Artemis II Bawa Maskot Boneka Bulan Rise, Indikator Gravitasi Nol

Artemis II Bawa Maskot Boneka Bulan Rise, Indikator Gravitasi Nol

Artemis II Bawa Maskot Boneka Bulan Rise, Indikator Gravitasi Nol

Cikadu.idNASA akan meluncurkan empat astronot dalam misi Artemis II pada 1 April 2026 dengan membawa maskot boneka bulan bernama Rise. Komandan Reid Wiseman mengumumkan bahwa Rise akan terbang mengelilingi bulan bersama awak dan berfungsi sebagai indikator gravitasi nol selama misi berlangsung.

Lucas Ye dari Mountain View, California, mendesain Rise dengan inspirasi dari momen ikonik “Earthrise” yang diabadikan misi Apollo 8. Desain ini berhasil mengalahkan lebih dari 2.600 karya dari 50 negara dalam lomba Maskot Bulan yang NASA selenggarakan.

Wiseman menyampaikan pengumuman ini di Fasilitas Peluncuran dan Pendaratan Kennedy. Ia menegaskan bahwa Rise akan menemani para astronot sepanjang perjalanan historis ini.

Fungsi Rise Sebagai Indikator Gravitasi Nol

NASA menjelaskan bahwa indikator gravitasi nol merupakan mainan berbulu kecil yang awak misi biasanya bawa untuk menunjukkan secara visual saat mereka memasuki ruang tanpa gravitasi. Rise akan mengapung di dalam kapsul Orion ketika pesawat meninggalkan gravitasi Bumi.

Tidak hanya itu, mainan ini juga menjadi tradisi yang sudah lama astronot jalankan dalam berbagai misi luar angkasa. Selain itu, kehadiran Rise memberikan sentuhan personal dan simbolis untuk misi yang sangat penting ini.

Lebih dari itu, Rise merepresentasikan partisipasi global dalam eksplorasi luar angkasa. Menariknya, desain ini berasal dari kompetisi yang melibatkan siswa sekolah dasar hingga menengah dari seluruh dunia.

Proses Seleksi Ketat Maskot Artemis II

Kompetisi Maskot Bulan menarik perhatian ribuan peserta internasional. Kru Artemis II menyaring 25 finalis menjadi lima desain terbaik sebelum memilih Rise sebagai pemenang.

Baca Juga:  Cara Mengurus SKTM 2026: Syarat BPJS Gratis & Bansos

Kelima desain finalis tersebut mencakup karya-karya kreatif dari berbagai belahan dunia:

  • Big Steps of Little Octopus oleh Anzhelika Iudakova dari Finlandia
  • Corey the Explorer oleh Daniela Colina dari Peru
  • Creation Mythos oleh Johanna Beck dari McPherson, Kansas
  • Lepus the Moon Rabbit oleh Oakville Trafalgar School dari Kanada
  • Rise oleh Lucas Ye dari Mountain View, California

Oleh karena itu, pemilihan Rise menunjukkan apresiasi NASA terhadap desain yang menggabungkan makna historis dengan visi masa depan. Bahkan, nama Rise sendiri mencerminkan harapan umat manusia untuk bangkit dan terus mengeksplorasi alam semesta.

Empat Astronot Pemberani Misi Artemis II

Reid Wiseman akan memimpin misi sebagai komandan, didampingi oleh Christina Koch, Victor Glover, dan Jeremy Hansen. Keempat astronot ini akan menjalani misi selama 10 hari mengelilingi Bulan sebelum kembali ke Bumi.

Dengan demikian, tim ini membawa keberagaman dan keahlian yang luar biasa. Christina Koch akan menjadi wanita pertama yang terbang mengelilingi Bulan dalam misi Artemis. Sementara itu, Victor Glover menjadi astronot berkulit hitam pertama yang melakukan misi lunar.

Jeremy Hansen dari Kanada merepresentasikan kemitraan internasional dalam program Artemis. Menariknya, ini menjadi kali pertama astronot non-Amerika terbang ke bulan sejak era Apollo berakhir.

Misi Artemis II menandai penerbangan berawak pertama NASA sejak lebih dari 50 tahun setelah program Apollo berakhir. Faktanya, generasi baru kini akan menyaksikan manusia kembali menjelajahi wilayah lunar setelah hiatus yang sangat panjang.

Rekor Jarak dan Teknologi Roket Generasi Baru

Para astronot akan terbang lebih jauh dari Bumi daripada yang pernah manusia capai sebelumnya. Jarak tempuh mereka akan melampaui rekor 400.171 kilometer yang Apollo 13 cetak pada tahun 1970.

Baca Juga:  Cara Mencuci Mobil Pascamudik 2026 Agar Cat Tetap Kinclong

Namun, meski akan memecahkan rekor jarak, para astronot tidak akan mendarat di permukaan satelit alami Bumi tersebut. Penerbangan ini bertujuan untuk menguji sistem dan membuka jalan bagi pendaratan di Bulan dalam beberapa tahun mendatang.

Akibatnya, data yang tim kumpulkan dari misi ini akan sangat krusial untuk misi Artemis III. Pada misi selanjutnya, NASA berencana mendaratkan astronot pertama di kutub selatan Bulan.

Lebih lanjut, ini akan menjadi kali pertama roket Space Launch System generasi baru NASA dan kapsul Orion mengangkut penumpang manusia. Kedua teknologi ini sudah NASA uji dalam misi Artemis I tanpa awak pada 2022.

Selain itu, roket Space Launch System merupakan roket paling kuat yang NASA pernah bangun. Roket ini mampu menghasilkan tenaga dorong hingga 8,8 juta pon untuk meluncurkan kapsul Orion keluar orbit Bumi.

Era Baru Eksplorasi Bulan Dimulai 2026

Peluncuran pada 1 April 2026 menandai dimulainya era baru eksplorasi luar angkasa. Program Artemis tidak hanya bertujuan membawa manusia kembali ke Bulan, tetapi juga membangun kehadiran manusia yang berkelanjutan di sana.

NASA merencanakan pembangunan stasiun Gateway yang akan mengorbit Bulan sebagai pos transit untuk misi-misi mendatang. Intinya, Bulan akan menjadi batu loncatan untuk eksplorasi Mars dan planet lain di masa depan.

Di sisi lain, program Artemis juga menekankan partisipasi internasional dan kemitraan komersial. Berbagai perusahaan swasta dan badan antariksa dari negara lain akan berkontribusi dalam misi-misi Artemis selanjutnya.

Singkatnya, misi Artemis II dengan maskot Rise-nya membawa simbolisme kuat tentang kebangkitan ambisi manusia untuk menjelajah kosmos. Pada akhirnya, 10 hari perjalanan mengelilingi Bulan ini akan menjadi tonggak sejarah yang menginspirasi generasi mendatang untuk terus bermimpi melampaui batas Bumi.

Baca Juga:  DPR Minta Kajari Karo Dicopot Terkait Kasus Amsal Sitepu

Wandi Setiawan

Penulis di Cikadu.id