Dokter Meninggal Campak Cianjur Tetap Bertugas

Dokter Meninggal Campak Cianjur Tetap Bertugas

Dokter Meninggal Campak Cianjur Tetap Bertugas

Cikadu.id – Seorang dokter internship berinisial AMW (25 tahun) yang menjalani magang di RSUD Pagelaran, Cianjur, meninggal dunia setelah terpapar campak pada Kamis (26/3/2026). Dokter muda ini diduga tetap bertugas menangani pasien meskipun sudah merasakan gejala campak sejak beberapa hari sebelumnya.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, Andi Saguni, mengungkapkan hasil penelusuran awal menunjukkan korban kemungkinan sudah terinfeksi virus campak sebelum 18 Maret 2026. Tanggal tersebut merupakan hari pertama kali gejala muncul pada tubuh korban.

“Berdasarkan penelusuran, yang bersangkutan kemungkinan sudah terinfeksi sebelum tanggal 18 Maret,” ungkap Andi dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (30/3/2026).

Kronologi Gejala Awal Dokter Meninggal Campak

Pada 18 Maret 2026, AMW mulai merasakan gejala awal berupa demam, flu, dan batuk. Kondisi tersebut membuatnya meminta izin untuk tidak berdinas dan mendapat persetujuan untuk beristirahat dari pihak rumah sakit.

Namun, keputusan berbeda korban ambil pada 19 hingga 21 Maret 2026. Selama tiga hari berturut-turut, AMW tetap masuk kerja dan menjalani tugas sebagai dokter internship, termasuk menangani pasien campak secara langsung.

Alasan yang korban sampaikan cukup sederhana: ia merasa tubuhnya masih fit untuk bertugas. Meski begitu, kondisi kesehatan AMW terus mengalami penurunan secara bertahap.

Ruam Muncul Tapi Tetap Bertugas di IGD

Memasuki 21 Maret 2026, ruam mulai muncul pada kulit AMW. Gejala khas campak ini seharusnya menjadi tanda peringatan untuk segera beristirahat total.

Baca Juga:  Kongres PIKI 2026: Konsolidasi Nasional dan Pembaruan AD/ART

Akan tetapi, dokter muda ini masih tetap bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) untuk menangani pasien suspek campak. Barulah setelah itu, ia mengajukan cuti karena merasakan kondisi kesehatannya terus menurun.

Pada 24 Maret 2026, AMW menginformasikan kepada rekan-rekan sejawatnya melalui pesan WhatsApp bahwa dirinya positif terkena campak. Pesan tersebut juga menyebutkan munculnya ruam di seluruh tubuh.

Kondisi Memburuk Drastis dalam Hitungan Jam

Kondisi kesehatan AMW memburuk dengan sangat cepat. Pada 25 Maret 2026 pukul 22.00 WIB, pihak keluarga membawa korban ke IGD RS Cianjur dalam kondisi penurunan kesadaran sejak satu jam sebelumnya.

Saat tiba di rumah sakit, kondisi AMW sangat mengkhawatirkan. Hasil pemeriksaan menunjukkan korban mengalami akral dingin dengan tekanan darah hanya 90/60 mmHg.

Selain itu, denyut nadi korban mencapai 144 kali per menit, jauh di atas normal. Yang paling mengkhawatirkan, saturasi oksigen AMW tercatat sangat rendah, hanya 35 persen.

Tim medis segera memberikan bantuan oksigen melalui sungkup dengan kapasitas 15 liter per menit. Namun, saturasi oksigen korban hanya meningkat menjkin 50 persen, masih jauh dari angka normal.

Perawatan Intensif Hingga Detik Terakhir

Pada Kamis (26/3/2026) dini hari pukul 00.30 WIB, pasien dirujuk ke ruang ICU untuk mendapatkan perawatan intensif. Tim medis berupaya maksimal untuk menstabilkan kondisi AMW.

Kemudian pada pukul 08.15 WIB, dokter melakukan tindakan intubasi untuk membantu pernapasan korban. Tindakan medis ini merupakan upaya terakhir untuk menyelamatkan nyawa dokter muda tersebut.

Sayangnya, semua upaya medis tidak membuahkan hasil. Pada Kamis siang pukul 11.30 WIB, AMW dinyatakan meninggal dunia oleh tim medis yang menanganinya.

Diagnosis Akhir dan Konfirmasi Laboratorium

Andi Saguni menjelaskan diagnosis akhir menunjukkan AMW meninggal akibat campak dengan komplikasi serius pada jantung dan otak. Komplikasi inilah yang membuat kondisi korban memburuk sangat cepat.

Baca Juga:  Kepatuhan LHKPN DPR Cuma 55%, Terendah 2026

Sehari setelah kematian AMW, tepatnya pada 27 Maret 2026, Kementerian Kesehatan bersama Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat melakukan penelusuran epidemiologis secara menyeluruh.

Hasil pemeriksaan laboratorium dari Bio Farma keluar pada 28 Maret 2026. Hasil tersebut mengonfirmasi bahwa AMW positif terinfeksi virus campak.

Peringatan Penting untuk Tenaga Kesehatan

Andi Saguni menegaskan kasus kematian dokter meninggal campak ini menjadi pengingat penting bagi seluruh tenaga kesehatan di Indonesia. Pesan ini harus seluruh lembaga kesehatan dan pemangku kepentingan patuhi dengan ketat.

“Tenaga kesehatan yang sudah bergejala sebaiknya tidak bertugas terlebih dahulu untuk mencegah penularan dan risiko perburukan kondisi,” tegas Andi.

Tragedi ini menyoroti pentingnya protokol kesehatan bagi tenaga medis. Meskipun dedikasi tinggi patut diapresiasi, kesehatan dan keselamatan tenaga kesehatan harus menjadi prioritas utama.

Kasus ini juga mengingatkan bahwa campak bukan penyakit ringan. Virus ini dapat menyebabkan komplikasi serius, bahkan kematian, terutama pada orang dewasa yang sistem imunnya sedang lemah atau belum mendapat imunisasi lengkap.

Pemerintah terus mengimbau masyarakat untuk melengkapi imunisasi campak, terutama bagi mereka yang berisiko tinggi terpapar virus ini. Pencegahan melalui vaksinasi tetap menjadi cara paling efektif untuk menghindari tragedi serupa di masa mendatang.

Salsabilla Putri

Penulis di Cikadu.id