Cikadu.id – PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menegaskan komitmen perusahaan untuk mendukung program transisi energi hijau pemerintah. Wakil Presiden Direktur DSSA Lokita Prasetya mengungkapkan strategi penguatan portofolio Energi Baru Terbarukan (EBT), khususnya pada sektor panas bumi dan tenaga surya.
Lokita menyampaikan pendekatan tersebut saat menggelar media gathering di Jakarta pada Kamis (2/4/2026). Perusahaan fokus menjaga keandalan pasokan energi sembari mengembangkan sumber energi rendah emisi sebagai strategi jangka panjang.
“Pendekatan kami adalah menjaga keandalan pasokan energi saat ini, sekaligus secara bertahap mengembangkan sumber energi yang lebih rendah emisi sebagai bagian dari strategi jangka panjang Perseroan,” ujar Lokita.
Pabrik Panel Surya 1 GW dan Roadmap Upstream
DSSA mewujudkan komitmen energi hijau melalui pengoperasian pabrik panel surya terintegrasi berkapasitas 1 GW di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal. Lokita menyebutkan perusahaan akan mengembangkan bisnis panel surya secara vertikal, mulai dari solar cell hingga arah upstream.
“Ke depan kita akan mengembangkan bisnis solar panel ini, baik dari solar cell, bahkan mungkin kita membuat roadmap ke depan ke arah upstream untuk mendukung transisi energi dan ketahanan energi yang dicanangkan oleh Pak Prabowo,” terang Lokita merujuk Presiden RI Prabowo Subianto.
Namun, Lokita berharap pemerintah memberikan dukungan untuk pengembangan industri panel surya dalam negeri seperti yang India lakukan. Misalnya, dalam hal pengaturan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) hingga pembatasan impor.
Dengan demikian, pemain lokal bisa bersaing dan menjadi raja di negeri sendiri. Langkah ini strategis untuk memperkuat daya saing industri panel surya nasional.
Proyek Geothermal 440 MW dengan Investasi Rp34 Triliun
Selain panel surya, DSSA juga mengembangkan proyek panas bumi melalui PT DSSR Daya Mas Sakti. Perusahaan memiliki total potensi mencapai 440 MW dan kini tengah mengakselerasi eksplorasi di enam wilayah strategis.
Wilayah eksplorasi tersebut meliputi Cisolok dan Cipanas di Jawa Barat, serta Sumatera, Flores, dan Sulawesi Tengah. Menurut Lokita, langkah ini menjadi strategis mengingat Indonesia memiliki sekitar 40 persen potensi panas bumi global.
Panas bumi merupakan sumber baseload energi hijau paling andal dalam jangka panjang. Oleh karena itu, perusahaan menjalin kemitraan strategis dengan PT FirstGen Geothermal Indonesia, anak usaha Energy Development Corporation (EDC), untuk memperkuat kapabilitas teknis dan operasional.
Direktur DSSA Daniel Cahya memperkirakan proyek geothermal tersebut akan menelan investasi US$2 miliar atau sekitar Rp34 triliun (asumsi kurs Rp17 ribu per dolar AS) hingga 2029. “Porsi financing-nya 75 persen debt, 25 persen dari equity,” ujar Daniel.
Elektrifikasi Armada untuk Green Mining
Sektor energi akan tetap menjadi fondasi bisnis anak usaha Sinar Mas ini dengan fokus pada operasional yang efisien dan berkelanjutan. DSSA mewujudkan strategi tersebut melalui penguatan sustainable mining practices.
Mulai dari peningkatan efisiensi energi hingga pengelolaan lingkungan yang terintegrasi, perusahaan mengimplementasikan berbagai langkah konkret. Salah satunya adalah akselerasi elektrifikasi armada operasional (EV fleets) di PT Borneo Indobara (BIB).
Inisiatif tersebut tidak hanya memangkas biaya operasional, tetapi juga memelopori transisi menuju green mining di sektor pertambangan. Dengan adopsi teknologi ini, perusahaan memastikan operasional tetap relevan dengan kebutuhan energi masa depan.
Akibatnya, DSSA secara aktif menekan emisi karbon sambil meningkatkan efisiensi operasional tambang. Langkah ini sejalan dengan komitmen global untuk mengurangi jejak karbon industri pertambangan.
Transformasi Digital Berbasis AI dengan iFLYTEK
Seiring pertumbuhan ekonomi digital, DSSA terus memperkuat bisnis di sektor infrastruktur digital dan teknologi. Perusahaan fokus mendukung kebutuhan konektivitas dan pengelolaan data di Indonesia.
DSSA memperkuat langkah strategis melalui kemitraan dengan iFLYTEK untuk mengakselerasi transformasi digital berbasis AI di Indonesia. Kemitraan ini mencakup pengembangan berbagai solusi AI (AI use-case) dan kapabilitas analitik berbasis LLM (Large Language Model) SPARK.
Sinergi tersebut perusahaan rancang untuk menghadirkan ekosistem digital yang lebih cerdas dan efisien di berbagai sektor industri. Terutama di kesehatan (healthcare), pendidikan (education), dan infrastruktur telekomunikasi serta digital.
Jaringan Fiber Optic 57 Ribu KM dan 24 Edge Data Center
Saat ini, DSSA mengoperasikan jaringan fiber optic sekitar 57 ribu kilometer dengan lebih dari 9 juta homepass. Perusahaan melayani sekitar 1 juta pelanggan broadband melalui MyRepublic Indonesia.
Skala ini menjadi fondasi untuk memperluas akses digital di berbagai wilayah. Tidak hanya itu, penguatan infrastruktur juga perusahaan dukung oleh pengembangan jaringan data center nasional.
DSSA membangun 24 Edge Data Center di 23 pasar strategis dari Medan hingga Manado. Jaringan ini memastikan pemrosesan data dengan latensi rendah untuk mendukung kebutuhan digital masyarakat.
Selain itu, perusahaan juga tengah menyiapkan Flagship Hub Jakarta SMX01, sebuah fasilitas Tier-IV AI-ready berkapasitas awal 18 MW. Fasilitas berlokasi di jantung CBD Jakarta ini perusahaan jadwalkan mulai beroperasi pada semester II 2026.
Potensi Pasar dan Stock Split 1:25
Pasar fixed broadband sendiri analis proyeksikan tumbuh sekitar 10 persen setiap tahun dalam beberapa tahun ke depan. Menariknya, pertumbuhan ini sejalan dengan peningkatan kebutuhan digital masyarakat Indonesia.
Sepanjang 2026, DSSA menjalankan sejumlah langkah strategis untuk memperkuat struktur bisnis. Termasuk rencana stock split 1:25 yang perusahaan eksekusi pada 9 April 2026 mendatang.
Langkah stock split tersebut perusahaan harapkan dapat meningkatkan likuiditas saham dan membuka akses lebih luas bagi investor ritel. Dengan demikian, DSSA semakin solid dalam menjalankan transformasi menuju perusahaan energi hijau dan infrastruktur digital terkemuka di Indonesia.




