Cikadu.id – Pemerintah Kota Pekalongan, Jawa Tengah, mencatat 254 warga masih bertahan di lokasi pengungsian akibat banjir yang melanda wilayah Pabean. Banjir ini terjadi setelah tanggul Sungai Bremi jebol pada Kamis (26/3/2026), menyebabkan air sungai meluap dan merendam kawasan permukiman.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Kota Pekalongan, Budi Suheryanto, menyampaikan laporan ini pada Senin (30/3/2026). Ratusan warga terdampak masih menunggu genangan air surut sepenuhnya sebelum kembali ke rumah masing-masing.
Menariknya, kondisi cuaca saat tanggul jebol justru cerah tanpa hujan. Namun, debit air Sungai Bremi meningkat drastis dan mengakibatkan kerusakan struktur tanggul sepanjang sekitar 15 meter, dengan lebar tiga meter dan tinggi dua meter.
Kronologi Tanggul Jebol dan Banjir Pasirsari
Tanggul sisi timur Sungai Bremi mulai jebol pada Kamis (26/3) di wilayah Pabean. Akibatnya, air sungai langsung meluap dan menggenangi kawasan Pasirsari, Kelurahan Pasirkratonkramat, dalam hitungan jam.
Selanjutnya, pada Jumat (27/3), debit air semakin meningkat dan memaksa ratusan warga untuk segera mengungsi. Genangan air merendam permukiman warga dengan ketinggian bervariasi, menyebabkan aktivitas sehari-hari lumpuh total.
Budi Suheryanto menjelaskan bahwa pihaknya langsung bergerak cepat melakukan evakuasi. “Ratusan warga terdampak masih bertahan di lokasi pengungsian sambil menunggu kondisi genangan air benar-benar surut,” katanya.
Sebaran Lokasi Pengungsian dan Jumlah Korban
Para pengungsi banjir Pekalongan kini tersebar di empat titik lokasi yang pemerintah kota sediakan. Penyebaran ini bertujuan untuk memudahkan distribusi logistik dan layanan kesehatan bagi para korban banjir.
Berikut rincian sebaran pengungsi banjir Pekalongan 2026:
| Lokasi Pengungsian | Jumlah Pengungsi |
|---|---|
| Eks Aula Kelurahan Kraton Kidul | 116 jiwa |
| Aula Kelurahan Pasirkratonkramat | 79 jiwa |
| TPQ Madinatul Ulum | 50 jiwa |
| Aula Kecamatan Pekalongan Barat | 9 jiwa |
| Total | 254 jiwa |
Lokasi pengungsian terbesar berada di eks aula Kelurahan Kraton Kidul dengan 116 jiwa pengungsi. Sementara itu, aula Kecamatan Pekalongan Barat menampung jumlah paling sedikit, yaitu sembilan jiwa.
Perbaikan Tanggul dan Kondisi Terkini
Kabar baik datang dari proses perbaikan tanggul Pabean yang menunjukkan perkembangan positif. Budi menyampaikan bahwa perbaikan kini memasuki tahap akhir dan kondisi tanggul sudah jauh lebih stabil.
“Alhamdulillah tanggul Pabean sudah kami perbaiki, tinggal kami rapikan saja. Mudah-mudahan tidak jebol lagi dan kini tinggal menunggu air surut di wilayah Pasirsari dengan menggunakan bantuan pompa air,” jelasnya dengan optimis.
Oleh karena itu, pihak BPBD kini fokus pada upaya penyedotan genangan air menggunakan pompa. Langkah ini bertujuan mempercepat proses penurunan ketinggian air agar warga bisa segera kembali ke rumah masing-masing.
Meski begitu, pihak berwenang tetap memantau kondisi tanggul secara ketat. Hal ini penting untuk memastikan struktur tanggul benar-benar kuat dan tidak akan jebol kembali saat debit air meningkat.
Upaya Penanganan Terpadu Pemerintah Kota
Pemerintah Kota Pekalongan tidak bekerja sendirian dalam menangani bencana banjir ini. Berbagai pihak terlibat dalam koordinasi lintas sektor untuk mengoptimalkan penanganan darurat secara terpadu.
Sejumlah langkah strategis yang pemerintah kota jalankan meliputi:
- Pemantauan dan patroli kesiapsiagaan di kawasan rawan banjir untuk antisipasi dini
- Evakuasi warga ke lokasi pengungsian yang aman dan layak
- Asesmen dampak banjir untuk pemetaan kerusakan dan kebutuhan bantuan
- Koordinasi lintas sektor melibatkan berbagai instansi dan lembaga
- Aktivasi posko kebencanaan sebagai pusat komando penanganan
Tidak hanya itu, pemerintah juga melibatkan TNI, Polri, organisasi perangkat daerah (OPD), serta relawan dalam operasi penanganan bencana. “Selain itu, kami melakukan koordinasi lintas sektor guna mengoptimalkan penanganan darurat secara terpadu,” kata Budi.
Lebih dari itu, posko kebencanaan menyediakan layanan data dan informasi bagi warga terdampak. Pemerintah juga memastikan kebutuhan dasar para pengungsi terpenuhi dengan baik, termasuk logistik pangan dan layanan kesehatan.
Layanan Kesehatan dan Logistik untuk Pengungsi
Kebutuhan dasar para pengungsi banjir Pekalongan menjadi prioritas utama pemerintah kota. Setiap lokasi pengungsian mendapat pasokan logistik secara rutin untuk memastikan para korban banjir tidak kekurangan makanan dan kebutuhan sehari-hari.
Layanan kesehatan juga tersedia di setiap titik pengungsian. Tim medis standby untuk memberikan pertolongan pertama dan pemeriksaan kesehatan rutin, terutama bagi anak-anak dan lansia yang rentan terhadap penyakit.
Selain itu, pemerintah menyediakan layanan data dan informasi bagi warga yang membutuhkan bantuan atau ingin mengetahui perkembangan kondisi banjir. Transparansi informasi ini penting agar masyarakat tidak panik dan tetap tenang mengikuti arahan petugas.
Dengan demikian, penanganan banjir Pekalongan 2026 menunjukkan kerja sama yang solid antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat. Sinergi ini menjadi kunci keberhasilan dalam meminimalkan dampak bencana dan mempercepat proses pemulihan.
Pada akhirnya, pemerintah Kota Pekalongan berharap kondisi banjir segera pulih dan warga bisa kembali beraktivitas normal. Perbaikan infrastruktur tanggul juga akan terus pemerintah tingkatkan untuk mencegah kejadian serupa berulang di masa mendatang. Masyarakat juga perlu tetap waspada dan siap siaga menghadapi potensi bencana, terutama saat musim penghujan tiba.




