Cikadu.id – Ancaman kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada April 2026 kian menguat seiring lonjakan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah. Kombinasi dua faktor ini menciptakan tekanan berat terhadap biaya energi dan memicu spekulasi penyesuaian harga BBM dalam waktu dekat.
Dua ekonom senior memberikan pandangan serius soal kemungkinan kenaikan BBM bulan ini. Prediksi mereka menunjukkan bahwa baik BBM nonsubsidi maupun subsidi berpotensi mengalami penyesuaian harga yang cukup signifikan.
Prediksi Kenaikan BBM Nonsubsidi Hingga Rp2.000 per Liter
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira memperkirakan kenaikan harga BBM nonsubsidi akan lebih dulu terjadi dibanding jenis bersubsidi. Harga keekonomian yang terus meningkat menjadi pemicu utama penyesuaian ini.
Bhima menyebut Pertamax dan Pertamina Dex berpotensi naik sekitar Rp1.500 hingga Rp2.000 per liter. Angka ini setara dengan kenaikan sekitar 15 persen dari harga saat ini.
Namun, ekonom Celios ini memberikan peringatan keras soal risiko kenaikan yang terlalu tinggi. Ia khawatir masyarakat akan beralih massal ke BBM subsidi jika harga Pertamax melonjak terlalu tajam.
“Kalau naik terlalu tinggi bahaya ke pergeseran BBM subsidi. Nanti muncul penimbunan dan justru ganggu stok BBM bersubsidi seperti Pertalite dan solar subsidi,” ujar Bhima mengingatkan.
Beban APBN dan Cashflow Pertamina Terancam Bleeding
Tekanan terhadap harga BBM tidak bisa lepas dari beban fiskal yang semakin berat menghantam APBN 2026. Pemerintah menghadapi dilema berat jika harus terus menahan harga BBM di tengah kenaikan harga minyak global yang tidak terkendali.
Pilihan sulit ini menempatkan pemerintah pada posisi yang tidak menguntungkan. Di satu sisi, menaikkan harga BBM akan memicu inflasi dan protes publik. Di sisi lain, mempertahankan harga berarti mengorbankan kesehatan fiskal negara atau keuangan Pertamina.
BBM Subsidi Terancam Naik Rp500, Dampaknya Luar Biasa
Pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuaibi melihat peluang kenaikan BBM subsidi menjadi semakin besar jika tren harga minyak dan kurs rupiah terus berlanjut. Proyeksi rupiah yang mencapai Rp17.100 per dolar AS menjadi indikator kuat untuk penyesuaian harga.
“Kalau harga minyak mentahnya naik, kemungkinan besar BBM akan dinaikkan, apalagi rupiah melemah. Rupiah kemungkinan besar ini Rp17.100. Ini indikasi, suka tidak suka pemerintah harus menaikkan bahan bakar ini, terutama Pertalite,” ungkap Ibrahim.
Tanpa penyesuaian harga, risiko defisit anggaran akan semakin melebar tajam. Oleh karena itu, pemerintah kemungkinan besar perlu mengambil langkah pengetatan anggaran melalui kenaikan harga BBM bersubsidi.
Ibrahim memperkirakan Pertalite bisa naik dari Rp10.000 menjadi sekitar Rp10.500 per liter. Meski hanya Rp500, dampaknya akan luar biasa mengingat Pertalite menjadi BBM utama masyarakat kelas menengah ke bawah.
Untuk BBM nonsubsidi, Ibrahim menilai kenaikan hampir tidak terhindarkan dan dampaknya lebih terbatas. “Kalau nonsubsidi mah, mau naik selangit pun juga tidak jadi masalah. Yang ditakutkan itu BBM subsidi. Tapi Rp500 ini luar biasa dampaknya,” jelasnya tegas.
Harga Minyak Dunia Tembus US$115 per Barel
Lonjakan harga minyak dunia menjadi faktor utama di balik ancaman kenaikan BBM April 2026. Harga minyak mentah dunia melonjak hingga sekitar US$115 per barel dalam beberapa pekan terakhir.
Eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel memicu ketidakpastian pasokan energi global. Lebih dari itu, penutupan Selat Hormuz turut mengganggu distribusi minyak mentah dan mendorong harga naik tajam.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang memasok sekitar sepertiga dari total perdagangan minyak global lewat jalur laut. Penutupan atau gangguan di selat ini langsung berdampak pada harga energi dunia.
Kondisi geopolitik yang memanas ini menciptakan volatilitas tinggi di pasar energi. Bahkan, beberapa analis memperkirakan harga minyak bisa terus naik jika konflik tidak segera mereda.
Rupiah Melemah Mendekati Rp17.000 per Dolar AS
Selain harga minyak, pelemahan nilai tukar rupiah menjadi faktor penekan kedua terhadap harga BBM domestik. Rupiah melemah mendekati level Rp17.000 per dolar AS pada akhir Maret 2026.
Pelemahan ini memperbesar biaya impor energi Indonesia yang masih bergantung pada minyak mentah impor. Setiap pelemahan rupiah sebesar Rp100 per dolar AS berpotensi menambah beban subsidi energi ratusan miliar rupiah.
Akibatnya, tekanan terhadap anggaran negara semakin berat, khususnya untuk pos subsidi dan kompensasi energi. Pemerintah harus mengalokasikan lebih banyak dana untuk menutup selisih harga keekonomian dengan harga jual eceran.
Harga BBM Saat Ini Masih Bertahan Sejak Awal Maret 2026
Hingga akhir Maret 2026, harga BBM di Indonesia masih belum mengalami perubahan sejak penyesuaian terakhir pada awal bulan. Pertalite tetap dijual di harga Rp10.000 per liter dan solar subsidi Rp6.800 per liter.
Sementara itu, BBM nonsubsidi seperti Pertamax berada di kisaran Rp12.300 per liter. Harga ini sudah bertahan selama beberapa pekan meski tekanan dari harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah terus meningkat.
Menariknya, sejumlah negara di Asia Tenggara telah lebih dulu menaikkan harga BBM dalam beberapa pekan terakhir. Mereka mengikuti tren kenaikan harga minyak global untuk menjaga kesehatan fiskal dan menghindari defisit anggaran yang membengkak.
Langkah negara-negara tetangga ini menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia mungkin tidak bisa menahan harga BBM lebih lama lagi. Penyesuaian harga tampaknya hanya menunggu waktu dan keputusan politik dari pemerintah.
Publik kini menanti kepastian dari pemerintah soal kebijakan harga BBM April 2026. Transparansi dan komunikasi yang baik akan sangat penting untuk meredam gejolak sosial jika penyesuaian harga akhirnya dilakukan.




