Cikadu.id – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Rachmat Pambudy memproyeksikan kebutuhan susu Indonesia mencapai lonjakan sebesar 1,5 juta liter pada 2029, didorong oleh program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pernyataan ini disampaikan Rachmat pada Jumat, 27 Maret 2026, saat memberikan sambutan dalam konferensi internasional tentang transformasi industri peternakan berkelanjutan di gedung Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta.
Selain peningkatan kebutuhan susu, Rachmat menambahkan bahwa permintaan daging sapi juga bakal melonjak sebanyak 47 ribu ton pada periode yang sama. Berdasarkan analisis pemerintah, pasar nasional sudah menunjukkan kesiapan dan stabilitas untuk menghadapi lonjakan permintaan protein yang signifikan tersebut. Perkembangan ini sekaligus menciptakan peluang investasi yang menarik bagi para investor.
Dari Krisis Pangan Menuju Kedaulatan Pangan
Rachmat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menjelaskan perjalanan panjang Indonesia dalam hal ketahanan pangan. Pada awal 1960-an, negara ini menghadapi krisis pangan yang serius, khususnya beras. Namun melalui revolusi hijau yang dimulai pada 1970, Indonesia berhasil mencapai swasembada beras pada 1985.
Bahkan, lanjut Rachmat, Indonesia juga mengembangkan produk peternakan secara masif selama periode yang sama. Pada 1980, negara ini mencapai kemandirian dalam produksi peternakan, terutama untuk sapi dan daging sapi serta unggas. Pencapaian tersebut menunjukkan bahwa Indonesia mampu mengubah posisinya dari negara yang bergantung impor menjadi produsen yang mandiri.
Program MBG Sebagai Game Changer Ekonomi
Rachmat menekankan bahwa lanskap Indonesia saat ini mengalami transformasi fundamental, bergeser dari sekadar ketahanan pangan menuju kedaulatan pangan yang lebih kuat. Program Makan Bergizi Gratis menjadi instrumen kunci dalam perubahan ini, sebab ia mendukung pertumbuhan sosial dan ekonomi secara bersamaan.
Dengan memberikan nutrisi gratis kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan, program ini secara otomatis meningkatkan demand terhadap komoditas protein hewani seperti susu dan daging. Fenomena ini menciptakan peluang bisnis baru bagi petani, peternak, hingga perusahaan agribisnis skala besar.
Target Swasembada 2029: Susu 96 Persen dan Daging Sapi 70 Persen
Pemerintah menetapkan target ambisius untuk tahun 2029. Rachmat mengungkapkan bahwa saat ini produksi susu Indonesia baru mencapai 21 persen dari kebutuhan nasional, masih jauh dari target swasembada. Pemerintah menargetkan pencapaian 96 persen swasembada susu dan 70 persen swasembada daging sapi pada 2029.
Untuk mewujudkan target tersebut, pemerintah membuka pintu impor sapi breeding sebanyak 1 juta ekor sapi perah dan 1 juta ekor sapi potong untuk keperluan pembibitan. Strategi ini dirancang agar Indonesia memiliki aset genetik berkualitas tinggi yang mampu meningkatkan produktivitas peternakan lokal dalam jangka panjang.
Tiga Tantangan Utama Menuju Swasembada
Meskipun target terlihat jelas, Rachmat mengakui bahwa perjalanan menuju swasembada susu dan daging sapi dihadang tiga tantangan besar. Tantangan pertama adalah produktivitas yang masih rendah, karena lebih dari 90 persen produksi peternakan dikelola oleh peternak kecil yang mengandalkan praktik tradisional dan belum mengadopsi teknologi modern.
Tantangan kedua berupa kesenjangan pembibitan, terutama pada sektor sapi. Struktur pembibitan lokal masih lemah, sehingga Indonesia sangat bergantung pada impor bibit. Faktanya, perusahaan swasta cenderung memilih usaha penggemukan daripada pembibitan, karena skema yang pertama memberikan return lebih cepat.
Tantangan ketiga mencakup biaya pakan yang terus meningkat, konflik lahan antara sektor pertanian dan peternakan, serta ancaman biosekuriti seperti penyakit mulut dan kuku yang dapat mengakibatkan kerugian ekonomi besar. Kombinasi ketiga faktor ini menciptakan lingkungan bisnis yang kompleks dan berisiko tinggi bagi peternak.
Strategi Pengembangan Sapi Merah Putih dan Investasi Lokal
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pemerintah memprioritaskan pengembangan Sapi Merah Putih dengan produktivitas tinggi. Breed ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara pemerintah, akademisi, dan sektor swasta yang bertujuan menghasilkan ternak unggul yang cocok dengan kondisi alam Indonesia.
Selain itu, Rachmat mendorong perusahaan swasta nasional untuk berinvestasi langsung dalam riset peternakan. Pemerintah juga mengundang investor lokal yang memiliki pemahaman mendalam terhadap dinamika permintaan domestik, karena mereka lebih mampu berinovasi dengan solusi yang tepat sasaran.
Langkah berikutnya adalah transformasi struktural yang mengalihkan peternakan kecil yang terfragmentasi menuju pusat-pusat peternakan terintegrasi dengan skala besar. Konsolidasi ini diharapkan meningkatkan efisiensi operasional, menurunkan biaya produksi, dan memudahkan kontrol kualitas dan biosekuriti.
Peluang Investasi dan Transformasi Industri
Rachmat menekankan bahwa proyeksi peningkatan kebutuhan susu sebesar 1,5 juta liter pada 2029 adalah sinyal positif bagi investor potensial. Permintaan yang terukur dan terus meningkat menciptakan kepastian pasar yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan investasi jangka panjang.
Program Makan Bergizi Gratis bukan hanya inisiatif sosial, melainkan katalis ekonomi yang menggerakkan seluruh ekosistem agribisnis. Dari hulu berupa pembibitan dan pakan, hingga hilir berupa pengolahan dan distribusi, semua sektor mendapat momentum pertumbuhan yang sama-sama menguntungkan.
Transformasi industri peternakan yang berkelanjutan, seperti yang menjadi topik konferensi internasional tersebut, mencerminkan komitmen Indonesia untuk membangun sistem produksi yang tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.



