Cikadu.id – Sony resmi menaikkan harga seluruh jajaran konsol PlayStation 5 (PS5) untuk kedua kalinya dalam waktu kurang dari setahun. Kenaikan harga PS5 naik ini berlaku mulai 2 April 2026 dan menyasar pasar global termasuk Amerika Serikat, Inggris, Eropa, Jepang, hingga Tiongkok.
Langkah ini memicu reaksi beragam dari komunitas gamer di seluruh dunia. Pasalnya, kenaikan harga konsol gaming flagship Sony ini cukup signifikan, terutama untuk varian PS5 Pro yang mencapai ratusan dolar AS.
Daftar Harga PS5 Terbaru 2026 di Amerika Serikat
Di pasar Amerika Serikat, konsumen harus merogoh kocek lebih dalam untuk memboyong PS5. Sony mematok harga PS5 edisi disk sebesar US$ 649,99 atau setara Rp 11.037.833 (kurs Rp 16.981 per dolar AS), naik US$ 100 dari harga sebelumnya yang US$ 549,99.
Sementara itu, PS5 edisi digital juga mengalami kenaikan senilai US$ 100 menjadi US$ 599,99 atau sekitar Rp 10.188.633. Edisi digital ini memang lebih terjangkau karena tidak dilengkapi dengan optical drive untuk membaca cakram fisik.
Namun, kenaikan paling tajam justru terjadi pada PS5 Pro, versi konsol Sony yang paling canggih. Harga PS5 Pro melonjak US$ 150 menjadi US$ 899,99 atau setara Rp 15.282.083, menjadikannya konsol gaming paling mahal di lini PS5 saat ini.
Harga PS5 di Inggris dan Tiongkok Juga Meroket
Sony tidak hanya menaikkan harga di Amerika Serikat. Perusahaan asal Jepang ini juga menyesuaikan harga PS5 di Inggris, Eropa, Jepang, dan Tiongkok secara serentak.
Di Inggris, setiap model PS5 mengalami kenaikan sebesar £90. PS5 Digital Edition kini perusahaan jual dengan harga £519,99 atau setara Rp 11.668.996 (kurs Rp 22.441 per poundsterling), sedangkan PS5 Pro menyentuh angka £789,99 atau sekitar Rp 17.728.016.
Menariknya, Sony juga menaikkan harga PlayStation Portal sebesar £20 menjadi £219,99 atau Rp 4.936.798. Perangkat streaming handheld ini memang menjadi aksesori populer bagi pemilik PS5 yang ingin bermain game secara mobile di rumah.
Pasar Tiongkok juga merasakan dampak kenaikan harga ini. PS5 Slim Digital Edition naik RMB 500 dari harga sebelumnya RMB 3.499 menjadi RMB 3.999 atau sekitar Rp 9.841.539 (kurs Rp 2.461 per renminbi).
Selain itu, PS5 Slim standar mengalami kenaikan RMB 100 dari RMB 4.299 menjadi RMB 4.399 atau Rp 10.825.139. Adapun PS5 Pro melonjak paling drastis dengan kenaikan RMB 700, dari RMB 5.599 menjadi RMB 6.299 atau setara Rp 15.501.839.
Ini menandai penyesuaian harga kedua Sony untuk lini PS5 di pasar Tiongkok sejak konsol generasi terbaru ini pertama kali perusahaan rilis pada 2022. Bahkan untuk PS5 Pro, ini merupakan perubahan harga pertama sejak peluncurannya.
Alasan Sony Naikkan Harga PS5: Krisis Pasokan Memori
Sony mengakui bahwa keputusan menaikkan harga konsol flagship-nya ini bukan langkah mudah. Dalam unggahan blog resmi yang dikutip dari CNBC International pada Senin (30/3/2026), perusahaan menyampaikan pernyataan resminya.
“Kami tahu bahwa perubahan harga berdampak pada komunitas,” tulis Sony. Namun setelah evaluasi mendalam, perusahaan menilai kenaikan harga merupakan langkah yang perusahaan perlukan untuk menjaga keberlanjutan bisnis.
“Ini untuk memastikan kami dapat terus memberikan pengalaman bermain game yang inovatif dan berkualitas tinggi kepada para pemain,” tambah Sony dalam pernyataannya. Perusahaan menekankan komitmennya untuk tetap menghadirkan konten dan layanan gaming terbaik meski harus menyesuaikan harga.
Namun, di balik alasan resmi tersebut, ada faktor krusial yang memaksa Sony mengambil keputusan ini. Lonjakan harga memori yang belum pernah terjadi sebelumnya menjadi penyebab utama kenaikan harga PS5.
Memori merupakan komponen kunci dari PS5, dan harganya telah melonjak secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Produsen memori global mengarahkan stok mereka ke permintaan besar dari pusat data kecerdasan buatan (AI) yang terus berkembang pesat.
Akibatnya, pasokan memori untuk industri elektronik konsumen termasuk gaming console menjadi terbatas. Keterbatasan pasokan ini otomatis mendorong harga memori naik drastis di pasar global.
Analis: Margin Keuntungan Sony Tertekan
Piers Harding-Rolls, Direktur Riset Game di Ampere Analysis, memberikan pandangan mengenai kenaikan harga ini. Menurutnya, Sony tidak punya pilihan lain selain menaikkan harga konsol mengingat lonjakan biaya komponen yang signifikan.
“Kemungkinan besar Sony memiliki perlindungan harga untuk komponen-komponennya selama periode tertentu dan ini mungkin telah berakhir,” ungkap Harding-Rolls seperti dikutip dari CNBC International. Perlindungan harga atau hedging ini biasanya perusahaan teknologi lakukan untuk mengantisipasi fluktuasi harga komponen.
Oleh karena itu, ketika masa perlindungan harga berakhir dan Sony harus membeli komponen dengan harga pasar yang jauh lebih tinggi, margin keuntungan perusahaan langsung tergerus. “Tanpa tanda-tanda penurunan harga memori, Sony pasti mengambil langkah ini untuk melindungi margin keuntungan perangkat kerasnya yang tipis,” tambah Harding-Rolls.
Faktanya, industri gaming console memang terkenal dengan margin keuntungan yang sangat tipis. Perusahaan gaming sering menjual konsol dengan harga mendekati atau bahkan di bawah biaya produksi, lalu mengompensasinya melalui penjualan game dan layanan berlangganan.
Microsoft dan Nintendo Berpotensi Menyusul
Harding-Rolls juga memperingatkan bahwa Sony bukan satu-satunya perusahaan yang menghadapi tekanan biaya komponen ini. Microsoft dengan Xbox Series X/S dan Nintendo dengan Switch 2 berpotensi mengambil langkah serupa dalam waktu dekat.
“Bahkan Microsoft dan Nintendo berpotensi melakukan hal yang sama,” ujar analis game tersebut. Kedua perusahaan kompetitor Sony ini juga menggunakan komponen memori dalam jumlah besar untuk konsol mereka.
Namun, Nintendo berada dalam posisi yang lebih rumit. Perusahaan asal Jepang ini baru saja meluncurkan Switch 2 tahun lalu dan sedang berupaya membangun basis pengguna untuk platform baru mereka.
“Ini akan menjadi situasi yang canggung bagi Nintendo, karena mereka tidak ingin menaikkan harga Switch 2 ketika mereka sedang berupaya membangun platform baru,” kata Harding-Rolls. Menaikkan harga di awal siklus hidup konsol bisa menghambat adopsi pengguna.
Sejauh ini, Nintendo mempertahankan harga yang stabil untuk konsol andalannya, Switch 2. Perusahaan gaming legendaris ini tampaknya masih mencoba menahan diri agar tidak menaikkan harga demi menjaga momentum penjualan konsol generasi terbaru mereka.
Perang di Timur Tengah Memperburuk Situasi
Jika lonjakan harga memori saja sudah cukup mengganggu, industri gaming kini menghadapi ancaman baru. Perang antara Amerika Serikat dan Israel ke Iran berpotensi mengerek harga komponen lebih tinggi lagi.
“Gelombang inflasi baru perusahaan perkirakan terjadi akibat perang di Timur Tengah, dan ini akan memperparah dampak kenaikan harga komponen,” ujar Harding-Rolls. Konflik geopolitik ini bisa mengganggu rantai pasokan global dan meningkatkan biaya logistik.
Dengan demikian, konsumen gaming harus bersiap menghadapi kemungkinan kenaikan harga lebih lanjut. Tidak hanya konsol, tetapi juga aksesori gaming dan bahkan game-game AAA bisa ikut terdampak kenaikan biaya produksi ini.
Kenaikan harga PS5 pada 2026 ini menjadi pengingat bahwa industri gaming tidak kebal terhadap gejolak ekonomi global. Krisis pasokan memori yang dipicu oleh booming AI dan ketegangan geopolitik menciptakan badai sempurna yang memaksa perusahaan gaming menyesuaikan strategi harga mereka. Konsumen gaming kini harus merogoh kocek lebih dalam untuk menikmati pengalaman bermain game generasi terbaru, dan tren ini kemungkinan akan terus berlanjut hingga pasar komponen global kembali stabil.


