Cikadu.id – Harga emas mencatat penurunan bulanan terburuk dalam 13 tahun terakhir. CNBC melaporkan pada Rabu, 1 April 2026, harga emas menutup perdagangan pada level USD 4.678,60 per troy ounce setelah naik lebih dari 2 persen pada hari tersebut.
Meski sempat menguat di akhir bulan, Maret 2026 menjadi bulan yang suram bagi investor emas. Logam mulia ini turun lebih dari 10 persen sepanjang Maret, menandai penurunan bulanan terbesar sejak Juni 2013 dan mengakhiri tren kenaikan selama delapan bulan berturut-turut.
Volatilitas pasar komoditas global kembali menjadi sorotan seiring ketidakpastian geopolitik yang masih membayangi. Perang dagang dan konflik militer turut memberi tekanan pada harga logam mulia yang biasanya menjadi aset safe haven.
Penurunan Harga Emas Maret 2026 Terbesar dalam 13 Tahun
Bulan Maret 2026 mencatat sejarah kelam bagi pasar emas global. Penurunan lebih dari 10 persen dalam satu bulan merupakan kejadian yang terakhir kali terjadi pada Juni 2013.
Namun, pergerakan harian masih menunjukkan fluktuasi yang signifikan. Pada penutupan perdagangan Rabu kemarin, harga emas justru naik lebih dari 2 persen, mencerminkan sentimen pasar yang masih sangat dinamis.
Tren positif selama delapan bulan berturut-turut yang dimulai sejak Juli 2025 akhirnya terputus. Selain itu, koreksi tajam ini membuat banyak investor mulai mengevaluasi ulang strategi investasi mereka di logam mulia.
Perak Juga Anjlok Lebih Parah di Bulan Maret
Tidak hanya emas, perak juga mengalami tekanan jual yang lebih brutal selama Maret 2026. Meski harga perak naik lebih dari 6 persen pada hari Rabu dan ditutup pada level USD 74,92 per troy ounce, performa bulanannya jauh lebih mengkhawatirkan.
Faktanya, harga perak anjlok lebih dari 19 persen sepanjang Maret 2026. Penurunan ini mencatat kinerja bulanan terburuk sejak tahun 2011, melampaui bahkan penurunan emas yang sudah sangat dalam.
Tren kenaikan selama 10 bulan berturut-turut yang dinikmati perak sejak Mei 2025 akhirnya terhenti. Oleh karena itu, banyak analis pasar mulai mempertanyakan apakah koreksi ini merupakan awal dari bear market atau sekadar konsolidasi sehat.
Investor institusional dan ritel sama-sama merasakan dampak penurunan tajam ini. Bahkan, beberapa fund manager mulai melakukan profit taking setelah melihat volatilitas yang sangat tinggi di pasar logam mulia.
Kinerja Kuartal I 2026 Tetap Positif Meski Maret Merah
Menariknya, meski Maret 2026 menjadi bulan yang sangat buruk, kinerja kuartal pertama 2026 secara keseluruhan masih menunjukkan hasil positif. Data pasar menunjukkan harga emas masih naik lebih dari 7 persen untuk periode Januari hingga Maret 2026.
Sementara itu, harga perak juga masih mencatat kenaikan lebih dari 6 persen untuk kuartal pertama tahun ini. Dengan demikian, investor yang masuk di awal tahun masih bisa menikmati return positif meski harus melewati turbulensi di bulan Maret.
Kenaikan di dua bulan pertama tahun 2026 ternyata cukup kuat untuk mengimbangi penurunan tajam di Maret. Akibatnya, outlook jangka panjang untuk logam mulia masih dinilai relatif positif oleh sebagian analis pasar.
Pola ini mengingatkan pada siklus koreksi yang sehat dalam tren naik jangka panjang. Selain itu, fundamental ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian cenderung mendukung harga emas dan perak dalam jangka menengah-panjang.
Ketidakpastian Perang AS-Iran Pengaruhi Pasar Logam Mulia
Pergerakan harga emas dan perak yang volatil tidak bisa dilepaskan dari kondisi geopolitik global yang memanas. Perang AS-Iran yang telah memasuki minggu kelima menjadi faktor utama yang memicu ketidakpastian di pasar keuangan global.
Konflik militer ini membuat investor berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi, ketegangan geopolitik biasanya mendorong investor mencari safe haven seperti emas. Namun, di sisi lain, spekulasi akan penyelesaian konflik membuat pasar bergerak sangat fluktuatif.
Wall Street Journal melaporkan pada Senin malam bahwa perkembangan baru mulai muncul dari Washington. Presiden AS Donald Trump dilaporkan mengatakan kepada para ajudannya bahwa ia bersedia mengakhiri permusuhan militer terhadap Iran.
Bahkan, Trump menyatakan kesediaan untuk berdamai meski Selat Hormuz tetap sebagian besar tertutup. Pernyataan ini mengejutkan pasar mengingat Selat Hormuz merupakan jalur perdagangan minyak paling strategis di dunia.
Trump Ancam Serangan Meski Bersedia Berdamai
Meski menunjukkan sinyal damai, Presiden Trump tetap memberi ultimatum keras kepada Iran. Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump menyatakan bahwa Washington sedang dalam diskusi serius dengan para pejabat Iran.
Namun, ia juga memberikan peringatan tegas. Trump menambahkan bahwa jika kesepakatan tidak segera tercapai, pasukan AS akan melancarkan serangan terhadap target-target strategis Iran.
Target yang disebutkan Trump meliputi pembangkit listrik, sumur minyak, dan yang paling krusial adalah Pulau Kharg. Pulau Kharg merupakan terminal ekspor minyak terbesar Iran yang sangat vital bagi perekonomian negara tersebut.
Ancaman ini menciptakan sentiment mixed di pasar global. Kemudian, pasar keuangan termasuk logam mulia bereaksi dengan sangat volatil karena investor masih menunggu kepastian arah konflik ini.
Para analis pasar memperkirakan volatilitas harga emas dan perak akan terus berlanjut setidaknya hingga ada kejelasan mengenai penyelesaian konflik AS-Iran. Intinya, investor disarankan untuk tetap waspada dan menerapkan strategi manajemen risiko yang ketat dalam beberapa minggu ke depan.
Penurunan harga emas di Maret 2026 memang mencatat rekor terburuk dalam 13 tahun, namun prospek jangka panjang masih dinilai menjanjikan mengingat ketidakpastian global yang masih tinggi. Pada akhirnya, investor yang cerdas akan melihat koreksi ini sebagai peluang untuk masuk di harga yang lebih rendah dengan perspektif investasi jangka panjang.




