Ekspor Urea 2026: RI Prioritaskan Kebutuhan Domestik

Ekspor Urea 2026: RI Prioritaskan Kebutuhan Domestik

Ekspor Urea 2026: RI Prioritaskan Kebutuhan Domestik

Cikadu.id – PT Pupuk Indonesia (Persero) menegaskan ekspor pupuk urea baru akan dilakukan setelah kebutuhan domestik terpenuhi sepenuhnya. Direktur Utama Rahmad Pribadi menyampaikan hal ini usai mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta pada Kamis lalu.

Kebijakan ini muncul di tengah lonjakan permintaan global akibat krisis geopolitik Timur Tengah yang mengganggu jalur pasokan pupuk dunia. Indonesia kini menjadi incaran berbagai negara yang mengalami kelangkaan urea.

Rahmad menyebut Indonesia masih memiliki kapasitas untuk membantu negara-negara tetangga yang terdampak penutupan Selat Hormuz. Namun, prioritas utama tetap menjaga ketersediaan pasokan untuk petani dalam negeri.

Kapasitas Produksi Urea Nasional Capai 8,8 Juta Ton

Produksi urea nasional saat ini mencapai kapasitas operasional 8,8 juta ton dari total kapasitas terpasang sebesar 9,4 juta ton. Angka ini menunjukkan tingkat utilisasi pabrik yang cukup optimal untuk memenuhi kebutuhan dalam dan luar negeri.

Selain itu, Indonesia memiliki keunggulan strategis karena sebagian besar kebutuhan pupuk petani berasal dari produksi sendiri. Kondisi ini membuat negara relatif aman meski harga urea global mengalami kenaikan drastis.

Bahkan, ketergantungan terhadap impor pupuk sangat minimal. Dengan demikian, gejolak harga internasional tidak langsung berdampak signifikan pada harga jual domestik yang masih mendapat subsidi pemerintah.

Harga Urea Global Melonjak Hingga 800 Dolar AS per Ton

Harga pupuk urea di pasar internasional mengalami lonjakan tajam sepanjang kuartal pertama 2026. Rahmad mencatat harga melonjak dari 400 dolar AS per ton menjadi 800 dolar AS per ton dalam hitungan minggu.

Baca Juga:  MoU Migas Indonesia-Korea 2026: Perkuat Industri Offshore

Kenaikan ini dipicu oleh gangguan jalur perdagangan di Selat Hormuz akibat konflik Timur Tengah yang berkepanjangan. Selat ini merupakan jalur vital bagi sekitar 30 persen pasokan pupuk dunia, sehingga penutupannya langsung menggoyang rantai pasok global.

Lebih dari itu, harga pupuk urea mencapai 690 dolar AS per ton pada awal April 2026. Angka ini jauh melonjak dibandingkan harga awal Januari 2026 yang hanya berkisar antara 350 hingga 380 dolar AS per ton.

Akibatnya, banyak negara importir kesulitan mendapatkan pasokan dengan harga terjangkau. Mereka pun melirik Indonesia sebagai alternatif pemasok yang lebih stabil dan terpercaya.

Kuota Ekspor Pupuk Urea Indonesia Sebesar 1,5 Juta Ton

Pupuk Indonesia menetapkan kuota ekspor urea sekitar 1,5 juta ton untuk tahun 2026. Namun, penyaluran ekspor ini bersifat fleksibel dan akan mengikuti kondisi pasokan domestik secara real-time.

Jadi, jika kebutuhan dalam negeri meningkat tiba-tiba, kuota ekspor bisa dikurangi atau bahkan ditunda sementara. Prioritas utama tetap memastikan petani Indonesia tidak mengalami kelangkaan pupuk di musim tanam.

Negara tujuan ekspor pupuk urea Indonesia meliputi Australia, India, dan beberapa negara lainnya. Menariknya, Australia yang biasanya menjadi produsen justru kini membutuhkan pasokan dari Indonesia akibat gangguan distribusi global.

Permintaan dari India, Brasil, Australia, dan Filipina Meningkat Tajam

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono sebelumnya mengungkapkan sejumlah negara menunjukkan minat besar untuk mengimpor pupuk dari Indonesia. Negara-negara tersebut termasuk India, Brasil, Australia, dan Filipina.

Ternyata, krisis geopolitik Timur Tengah berdampak luas hingga ke sektor pertanian global. Banyak negara yang biasanya bergantung pada pasokan dari Timur Tengah atau Eropa Timur kini harus mencari alternatif baru.

Oleh karena itu, Indonesia melihat peluang ekonomi yang cukup besar dari situasi ini. Ekspor pupuk urea dengan harga premium bisa memberikan devisa signifikan bagi negara, sekaligus memperkuat posisi Indonesia di pasar komoditas global.

Baca Juga:  Keadilan Ekonomi Perintah Iman, Bukan Teori - Menkop 2026

Tidak hanya itu, langkah ini juga menunjukkan kapasitas industri pupuk nasional yang sudah cukup matang. Indonesia tidak lagi hanya menjadi konsumen, tetapi juga mampu menjadi pemasok penting di kawasan Asia-Pasifik.

Indonesia Berpotensi Jadi Stabilisator Pasokan Pupuk Dunia

Sudaryono menambahkan Indonesia berpotensi besar menjadi stabilisator pasokan pupuk dunia di tengah krisis ini. Namun, syarat utamanya adalah kebutuhan domestik harus tercukupi lebih dulu sebelum melakukan ekspor besar-besaran.

Faktanya, Indonesia memiliki keunggulan geografis dan sumber daya yang memadai untuk meningkatkan produksi jika diperlukan. Pabrik-pabrik pupuk nasional masih memiliki ruang untuk optimalisasi hingga mencapai kapasitas terpasang penuh.

Selanjutnya, pemerintah juga terus memantau dinamika harga dan pasokan pupuk secara berkala. Koordinasi antara Kementerian Pertanian, Kementerian BUMN, dan Pupuk Indonesia menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan domestik dan peluang ekspor.

Pada akhirnya, kebijakan ekspor yang hati-hati ini mencerminkan komitmen pemerintah untuk melindungi sektor pertanian dalam negeri. Petani Indonesia tidak boleh menjadi korban dari gejolak geopolitik global yang berada di luar kendali mereka.

Langkah Pupuk Indonesia mengutamakan kebutuhan domestik sebelum ekspor urea menunjukkan kebijakan yang matang dan bertanggung jawab. Di tengah lonjakan harga global hingga 800 dolar AS per ton dan gangguan pasokan akibat konflik Timur Tengah, Indonesia justru memperkuat ketahanan pangan nasional sambil memanfaatkan peluang ekonomi secara selektif.

Dengan kapasitas produksi 8,8 juta ton dan kuota ekspor fleksibel 1,5 juta ton, Indonesia membuktikan mampu menjadi pemain penting di pasar pupuk regional tanpa mengorbankan kepentingan petani lokal. Strategi ini berpotensi menjadikan Indonesia sebagai stabilisator pasokan pupuk dunia yang kredibel dan terpercaya.

Salsabilla Putri

Penulis di Cikadu.id