktifan akun secara bertahap.
Latar Belakang PP Tunas dan Aturan Blokir Akun Anak
PP Tunas hadir sebagai respons pemerintah terhadap kekhawatiran perlindungan anak di ruang digital. Presiden Prabowo Subianto menandatangani peraturan pemerintah ini dengan tujuan melindungi anak-anak dari konten berbahaya dan eksploitasi di media sosial.
Peraturan Menteri Komdigi Nomor 9 Tahun 2026 kemudian menjadi landasan operasional. Menkomdigi Meutya Hafid menegaskan bahwa implementasi bertahap akan memastikan platform dapat menyesuaikan sistem mereka tanpa mengganggu operasional pengguna dewasa.
Selain itu, aturan ini juga memberikan kerangka kerja bagi platform untuk memverifikasi usia pengguna secara lebih ketat. Bahkan, pemerintah berencana menerapkan sanksi bagi platform yang gagal mematuhi ketentuan ini setelah masa penyesuaian berakhir.
Delapan Platform Digital yang Wajib Blokir Akun Anak
Kedelapan aplikasi yang masuk dalam daftar wajib memiliki karakteristik berbeda namun sama-sama populer di kalangan pengguna Indonesia. Berikut rincian platform yang harus menonaktifkan akun anak:
| Platform | Kategori | Pengguna Utama |
|---|---|---|
| YouTube | Video Streaming | Semua Usia |
| TikTok | Video Pendek | Remaja & Dewasa |
| Media Sosial | Dewasa | |
| Foto & Video | Remaja & Dewasa | |
| Threads | Microblogging | Dewasa |
| X (Twitter) | Microblogging | Dewasa |
| Roblox | Gaming | Anak & Remaja |
| Bigo Live | Live Streaming | Dewasa |
Menariknya, daftar ini mencakup platform dengan basis pengguna anak yang besar seperti Roblox dan YouTube. Namun, platform seperti Bigo Live dan X juga masuk karena potensi konten dewasa yang tinggi.
Mekanisme Penonaktifan Akun Secara Bertahap
Pemerintah melalui Menkomdigi menetapkan mekanisme bertahap untuk memastikan proses berjalan lancar. Platform tidak akan langsung memblokir semua akun anak sekaligus, melainkan melalui tahapan verifikasi.
Pertama, platform harus mengidentifikasi akun yang pemiliknya berusia di bawah batas minimum. Kedua, mereka perlu mengirimkan notifikasi kepada pemilik akun atau wali untuk verifikasi usia. Ketiga, jika verifikasi gagal atau tidak ada respons dalam periode tertentu, akun akan otomatis platform nonaktifkan.
Oleh karena itu, orang tua dan wali perlu memperhatikan notifikasi dari platform-platform tersebut. Ternyata, banyak akun anak yang sebelumnya mendaftar dengan data usia palsu, sehingga proses verifikasi ulang menjadi krusial.
Masa Penyesuaian Satu Tahun: Apa yang Harus Orang Tua Lakukan?
Masa penyesuaian satu tahun memberikan waktu bagi platform dan orang tua untuk bersiap. Namun, ada beberapa langkah yang bisa orang tua ambil sejak sekarang:
- Pantau akun media sosial anak – Pastikan data usia yang anak daftarkan sesuai dengan usia sebenarnya.
- Aktifkan fitur parental control – Beberapa platform menyediakan kontrol orang tua untuk membatasi konten.
- Edukasi tentang keamanan digital – Ajarkan anak memahami risiko berbagi informasi pribadi di internet.
- Siapkan alternatif platform ramah anak – YouTube Kids, misalnya, menawarkan konten yang lebih aman untuk anak-anak.
- Lakukan komunikasi terbuka – Diskusikan dengan anak tentang pentingnya aturan ini untuk perlindungan mereka.
Selain itu, orang tua juga perlu memahami bahwa aturan ini bukan untuk membatasi akses anak terhadap teknologi. Melainkan, pemerintah ingin memastikan anak-anak mengakses platform yang sesuai dengan usia dan kebutuhan perkembangan mereka.
Implikasi bagi Platform Digital dan Pengguna
Aturan blokir akun anak ini membawa implikasi besar bagi ekosistem digital Indonesia. Platform harus berinvestasi dalam teknologi verifikasi usia yang lebih canggih dan akurat.
Di sisi lain, pengguna dewasa juga mungkin akan mengalami proses verifikasi tambahan. Faktanya, beberapa negara yang menerapkan aturan serupa melaporkan peningkatan keluhan terkait privasi data saat proses verifikasi usia.
Akan tetapi, pemerintah Indonesia menegaskan bahwa perlindungan anak menjadi prioritas utama. Menkomdigi Meutya Hafid dalam beberapa kesempatan menyatakan komitmen untuk menyeimbangkan antara perlindungan anak dan kebebasan berekspresi pengguna dewasa.
Bahkan, pemerintah berencana meluncurkan kampanye literasi digital untuk mendukung implementasi aturan ini. Kampanye tersebut akan melibatkan sekolah, komunitas, dan organisasi masyarakat sipil.
Sanksi bagi Platform yang Tidak Patuh
Setelah masa penyesuaian berakhir, platform yang gagal mematuhi aturan blokir akun anak akan menghadapi sanksi administratif. Pemerintah dapat memberikan peringatan tertulis, denda, hingga pemblokiran akses platform di Indonesia.
Meski begitu, pemerintah menyatakan pendekatan persuasif akan menjadi prioritas di tahun pertama. Akibatnya, dialog intensif dengan platform global seperti Meta (Facebook, Instagram, Threads), Google (YouTube), dan ByteDance (TikTok) terus pemerintah lakukan.
Intinya, pemerintah ingin membangun ekosistem digital yang lebih aman tanpa menghambat inovasi dan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Pada akhirnya, keberhasilan aturan ini sangat bergantung pada kolaborasi antara pemerintah, platform, orang tua, dan masyarakat luas.
Aturan blokir akun anak pada delapan aplikasi populer ini menandai langkah serius Indonesia dalam perlindungan anak di era digital. Dengan masa penyesuaian hingga 2026, semua pihak memiliki waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi perubahan signifikan ini dalam lanskap media sosial Indonesia.




