Cikadu.id – Harga BBM 2026 melonjak tajam di sejumlah negara seiring eskalasi konflik AS-Israel-Iran yang mengganggu pasokan energi global. Beberapa stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Inggris bahkan mengalami kendala pasokan sementara pada Jumat (27 Maret 2026), menurut laporan Anadolu Agency yang dirilis Sabtu (28 Maret 2026).
Gangguan pasokan ini terjadi karena lalu lintas melalui Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia, hampir terhenti akibat perang. Kondisi ini terus menekan pasokan dan mendorong harga minyak serta gas ke level yang mengkhawatirkan.
Kenaikan harga bahan bakar ini memaksa konsumen menanggung beban finansial lebih berat. Bahkan, permintaan yang melonjak justru memperparah kelangkaan di berbagai wilayah.
Inggris Hadapi Kelangkaan BBM dan Lonjakan Harga Ekstrem
Harga bensin di Inggris menembus angka 1,5 poundsterling per liter atau setara USD 7,25 per galon sejak perang meletus. Angka ini mencatat kenaikan sekitar 15% dibandingkan harga sebelum konflik terjadi.
Sementara itu, harga solar mencapai level yang lebih tinggi lagi, yakni 1,77 poundsterling per liter (USD 8,54 per galon). Lonjakan drastis ini memukul keras sektor transportasi dan logistik yang sangat bergantung pada bahan bakar diesel.
Allan Leighton, CEO Asda—salah satu jaringan ritel terbesar di Inggris—mengonfirmasi bahwa sebagian kecil SPBU perusahaannya menghadapi kendala sementara. “Kami melihat peningkatan permintaan yang sangat kuat karena volatilitas harga,” ungkap Leighton.
Ia menambahkan bahwa volume penjualan bahan bakar meningkat secara signifikan dalam beberapa hari terakhir. Permintaan yang melampaui pasokan menciptakan situasi sulit bagi operator SPBU.
“Jelas, permintaan telah melampaui pasokan. Pasokan terbatas, dan kami semua bekerja keras untuk mengatasi ini. Masalah ini bersifat sementara. Mungkin akan ada beberapa gangguan selama periode pengiriman, dan kami memperkirakan ini akan berlanjut untuk beberapa waktu,” jelas Leighton.
Uni Eropa Catat Kenaikan Harga Diesel Hampir 30 Persen
Situasi di Uni Eropa tidak kalah memprihatinkan. Menurut data IRU.org, rata-rata harga diesel tertimbang di seluruh kawasan Uni Eropa mencapai 2,12 euro per liter pada 26 Maret 2026.
Angka tersebut menunjukkan kenaikan drastis sebesar 29% sejak awal perang meletus. Lonjakan hampir 30 persen ini memukul industri transportasi komersial yang mengoperasikan armada truk dan kendaraan berat.
Kenaikan harga BBM 2026 di Eropa memaksa banyak operator transportasi mengevaluasi ulang biaya operasional mereka. Sebagian bahkan mulai menaikkan tarif jasa pengiriman untuk menutupi kenaikan biaya bahan bakar.
Berbagai Negara Ambil Langkah Mitigasi Harga BBM
Pemerintah di berbagai negara Uni Eropa mulai mengambil langkah konkret untuk meredam dampak kenaikan harga. Langkah-langkah ini mencakup dukungan finansial untuk operator transportasi dan upaya memastikan pasokan yang memadai.
Dalam hal mitigasi harga, empat negara memutuskan menerapkan pembatasan harga sementara. Kroasia, Hongaria, Slovakia, dan Slovenia memberlakukan kebijakan ini untuk melindungi daya beli masyarakat dari gejolak harga global.
Selain itu, beberapa negara memilih opsi memangkas pajak cukai sebagai strategi menurunkan beban konsumen. Kroasia, Hongaria, Irlandia, Italia, dan Portugal melakukan pemotongan pajak cukai—meski dalam jumlah terbatas—untuk meringankan tekanan harga di tingkat konsumen.
Langkah-langkah ini menunjukkan keseriusan pemerintah Eropa dalam merespons krisis energi. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada berapa lama gangguan pasokan global berlangsung.
Selat Hormuz: Titik Kritis Pasokan Energi Dunia
Selat Hormuz memegang peran vital dalam rantai pasokan energi global. Jalur strategis ini menjadi jalur lewat kapal tanker yang mengangkut minyak dan gas dari Timur Tengah ke berbagai belahan dunia.
Pecahnya perang AS-Israel-Iran membuat lalu lintas melalui selat ini hampir terhenti sepenuhnya. Kondisi ini langsung berdampak pada pasokan energi global dan memicu kepanikan di pasar komoditas.
Gangguan di Selat Hormuz tidak hanya mempengaruhi harga minyak mentah, tetapi juga produk turunannya seperti bensin dan solar. Efek domino ini terasa hingga ke konsumen akhir di berbagai negara.
Ketidakpastian geopolitik membuat trader dan analis energi memprediksi harga akan terus bergejolak. Banyak pihak memperkirakan kenaikan harga BBM 2026 akan berlanjut selama konflik masih berkecamuk.
Dampak Ekonomi dan Tantangan ke Depan
Lonjakan harga bahan bakar menciptakan efek berantai pada berbagai sektor ekonomi. Industri transportasi, logistik, manufaktur, hingga pertanian merasakan tekanan biaya operasional yang meningkat tajam.
Kenaikan harga BBM 2026 juga berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi di banyak negara. Biaya transportasi yang naik akan ditransfer ke harga barang konsumsi, membebani daya beli masyarakat.
Pemerintah di berbagai negara menghadapi dilema: menjaga stabilitas harga atau mengalokasikan anggaran untuk subsidi bahan bakar. Subsidi yang terlalu besar bisa membebani keuangan negara, sementara tidak bertindak bisa memicu keresahan sosial.
Operator SPBU seperti Asda terus berupaya mengelola pasokan dan distribusi dengan lebih efisien. Namun, mereka mengakui bahwa solusi jangka panjang hanya bisa datang dari stabilisasi situasi geopolitik di Timur Tengah.
Volatilitas harga yang tinggi membuat banyak konsumen mulai mencari alternatif. Minat terhadap kendaraan listrik dan transportasi publik meningkat seiring ketidakpastian harga bahan bakar fosil.
Krisis energi global akibat perang AS-Israel-Iran menunjukkan betapa rentannya sistem pasokan energi dunia terhadap gangguan geopolitik. Harga BBM 2026 yang melonjak di Inggris dan Uni Eropa menjadi bukti nyata dampak konflik tersebut. Langkah mitigasi yang cepat dan koordinasi internasional menjadi kunci untuk meredam dampak krisis ini terhadap ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.




