Cikadu.id – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan 18 perusahaan teknologi raksasa Amerika Serikat menjadi target serangan balasan. Ancaman ini meliputi Google, Meta, Apple, Microsoft, hingga Palantir jika pembunuhan terhadap pemimpin Iran terus berlanjut.
IRGC merilis pernyataan resmi pada Selasa, 31 Maret 2026, yang menegaskan ancaman tersebut akan direalisasikan mulai pukul 20.00 waktu Teheran pada Rabu, 1 April 2026. Badan militer Iran ini menuduh perusahaan-perusahaan teknologi AS berperan aktif dalam operasi pembunuhan yang menargetkan para pejabat tinggi Iran.
Ultimatum IRGC: Karyawan Diminta Evakuasi Segera
“Perusahaan-perusahaan ini, mulai pukul 20.00 waktu Teheran pada Rabu, 1 April, harus siap menerima serangan sebagai balasan atas setiap pembunuhan di Iran,” demikian bunyi pernyataan IRGC yang dikutip AFP.
IRGC tidak main-main dengan ancamannya. Mereka mengeluarkan peringatan evakuasi untuk karyawan perusahaan-perusahaan teknologi tersebut.
“Kami menyarankan para karyawan perusahaan-perusahaan ini untuk segera meninggalkan kantor jika ingin selamat,” tegas IRGC dalam pernyataannya.
Bahkan, penduduk sipil di sekitar kantor perusahaan-perusahaan tersebut juga diminta menjauhi area dalam radius satu kilometer dan pergi ke tempat aman. Peringatan ini menunjukkan keseriusan ancaman yang dikeluarkan militer Iran.
Tuduhan Serius: Tech Giants Bantu AS Lacak Target Pembunuhan
IRGC menuduh keras bahwa perusahaan-perusahaan teknologi AS ini menjadi “elemen utama dalam merancang dan melacak target-target pembunuhan.”
“Perusahaan yang secara aktif berpartisipasi dalam rencana teroris akan menghadapi tindakan balasan untuk setiap pembunuhan yang ditargetkan,” lanjut pernyataan IRGC.
Tuduhan ini bukan tanpa dasar. Sejak Operasi Epic Fury dimulai pada 28 Februari 2026, AS telah menyerang lebih dari 10.000 sasaran di dalam wilayah Iran.
Konteks Konflik: Trump Perkuat Ancaman Militer ke Iran
Ancaman IRGC muncul di tengah eskalasi konflik AS-Iran yang semakin memanas. Presiden AS Donald Trump mengancam akan memperkuat serangan militer AS-Israel terhadap Iran.
Faktanya, Trump telah menambah pasukan ke Timur Tengah, yang diduga ditujukan untuk invasi darat terhadap Iran.
Konflik ini mencapai titik kritis setelah tiga pemimpin tinggi Iran tewas dalam serangkaian serangan. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan panglima tertinggi IRGC Mohammad Pakpour tewas dalam serangan pertama AS-Israel pada 28 Februari 2026.
Selain itu, Sekretaris Jenderal Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani juga tewas dalam serangan pada 17 Maret 2026.
Ketiga pembunuhan ini memicu amarah besar Iran dan mendorong IRGC untuk mengalihkan fokus serangan balasan ke infrastruktur teknologi komersial AS.
Peran AI dalam Perang Iran: Game Changer Operasi Militer
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengklaim telah menewaskan 40 komandan senior dalam satu operasi yang menurut IDF hanya mungkin dilakukan berkat kemampuan intelijen militer berbasis kecerdasan buatan.
Bloomberg melaporkan pada akhir Maret 2026 bahwa kepala teknologi Palantir menggambarkan konflik Iran sebagai perang besar pertama yang didorong oleh AI. Alat-alat canggih memproses kumpulan data besar untuk mempercepat pengambilan keputusan penargetan.
Nah, inilah yang membuat IRGC menuduh perusahaan teknologi AS sebagai aktor kunci dalam pembunuhan para pemimpin Iran.
Militer AS mengonfirmasi penggunaan AI untuk navigasi drone, analisis intelijen, dan apa yang mereka sebut sebagai alat pemilihan target. Meski begitu, pihak militer AS menegaskan bahwa manusia tetap terlibat dalam proses pengambilan keputusan.
Akan tetapi, bagi IRGC, keterlibatan teknologi AI dari perusahaan-perusahaan AS ini sudah cukup untuk menjadikan mereka target legitim dalam konflik ini.
Daftar 18 Perusahaan Teknologi AS yang Jadi Target Iran
IRGC merilis daftar lengkap 18 perusahaan teknologi dan korporasi besar AS yang menjadi target serangan mereka. Berikut daftarnya:
| No | Nama Perusahaan | Sektor |
|---|---|---|
| 1 | Cisco | Networking & Infrastruktur |
| 2 | HP | Teknologi & Hardware |
| 3 | Intel | Semikonduktor |
| 4 | Oracle | Database & Cloud |
| 5 | Microsoft | Software & Cloud |
| 6 | Apple | Consumer Electronics |
| 7 | Internet & AI | |
| 8 | Meta | Media Sosial |
| 9 | IBM | Teknologi Enterprise |
| 10 | Dell | Hardware & Server |
| 11 | Palantir | AI & Analitik Militer |
| 12 | Nvidia | GPU & AI Chips |
| 13 | J.P. Morgan | Keuangan & Banking |
| 14 | Tesla | Otomotif & Teknologi |
| 15 | GE | Industri & Teknologi |
| 16 | Spire Solutions | Konsultan Pertahanan |
| 17 | G42 | AI & Cloud |
| 18 | Boeing | Aerospace & Pertahanan |
Daftar ini mencakup berbagai sektor, mulai dari raksasa internet seperti Google dan Meta, perusahaan hardware seperti Apple dan Dell, hingga perusahaan AI dan pertahanan seperti Palantir dan Boeing.
Menariknya, daftar ini juga mencakup perusahaan di luar sektor teknologi murni, seperti J.P. Morgan (perbankan), Tesla (otomotif), dan GE (industri), yang menunjukkan bahwa IRGC memandang keterlibatan korporasi AS dalam konflik ini sangat luas.
Implikasi Global: Medan Perang Meluas ke Dunia Korporat
Ancaman IRGC ini menandai pergeseran paradigma dalam konflik modern. Untuk pertama kalinya, infrastruktur teknologi komersial menjadi medan perang dalam konflik geopolitik skala besar.
Oleh karena itu, perusahaan-perusahaan teknologi global kini menghadapi dilema etis yang kompleks. Di satu sisi, mereka memiliki kewajiban untuk mendukung keamanan nasional negara mereka. Di sisi lain, keterlibatan mereka dalam operasi militer dapat membuat mereka menjadi target legitim dalam konflik internasional.
Konflik Iran 2026 membuktikan bahwa AI dan big data telah mengubah cara perang dilakukan. Kemampuan untuk memproses data dalam skala besar dan mengidentifikasi target dengan presisi tinggi memberikan keunggulan strategis yang luar biasa bagi pihak yang menguasai teknologi tersebut.
Namun, kemampuan ini juga membawa konsekuensi. Iran kini memandang perusahaan-perusahaan teknologi AS bukan hanya sebagai entitas komersial, tetapi sebagai bagian integral dari mesin perang AS.
Pada akhirnya, ancaman IRGC terhadap 18 perusahaan teknologi AS ini membuka babak baru dalam konflik modern, di mana garis antara militer dan sipil, antara medan perang dan ruang kantor, semakin kabur. Dunia kini menyaksikan bagaimana teknologi yang awalnya diciptakan untuk menghubungkan manusia malah menjadi alat untuk saling menghancurkan.




