Kendaraan Listrik Bisa Hemat Devisa Rp30-40 T per Tahun

Kendaraan Listrik Bisa Hemat Devisa Rp30-40 T per Tahun

Kendaraan Listrik Bisa Hemat Devisa Rp30-40 T per Tahun

Cikadu.id – Percepatan adopsi kendaraan listrik menjadi langkah strategis Indonesia untuk meredam dampak lonjakan harga minyak global terhadap APBN. Pengamat otomotif Martinus Pasaribu menyebut, transisi ke kendaraan listrik bisa menghemat devisa negara hingga Rp30-40 triliun per tahun dengan menekan ketergantungan impor minyak.

Martinus menjelaskan, setiap kenaikan harga minyak global berisiko membengkakkan subsidi energi dan mengurangi ruang fiskal untuk belanja produktif. Kondisi ini kian mendesak mengingat produksi minyak domestik terus menurun.

Ketergantungan Impor Minyak Masih Tinggi

Indonesia saat ini masih sangat bergantung pada impor minyak. Sekitar 60-70 persen kebutuhan minyak nasional masih negara penuhi dari impor.

Sementara itu, produksi minyak domestik terus menurun hingga mencapai sekitar 600 ribu barel per hari. Kondisi ini membuat APBN sangat rentan terhadap gejolak harga minyak dunia, terutama di tengah konflik geopolitik seperti ketegangan di Selat Hormuz.

Dampak Lonjakan Harga Minyak ke APBN 2026

Berdasarkan asumsi makro APBN, kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS per barel dapat meningkatkan beban subsidi hingga Rp8-10 triliun. Angka ini bukan main-main.

Bahkan, dengan harga minyak dunia mencapai 90-100 dolar AS per barel, belanja subsidi energi berpotensi membengkak hingga Rp300 triliun per tahun. Oleh karena itu, pemerintah perlu mencari solusi alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak.

Efisiensi Kendaraan Listrik Jauh Lebih Unggul

Martinus menambahkan bahwa kendaraan listrik bisa menjadi solusi jangka panjang karena dapat mengurangi konsumsi BBM secara signifikan. Efisiensi biaya operasionalnya jauh melampaui kendaraan konvensional.

Baca Juga:  Panduan Investasi Perak untuk Pemula 2026 - Cara Mudah Mulai Berinvestasi

Biaya energi kendaraan listrik rata-rata hanya Rp300-500 per kilometer. Bandingkan dengan kendaraan berbahan bakar bensin yang mencapai Rp1.000-1.500 per kilometer.

Selisih ini memungkinkan penghematan biaya operasional hingga 60-70 persen. Nah, penghematan ini bukan hanya menguntungkan konsumen individu, tetapi juga berdampak besar pada skala nasional.

Potensi Penghematan Devisa Masif

Penggunaan 1 juta mobil listrik dapat menghemat sekitar 1,25 juta kiloliter BBM per tahun. Sementara itu, 5 juta motor listrik berpotensi menghemat hingga 1,75 juta kiloliter BBM per tahun.

Total penghematan mencapai 3 juta kiloliter BBM per tahun. Angka ini setara dengan pengurangan impor minyak yang signifikan, sehingga negara bisa menghemat devisa sekitar Rp30-40 triliun per tahun.

Penghematan devisa sebesar ini tentu sangat berharga bagi ketahanan ekonomi nasional. Terlebih, dana tersebut bisa pemerintah alokasikan untuk program-program pembangunan yang lebih produktif.

Dampak Positif untuk Ekonomi Nasional

Berkurangnya konsumsi BBM domestik juga dapat menekan beban subsidi energi. Dengan demikian, ruang fiskal pemerintah dapat lebih fokus pada sektor infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.

Tidak hanya itu, elektrifikasi transportasi memberikan efek ganda bagi perekonomian. Pertama, penguatan industri baterai dalam negeri akan meningkat. Kedua, investasi asing dan domestik di sektor ini akan mengalir lebih deras.

Ketiga, penciptaan lapangan kerja baru di sektor manufaktur dan energi bersih akan terbuka lebar. Intinya, transisi ke kendaraan listrik bukan sekadar soal lingkungan, tetapi juga strategi ekonomi yang komprehensif.

Kebijakan Terintegrasi Jadi Kunci Sukses

Martinus menegaskan pentingnya kebijakan terintegrasi dalam mempercepat adopsi kendaraan listrik. Pemerintah perlu menyiapkan insentif fiskal yang menarik bagi konsumen dan produsen.

Selain itu, pembangunan infrastruktur pengisian daya harus pemerintah percepat secara merata di seluruh Indonesia. Penguatan ekosistem industri kendaraan listrik nasional juga menjadi prioritas utama.

Baca Juga:  Cara Beli SBN SR 2026: Syarat, Return, dan Daftar Lengkap

“Transisi ke kendaraan listrik bukan hanya menuju energi bersih, tetapi juga strategi konkret untuk penghematan devisa dan menjaga ketahanan fiskal,” kata Martinus.

Pada akhirnya, adopsi masif kendaraan listrik di Indonesia bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Langkah ini akan melindungi APBN dari gejolak harga minyak global sekaligus membuka peluang ekonomi baru di era transisi energi.

Salsabilla Putri

Penulis di Cikadu.id