Cikadu.id – Wali Kota Batu Nurochman turun langsung menyusuri Sungai Krecek pada Selasa pagi, 31 Maret 2026, setelah banjir bandang menerjang kawasan Kecamatan Bumiaji semalam. Pemerintah Kota Batu bergerak cepat untuk mencari titik nol penyebab banjir yang membawa lumpur pekat ke pemukiman warga.
Aksi susur sungai ini bertujuan mengidentifikasi sumber bencana yang melanda tiga titik terdampak di Bumiaji. Kali Krecek menjadi fokus utama pantauan karena debit airnya yang ekstrem hingga menembus jalan raya.
Bencana banjir bandang Bumiaji kali ini meninggalkan kerusakan signifikan di berbagai lokasi. Lumpur pekat menggenangi rumah warga, sementara infrastruktur jalan mengalami kerusakan parah akibat luapan air yang tak terbendung.
Susur Sungai Dimulai dari Titik Tertinggi Banyuning
Cak Nur—sapaan akrab Nurochman—memulai pantauan dari titik tertinggi luapan air di kawasan Banyuning. Pria ini menelusuri aliran sungai secara mendetail untuk menemukan akar permasalahan banjir bandang yang melanda wilayahnya.
Selain itu, tim juga memfokuskan perhatian pada area dekat tempat wisata baru di Desa Tulungrejo. Lokasi ini mengalami dampak paling parah ketika air Kali Krecek meluap dengan tekanan tinggi dan membanjiri jalan utama.
“Sementara ini, kami belum menemukan penyebab pastinya, karena longsoran juga tidak ada di titik tersebut,” ungkap Nurochman saat menyisir lokasi bencana.
Sungai Gandhar: 50 Meter Aspal Hancur Tergerus Arus
Penyisiran berlanjut ke kawasan Sungai Gandhar yang mengalami kerusakan infrastruktur masif. Cak Nur mendapati aspal jalan sepanjang 50 meter hancur tergerus derasnya arus banjir yang mengamuk semalam.
Hasil analisis sementara menunjukkan kerusakan tersebut terjadi akibat pertemuan arus air yang sangat kuat. Air meluap ke badan jalan dengan tekanan tinggi sehingga mengikis lapisan aspal hingga hancur total.
Kerusakan di Sungai Gandhar menjadi salah satu bukti betapa dahsyatnya banjir bandang yang melanda Bumiaji. Infrastruktur jalan yang seharusnya kokoh tidak mampu menahan terjangan air bah yang datang dengan volume ekstrem.
Kampung Besta Terendam Lumpur dari Hulu
Nurochman juga meninjau Kampung Besta untuk memastikan asal material lumpur yang merendam rumah warga. Ia menduga lumpur tersebut bukan berasal dari erosi sungai, melainkan kiriman dari lahan-lahan pertanian di kawasan hulu.
Menariknya, temuan ini mengungkap pola baru penyebab banjir bandang di Bumiaji. Material lumpur yang menggenangi pemukiman warga ternyata terbawa aliran air dari area pertanian yang ada di ketinggian lebih atas.
Analisis lapangan menunjukkan bahwa kondisi tanah di hulu mengalami erosi masif. Ketika hujan deras mengguyur, tanah pertanian yang tidak memiliki penahan alami langsung terkikis dan terbawa arus menuju kawasan permukiman.
Alih Fungsi Lahan Masif Jadi Penyebab Utama
Wali Kota Nurochman meyakini rentetan bencana semalam terjadi akibat masifnya alih fungsi lahan di wilayah tangkapan air Kota Batu. “Potensi terbesar berasal dari atas, ada alih fungsi lahan yang sangat masif di wilayah tangkapan air kita,” tegasnya dengan nada prihatin.
Selain itu, hilangnya tegakan pohon apel turut memperparah kondisi. Padahal, pohon apel memiliki daya serap air tinggi yang selama ini membantu mengurangi risiko banjir di lereng Bumiaji.
Pembangunan yang tidak terkendali juga menjadi faktor krusial. Banyak lahan hijau yang dulunya berfungsi sebagai area resapan air kini berubah menjadi bangunan fisik yang justru mempercepat aliran air hujan ke kawasan lebih rendah.
Pohon Apel Sebagai Benteng Alami Anti Banjir
Fakta menarik terungkap dari investigasi Cak Nur: pohon apel ternyata memiliki peran vital sebagai benteng alami pencegah banjir. Sistem perakaran pohon apel mampu menyerap air dalam jumlah besar sehingga mengurangi volume air yang mengalir ke permukiman.
Namun, berkurangnya populasi pohon apel di Bumiaji akibat alih fungsi lahan membuat benteng alami ini melemah. Lahan yang dulunya ditanami pohon apel kini banyak yang beralih fungsi menjadi area permukiman atau usaha lainnya.
Kondisi ini menciptakan siklus berbahaya: semakin sedikit pohon apel, semakin besar risiko banjir bandang. Air hujan yang seharusnya terserap oleh akar pohon kini langsung mengalir deras membawa material tanah ke kawasan lebih rendah.
Langkah Pemerintah Kota Batu Pasca Bencana
Pemerintah Kota Batu melalui Wali Kota Nurochman berkomitmen melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata ruang wilayah. Hasil susur sungai ini akan menjadi bahan analisis untuk mencegah bencana serupa terulang di masa mendatang.
Tim teknis akan melakukan pemetaan ulang terhadap kawasan rawan bencana. Data hasil penelusuran Kali Krecek, Sungai Gandhar, dan Kampung Besta akan menjadi dasar perumusan kebijakan pengendalian alih fungsi lahan.
Ke depannya, pemerintah berencana memperketat izin pembangunan di kawasan tangkapan air. Setiap pengajuan alih fungsi lahan harus melalui kajian lingkungan yang lebih komprehensif untuk memastikan tidak menimbulkan risiko bencana banjir.
Urgensi Pengendalian Tata Ruang untuk Cegah Banjir
Banjir bandang Bumiaji menjadi alarm keras bagi semua pihak tentang pentingnya pengendalian tata ruang. Bencana ini membuktikan bahwa pembangunan tanpa mempertimbangkan aspek lingkungan akan berujung pada kerugian yang jauh lebih besar.
Masyarakat Bumiaji kini lebih sadar bahwa menjaga lahan hijau dan tegakan pohon bukan sekadar isu lingkungan, tetapi kebutuhan vital untuk keselamatan. Setiap keputusan mengubah fungsi lahan harus mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap kerentanan bencana.
Pada akhirnya, kerja sama antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci mencegah bencana serupa. Penegakan aturan tata ruang harus berjalan beriringan dengan kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan demi keselamatan bersama.




