Cikadu.id – Posko Angkutan Lebaran 2026 di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi resmi menutup operasinya. General Manager ASDP Indonesia Ferry Cabang Ketapang, Arief Eko, mengungkapkan sebanyak 404 ribu penumpang pejalan kaki dalam kendaraan atau 78 persen telah kembali ke Bali dari Jawa.
Tidak hanya penumpang, kendaraan yang menyeberang juga mencatat angka signifikan. Data ASDP mencatat sekitar 127 ribu unit kendaraan atau 77 persen dari total pergerakan saat arus mudik telah menyeberang kembali ke Pulau Dewata.
Arief menyampaikan informasi tersebut dalam keterangan tertulis pada Rabu, 1 April 2026. Meski mayoritas pemudik sudah pulang, masih ada 22 persen atau 113 ribu penumpang dalam kendaraan yang belum kembali ke Bali.
Ribuan Kendaraan Masih Tertunda di Jawa
Selain penumpang, kendaraan yang belum menyeberang juga masih cukup banyak. Arief mencatat sekitar 23 persen atau 37.365 unit kendaraan masih berada di sisi Jawa dan belum melakukan penyeberangan.
Angka ini menunjukkan masih ada pemudik yang memilih memperpanjang masa liburan Lebaran mereka. Dengan demikian, arus balik Lebaran 2026 di Pelabuhan Ketapang belum sepenuhnya selesai meski posko resmi sudah ditutup.
Puncak Arus Balik Lebaran Ketapang Terjadi H+7
Data ASDP mencatat sebanyak 56.300 penumpang dan sekitar 19 ribu unit kendaraan menyeberang dari Ketapang menuju Gilimanuk pada puncak arus balik tersebut. Dari jumlah kendaraan yang menyeberang, sepeda motor mendominasi dengan angka lebih dari 12.458 unit.
Dominasi sepeda motor ini menunjukkan mayoritas pemudik memilih kendaraan pribadi roda dua untuk mobilitas mereka selama masa Lebaran. Faktanya, sepeda motor memang menjadi pilihan utama karena lebih fleksibel dan hemat biaya.
Total Pergerakan Kendaraan Selama Periode Lebaran
Secara keseluruhan, selama periode H-10 hingga H+8 Lebaran 2026, jumlah kendaraan yang masuk ke Pelabuhan Ketapang mencapai angka fantastis. ASDP mencatat sekitar 171 ribu unit kendaraan dari total reservasi 183.810 ribu kendaraan berhasil masuk dan menyeberang.
Namun demikian, masih ada sekitar 11.889 kendaraan dari data reservasi yang belum masuk ke pelabuhan hingga posko resmi ditutup. Arief menjelaskan berbagai faktor bisa menyebabkan hal ini, mulai dari pembatalan perjalanan hingga perubahan rencana pemudik.
Menariknya, meski posko telah ditutup sejak Senin, 30 Maret 2026, arus kendaraan masih terpantau sangat padat. Antrean kendaraan bahkan sempat mencapai 14 kilometer pada awal penutupan posko.
Antrean Panjang Masih Terjadi Pasca Penutupan Posko
Kondisi antrean panjang ini terus berlanjut hingga hari-hari berikutnya. Menjelang Selasa sore, 31 Maret 2026, antrean berangsur turun menjadi sekitar 12 kilometer, namun tetap terbilang panjang untuk ukuran pelabuhan penyeberangan.
Arief menjelaskan kepadatan tersebut terjadi karena mulai normalnya kembali aktivitas ekonomi dan logistik. Selain itu, kendaraan logistik yang sebelumnya dibatasi kini sudah mendapat izin beroperasi penuh kembali.
“Setelah masa angkutan lebaran selesai, seluruh jenis kendaraan sudah bisa berjalan normal, termasuk logistik. Ini yang menyebabkan arus masih padat,” jelas Arief dalam keterangannya.
ASDP Tambah Jumlah Kapal untuk Urai Antrean
Untuk mengatasi lonjakan antrean yang terjadi, ASDP mengambil langkah strategis dengan menambah armada kapal yang beroperasi. Pihak ASDP menambah jumlah kapal dari sebelumnya 33 unit menjadi 36 unit pada periode pascapenutupan posko.
Selain menambah kapal, ASDP juga mengoptimalkan buffer zone yang ada untuk menampung kendaraan logistik. Langkah ini bertujuan memisahkan antara kendaraan pribadi pemudik dengan kendaraan logistik agar distribusi lebih merata.
Arief menambahkan, pihaknya juga membagi pola pemuatan melalui dua dermaga berbeda. “Kami membagi pola pemuatan, baik melalui dermaga Bulusan maupun dermaga LCM, agar distribusi kendaraan lebih merata,” tambah Arief.
Strategi pembagian dermaga ini terbukti efektif mengurangi waktu tunggu dan mempercepat proses penyeberangan. Dengan demikian, antrean dapat diatasi secara bertahap tanpa menimbulkan kemacetan yang lebih parah.
Pola Operasi TBB Hanya di Dermaga IV
Terkait pola operasi pelabuhan, Arief mengungkapkan saat ini pola Tiba Bongkar Berangkat (TBB) hanya pihaknya terapkan di Dermaga IV saja. Sementara itu, dermaga-dermaga lainnya telah kembali ke pola operasional reguler seperti biasa.
Pola TBB sendiri merupakan sistem operasional khusus yang memungkinkan kapal langsung berangkat setelah proses bongkar muat selesai tanpa jeda waktu tunggu. Sistem ini biasanya pihak pelabuhan terapkan saat masa puncak untuk mempercepat arus penyeberangan.
Oleh karena itu, dengan kembalinya pola reguler di sebagian besar dermaga, operasional pelabuhan mulai normal kembali seperti hari-hari biasa di luar masa Lebaran.
Imbauan Beli Tiket via Aplikasi Ferizy
Arief juga mengimbau masyarakat yang masih berencana melakukan penyeberangan untuk merencanakan perjalanan dengan lebih baik. Salah satu cara efektif adalah dengan membeli tiket melalui aplikasi resmi ASDP bernama Ferizy.
Pembelian tiket melalui aplikasi Ferizy memungkinkan penumpang menghindari antrean panjang di loket pembelian tiket fisik. Bahkan, aplikasi ini juga memungkinkan pengguna melihat jadwal keberangkatan dan ketersediaan kapal secara real-time.
“Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Kami terus bersama-sama dengan seluruh stakeholder untuk mengurai antrean serta berkoordinasi untuk memastikan teman-teman pengguna jasa diseberangkan dengan selamat,” ujar Arief menutup keterangannya.
Permohonan maaf dari ASDP ini menunjukkan komitmen perusahaan pelayaran untuk terus meningkatkan kualitas layanan. Meski menghadapi tantangan lonjakan penumpang saat Lebaran, ASDP berupaya maksimal mengurai masalah yang timbul.
Dengan berakhirnya posko Angkutan Lebaran 2026 di Pelabuhan Ketapang, operasional penyeberangan Ketapang-Gilimanuk perlahan kembali normal. Meski demikian, pengelola pelabuhan tetap siaga memantau perkembangan arus kendaraan dan penumpang hingga benar-benar stabil kembali seperti hari biasa.




