Cikadu.id – Harga minyak dunia mencatat lonjakan signifikan setelah kelompok Houthi Yaman resmi bergabung dalam konflik Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Minyak acuan Brent melonjak hingga 3,7 persen mencapai US$ 116,75 per barel pada akhir pekan lalu, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 3,3 persen menjadi US$ 102,92 per barel.
Lonjakan ini terjadi setelah Houthi menembakkan rudal ke Israel pada akhir pekan. Kelompok militan asal Yaman ini menyatakan dukungan penuh kepada Iran dalam menghadapi tekanan dari Washington dan Tel Aviv.
Selain itu, penambahan ribuan pasukan AS ke kawasan Timur Tengah semakin memperkeruh situasi. Para pelaku pasar energi global kini mengantisipasi kemungkinan meluasnya konflik yang dapat menambah kekacauan pasokan minyak mentah dunia pada 2026 ini.
Houthi Tegaskan Operasi Berlanjut Sampai Serangan Berhenti
Kelompok Houthi menegaskan akan melanjutkan operasi militer mereka hingga serangan terhadap Iran dan kelompok militan proksinya berhenti sepenuhnya. Pernyataan tegas ini keluar tak lama setelah mereka melancarkan serangan rudal ke wilayah Israel.
Ancaman berkelanjutan dari Houthi ini menambah ketegangan di kawasan yang sudah bergejolak sejak awal Maret 2026. Bahkan, para analis pasar energi memperkirakan situasi ini akan terus memicu volatilitas harga minyak dalam beberapa pekan mendatang.
Menariknya, ini bukan pertama kali Houthi mempengaruhi pasar energi global. Kelompok ini sebelumnya secara efektif menutup jalur Laut Merah setelah perang di Gaza dimulai pada 2023, memaksa ratusan kapal tanker mengubah rute perjalanan mereka.
AS Kerahkan Ribuan Pasukan, Trump Incar Pulau Kharg
Amerika Serikat telah mengerahkan ribuan pasukan tambahan ke kawasan Timur Tengah dalam beberapa pekan terakhir. Langkah militer ini meningkatkan kekhawatiran akan kemungkinan invasi darat yang berisiko tinggi terhadap Iran.
Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan niatnya untuk merebut minyak Iran dan menguasai Pulau Kharg. Pulau ini merupakan salah satu pusat ekspor minyak terpenting Iran yang menyalurkan sebagian besar produksi minyak negara tersebut ke pasar global.
Awal bulan ini, AS telah melancarkan serangan militer terhadap lokasi strategis di Pulau Kharg. Aksi militer ini menunjukkan keseriusan Washington dalam menekan Teheran dan mengendalikan pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia.
Akibatnya, ketegangan semakin memuncak dan pasar minyak dunia bereaksi dengan kenaikan harga yang tajam. Para trader minyak kini memantau setiap perkembangan dengan cermat mengingat dampaknya terhadap ekonomi global.
Brent Naik 60 Persen Sepanjang Maret, Ancam Inflasi Global
Harga minyak Brent mencatat kenaikan drastis sekitar 60 persen sepanjang bulan Maret 2026. Lonjakan fantastis ini mengguncang pasar global dan memicu kekhawatiran serius akan gelombang inflasi di berbagai negara.
Tidak hanya inflasi, kenaikan harga energi yang tajam ini juga berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia. Bank-bank sentral di berbagai negara kini dihadapkan pada dilema antara mengendalikan inflasi atau mendukung pertumbuhan ekonomi.
Indonesia pun merasakan dampaknya. Rupiah berpotensi melemah akibat melonjaknya harga minyak dunia yang membuat biaya impor energi membengkak. Oleh karena itu, Organisasi untuk Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,8 persen untuk tahun 2026.
Bahkan, para ekonom memperingatkan dampak jangka panjang dari krisis energi ini dapat bertahan hingga akhir tahun. Dengan demikian, pemerintah berbagai negara harus segera menyusun strategi mitigasi untuk melindungi ekonomi domestik mereka.
Konflik Minggu Kelima, Upaya Damai Belum Membuahkan Hasil
Konflik di Timur Tengah telah memasuki minggu kelima pada 2026 tanpa menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Meski ada dorongan diplomatik dari Washington pekan lalu, belum ada kemajuan signifikan yang dicapai.
Pembicaraan damai terpisah juga berlangsung akhir pekan di Pakistan. Namun, kedua belah pihak masih belum mencapai kesepakatan yang dapat mengakhiri konflik berkepanjangan ini.
Trump sebelumnya mengklaim Iran telah memenuhi sebagian besar dari 15 tuntutan yang AS ajukan kepada Teheran untuk mengakhiri perang. Akan tetapi, presiden AS ini tidak merinci konsesi apa saja yang Iran berikan, membuat banyak pihak meragukan klaim tersebut.
Faktanya, Iran secara terbuka menolak rencana perdamaian AS. Teheran justru mengajukan syarat balasan yang keras, termasuk pengakuan penuh atas kedaulatan mereka terhadap Selat Hormuz yang strategis.
Kebuntuan diplomatik ini membuat pasar semakin pesimis. Para investor kini memperkirakan konflik ini akan berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan semula, yang berarti tekanan pada harga minyak dunia akan terus berlanjut.
Iran Batasi Selat Hormuz, Trump Klaim Ada Kemajuan
Iran telah membatasi hampir seluruh lalu lintas kapal yang melewati Selat Hormuz sejak konflik meningkat pada Maret 2026. Jalur perairan sempit ini sangat krusial karena menghubungkan Teluk Persia dengan pasar minyak global dan menjadi rute transit sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Pemerintah Iran berupaya memperkuat kendali atas jalur strategis tersebut dengan melarang sebagian besar kapal melintas. Namun, Teheran tetap mengizinkan beberapa kapal dari negara tertentu lewat, termasuk kapal-kapal dari Pakistan, Thailand, dan Malaysia.
Pekan lalu, Trump mengungkapkan dalam rapat kabinet bahwa Iran telah mengizinkan 10 kapal minyak melintas di Selat Hormuz sebagai bentuk itikad baik. Langkah ini, menurut Trump, menunjukkan Iran mulai melunak dalam negosiasi.
Kemudian, presiden AS ini menyampaikan bahwa jumlah kapal yang Iran izinkan telah digandakan menjadi 20 kapal. Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, mengkonfirmasi informasi ini melalui platform X (dulunya Twitter), menyatakan Teheran setuju mengizinkan 20 kapal tambahan dari negaranya melintas di selat tersebut.
Meski begitu, para analis maritim menilai jumlah 20 kapal masih sangat kecil dibandingkan volume normal lalu lintas di Selat Hormuz. Jadi, pembatasan ini tetap memberikan dampak besar terhadap pasokan minyak global dan mendukung tingginya harga minyak dunia.
Risiko Baru dari Houthi, Ancaman terhadap Pelabuhan Yanbu
Keterlibatan Houthi Yaman menghadirkan risiko baru yang signifikan bagi stabilitas pasar minyak mentah global pada 2026. Track record kelompok ini dalam mengganggu jalur pelayaran internasional membuat para pelaku pasar sangat waspada.
Kelompok ini sebelumnya berhasil menutup jalur Laut Merah secara efektif setelah perang Gaza meletus pada 2023. Aksi Houthi waktu itu memaksa ratusan kapal tanker mengubah rute perjalanan mereka, menempuh jarak ribuan kilometer lebih jauh mengelilingi Afrika.
Pengalihan rute tersebut meningkatkan biaya transportasi minyak secara signifikan dan memperlambat waktu pengiriman. Dampaknya langsung terasa pada harga minyak dunia yang naik akibat ketidakpastian pasokan.
Kini, ancaman baru muncul terhadap kargo yang perusahaan-perusahaan minyak muat melalui pelabuhan Yanbu di Arab Saudi. Pelabuhan ini merupakan salah satu terminal ekspor minyak penting di pantai Laut Merah Arab Saudi.
Jika Houthi melancarkan serangan terhadap kapal-kapal di sekitar Yanbu atau bahkan menyerang pelabuhan itu sendiri, pasokan minyak dari Arab Saudi ke pasar global akan semakin terbatas. Hal ini berpotensi mendorong harga minyak dunia naik lebih tinggi lagi di atas level US$ 116 per barel saat ini.
Para analis energi memperingatkan situasi ini menciptakan skenario “perfect storm” di pasar minyak. Kombinasi antara pembatasan Selat Hormuz oleh Iran, ancaman Houthi terhadap jalur Laut Merah, dan eskalasi militer AS menciptakan ketidakpastian yang belum pernah terjadi dalam beberapa dekade terakhir.
Pada akhirnya, kenaikan harga minyak dunia yang drastis pada 2026 ini mencerminkan ketidakstabilan geopolitik kawasan Timur Tengah yang semakin kompleks. Keterlibatan Houthi dalam konflik Iran-AS menambah lapisan baru risiko yang harus pasar hadapi. Dengan Brent yang menembus US$ 116,75 per barel dan WTI di US$ 102,92 per barel, dunia bersiap menghadapi dampak ekonomi jangka panjang berupa inflasi tinggi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi.




