Cikadu.id – Para perajin tahu di Banjaragung, Kota Serang, Banten, resmi menaikkan harga jual produk mereka mulai awal April 2026. Kenaikan ini terjadi akibat lonjakan drastis harga bahan baku kedelai dan plastik pengemas yang membuat biaya produksi membengkak.
Nuraeni, salah satu pemilik pabrik tahu di kawasan tersebut, mengungkapkan fakta mengejutkan pada Kamis (2/4/2026). Harga kedelai saat ini menembus angka Rp 10.500 per kilogram, naik signifikan dari harga sebelumnya yang berkisar Rp 8.000 per kilogram.
Lonjakan harga bahan baku ini memaksa pengusaha tahu mengambil keputusan sulit. Alih-alih mengurangi ukuran produk, mereka memilih menaikkan harga jual untuk mempertahankan kualitas dan kepercayaan pelanggan.
Harga Tahu Serang Melonjak hingga Rp 1.500 per Loyang
Dampak kenaikan harga kedelai langsung terasa pada omzet para perajin. Nuraeni menjelaskan bahwa biaya produksi saat ini sudah tidak sesuai lagi dengan harga jual yang lama.
“Dampaknya sangat terasa ke omzet. Karena biaya produksi sudah tidak sesuai lagi, kami terpaksa menaikkan harga jual dari sebelumnya Rp 17.500 per loyang kini menjadi Rp 19.000 daripada mengurangi ukuran tahu,” ungkap Nuraeni.
Keputusan menaikkan harga ini bukan tanpa pertimbangan matang. Para perajin memilih strategi mempertahankan ukuran tahu tetap stabil sebagai bentuk komitmen terhadap konsumen setia mereka.
Meski begitu, kenaikan harga tersebut sempat menuai protes dari para pembeli. Banyak konsumen berharap harga bisa kembali normal seperti sebelumnya, mengingat tahu merupakan sumber protein murah bagi masyarakat.
Plastik Pengemas Ikut Melonjak, Beban Makin Berat
Selain kedelai, para perajin tahu di Kota Serang menghadapi beban ganda. Harga plastik pengemas bening turut melambung tinggi dalam periode yang sama.
Nuraeni menyebut kenaikan harga plastik per ikat mencapai Rp 20.000 hingga Rp 25.000. Padahal, sebelumnya harga plastik pengemas masih berada di bawah Rp 50.000 per ikat.
“Kenaikan plastik ini bahkan terasa lebih parah. Ini menjadi risiko yang harus kami tanggung agar kegiatan produksi harian tetap berjalan,” ujar Nuraeni dengan nada prihatin.
Kombinasi kenaikan dua bahan penting ini menciptakan tekanan finansial yang signifikan. Para perajin kini harus memutar otak lebih keras untuk menjaga kelangsungan usaha mereka.
Kapasitas Produksi dan Tantangan Daya Beli Konsumen
Pabrik milik Nuraeni memiliki kapasitas mengolah sekitar 150 kilogram kedelai dalam sehari. Volume produksi ini terbilang cukup besar untuk skala industri rumahan di wilayah Banjaragung.
Saat ini, permintaan tahu masih cukup stabil berkat momentum pascalebaran. Banyak konsumen masih membeli tahu untuk kebutuhan lauk-pauk sehari-hari setelah masa libur panjang.
Namun, Nuraeni mengkhawatirkan terjadinya penurunan daya beli pada pertengahan bulan mendatang. Biasanya, pada periode tersebut, masyarakat mulai mengencangkan ikat pinggang menjelang akhir bulan.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Dengan harga yang sudah naik, dikhawatirkan konsumen akan mengurangi pembelian atau bahkan beralih ke sumber protein lain yang lebih terjangkau.
Harapan kepada Pemerintah untuk Stabilkan Harga
Para perajin tahu di Kota Serang kini menaruh harapan besar kepada pemerintah. Mereka berharap ada langkah nyata untuk menstabilkan harga bahan baku di pasaran.
Stabilitas harga bahan baku menjadi kunci agar sektor usaha kecil seperti industri tahu dapat terus bertahan. Tanpa intervensi, dikhawatirkan banyak perajin akan gulung tikar karena tidak mampu bersaing.
“Harapan kami harga bisa stabil kembali. Tidak perlu turun drastis ke harga awal, yang penting tidak terus merangkak naik,” harap Nuraeni mewakili suara para perajin lainnya.
Permintaan ini mencerminkan kondisi pengusaha kecil yang terjepit antara kenaikan biaya produksi dan daya beli masyarakat yang terbatas. Mereka tidak meminta harga turun drastis, hanya stabilitas agar bisa merencanakan usaha dengan lebih baik.
Industri Tahu dan Perannya bagi Ekonomi Rakyat
Industri tahu memiliki peran vital dalam ekonomi kerakyatan Indonesia. Produk ini menjadi sumber protein murah yang terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.
Di Serang, khususnya wilayah Banjaragung, industri tahu menjadi salah satu penopang ekonomi lokal. Puluhan keluarga menggantungkan hidup dari usaha pembuatan tahu ini.
Oleh karena itu, gejolak harga bahan baku tidak hanya berdampak pada pengusaha semata. Konsumen pun merasakan efek domino berupa kenaikan harga produk jadi yang mereka beli sehari-hari.
Pemerintah perlu mempertimbangkan kebijakan yang dapat melindungi industri rakyat ini. Subsidi bahan baku atau pengaturan impor kedelai bisa menjadi solusi untuk menstabilkan harga.
Pada akhirnya, stabilitas harga tahu bukan hanya soal keuntungan pengusaha. Ini tentang menjaga akses masyarakat terhadap sumber protein berkualitas dengan harga terjangkau, sekaligus melindungi mata pencaharian ribuan perajin di seluruh Indonesia.




