Blue Bird Raih Pendapatan Rp 5,7 T di 2026

Blue Bird Raih Pendapatan Rp 5,7 T di 2026

Blue Bird Raih Pendapatan Rp 5,7 T di 2026

Cikadu.id – PT Blue Bird Tbk membukukan pendapatan sebesar Rp 5,7 triliun sepanjang tahun buku 2025. Capaian ini menandai pertumbuhan 13,2 persen secara tahunan (year on year) dan menjadi kinerja keuangan tertinggi sejak era disrupsi teknologi melanda industri transportasi nasional.

Direktur Utama Blue Bird Andrianto Djokosoetono, yang akrab disapa Andre, menyampaikan pencapaian tersebut mencerminkan kinerja solid di seluruh lini bisnis. Baik segmen taksi maupun non-taksi secara kolektif mendorong pertumbuhan pendapatan perusahaan berkode saham BIRD ini.

“Pada tahun buku 2025, kami mencatatkan kinerja keuangan tertinggi sejak disrupsi teknologi. Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp 5,7 triliun, tumbuh 13,2 persen secara tahunan,” ungkap Andre dalam keterangan resmi pada Selasa, 31 Maret 2026.

Profitabilitas Blue Bird Melesat di 2026

Dari sisi profitabilitas, Blue Bird mencatat EBITDA sebesar Rp 1,34 triliun. Sementara itu, laba bersih perusahaan mencapai Rp 643,4 miliar, yang masing-masing mengalami pertumbuhan dibandingkan tahun sebelumnya.

Meski begitu, Andre tidak merinci jumlah EBITDA maupun laba bersih di tahun sebelumnya untuk perbandingan. Namun, ia menegaskan kinerja tersebut menunjukkan perseroan tidak hanya berhasil beradaptasi di tengah disrupsi industri.

Bahkan, perusahaan mampu tumbuh melampaui capaian pada era sebelum kehadiran ride-hailing. Konsistensi kualitas layanan menjadi fondasi utama bisnis Blue Bird dalam meraih pencapaian ini.

Investasi Berkelanjutan untuk Ekspansi Armada

Andre menilai pencapaian pendapatan Blue Bird mencerminkan konsistensi kinerja di tengah investasi berkelanjutan. Perseroan fokus pada peremajaan armada, peningkatan kesiapan layanan, serta pengembangan kapabilitas digital.

Baca Juga:  Mudik Lebaran 2026 Didominasi Kendaraan Listrik, Infrastruktur Siap Sedia

“Saat ini, kami secara kontinyu melakukan akselerasi untuk memperkuat posisi sebagai perusahaan mobility-as-a-service yang menghadirkan solusi mobilitas multimoda,” jelas Andre.

Sepanjang 2025, perusahaan mengoptimalkan kapasitas layanan melalui penambahan sekitar 1.800 armada. Dengan demikian, total armada Blue Bird kini mencapai lebih dari 26.000 unit, termasuk armada listrik yang ramah lingkungan.

Selain itu, ekspansi jaringan operasional turut perusahaan lakukan melalui peningkatan jumlah pool menjadi 58 lokasi. Perluasan pangkalan juga mencapai lebih dari 1.300 titik strategis di berbagai kota di Indonesia.

Digitalisasi Dorong Pertumbuhan Transaksi

Penguatan kanal digital menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan pendapatan Blue Bird di 2026. Aplikasi MyBluebird mencatatkan peningkatan pengguna lebih dari 30 persen sepanjang tahun lalu.

Kontribusi pemesanan melalui aplikasi mencapai sekitar 40 persen dari total transaksi perusahaan. Angka ini menunjukkan transformasi digital Blue Bird berjalan efektif dalam menjangkau pelanggan.

Fitur Fixed Price juga menunjukkan pertumbuhan penggunaan hingga dua kali lipat. Nah, lonjakan ini mencerminkan preferensi pelanggan terhadap kepastian tarif dalam menggunakan layanan transportasi.

“Selain itu, fitur Fixed Price juga menunjukkan pertumbuhan penggunaan hingga dua kali lipat, mencerminkan preferensi pelanggan terhadap kepastian tarif,” kata Andre.

Komitmen Blue Bird terhadap Kendaraan Listrik

Andre menegaskan komitmen Blue Bird terhadap keberlanjutan lingkungan masih terus perusahaan jalankan. Sepanjang 2025, perseroan menambah armada kendaraan listrik untuk layanan Bluebird dan Goldenbird.

Operasional armada listrik ini meliputi berbagai kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan. Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong transisi energi menuju transportasi yang lebih ramah lingkungan.

Penggunaan kendaraan listrik tidak hanya mengurangi emisi karbon, tetapi juga memberikan pengalaman berkendara yang lebih nyaman bagi pelanggan. Faktanya, armada listrik Blue Bird mulai mendapat respons positif dari pengguna layanan di berbagai kota.

Baca Juga:  Repo Valas BI: Strategi Baru Jaga Rupiah 2026

Strategi Blue Bird Memasuki 2026

Memasuki 2026, Blue Bird menetapkan arah strategi perusahaan dengan tema “Gerak Cepat, Layan Tepat, Tumbuh Pesat”. Strategi ini menjadi respons terhadap dinamika industri dan ekspektasi pelanggan yang terus berkembang.

Perseroan akan fokus mempercepat pengembangan bisnis melalui ekspansi yang lebih adaptif ke kota-kota strategis. Sekaligus, Blue Bird akan memperkuat ekosistem layanan sesuai dengan karakter masing-masing wilayah operasional.

Blue Bird juga akan mendorong penciptaan permintaan baru melalui optimalisasi berbagai saluran distribusi. Oleh karena itu, perusahaan akan memaksimalkan kanal digital milik sendiri maupun kemitraan yang perusahaan perluas melalui platform digital.

Titik layanan di lokasi strategis juga akan perusahaan tingkatkan untuk memudahkan akses pelanggan. Dengan strategi komprehensif ini, Blue Bird optimis dapat mempertahankan posisinya sebagai pemimpin industri transportasi nasional.

Pencapaian pendapatan Blue Bird sebesar Rp 5,7 triliun di tahun buku 2025 membuktikan kemampuan adaptasi perusahaan di era digital. Kombinasi antara investasi armada, digitalisasi layanan, dan komitmen keberlanjutan menjadi kunci sukses pertumbuhan perusahaan taksi legendaris ini.

Salsabilla Putri

Penulis di Cikadu.id