Cikadu.id – Adopsi kendaraan listrik global mencatat pencapaian signifikan dengan menghemat 2,3 juta barel minyak per hari pada 2025. Angka ini melonjak dari proyeksi pemodelan terbaru BloombergNEF yang merilis data per 2026.
Claudio Lubis, analis minyak BloombergNEF, menyatakan bahwa tren ini akan terus menguat. Proyeksi menunjukkan penghematan bakal naik lebih dari dua kali lipat menjadi 5,25 juta barel minyak per hari pada 2030.
Fenomena ini mencerminkan pergeseran masif masyarakat global menuju mobilitas bertenaga baterai. Semakin banyak konsumen yang meninggalkan kendaraan berbahan bakar fosil hingga akhir dekade ini.
Kendaraan Listrik Roda Dua Jadi Kontributor Terbesar 2025
Menariknya, kendaraan roda dua dan roda tiga menyumbang penghematan bahan bakar fosil paling besar saat ini. Maraknya pemanfaatan sepeda motor listrik menjadi pemicu utama, terutama di negara-negara berkembang.
Berdasarkan perhitungan BloombergNEF, rincian penghematan minyak tahun 2025 menunjukkan dominasi motor listrik yang sangat jelas. Berikut breakdown lengkapnya:
| Jenis Kendaraan | Penghematan Minyak per Hari (2025) |
|---|---|
| Kendaraan Roda Dua & Tiga | 1,14 juta barel |
| Mobil Pribadi (Roda Empat) | 926,8 ribu barel |
| Bus | 229,8 ribu barel |
| Angkutan Umum | 217,9 ribu barel |
| Truk Komersial | 194,2 ribu barel |
Selain itu, motor listrik menjadi pilihan favorit di pasar Asia karena harga yang lebih terjangkau dibanding mobil listrik. Faktor aksesibilitas ini mempercepat penetrasi pasar secara masif.
Proyeksi 2030: Mobil Pribadi Listrik Ambil Alih Posisi Teratas
Namun, dinamika akan berubah drastis menjelang 2030. Kendaraan pribadi roda empat bakal mengambil alih posisi teratas sebagai kontributor penghematan minyak terbesar.
Proyeksi BloombergNEF menunjukkan estimasi penghematan mencapai 2,09 juta barel minyak per hari dari mobil pribadi listrik. Angka ini hampir dua kali lipat dari kontribusi motor listrik yang mencapai 1,35 juta barel per hari.
| Jenis Kendaraan | Proyeksi Penghematan per Hari (2030) |
|---|---|
| Mobil Pribadi (Roda Empat) | 2,09 juta barel |
| Kendaraan Roda Dua & Tiga | 1,35 juta barel |
| Angkutan Umum | 775,1 ribu barel |
| Truk Komersial | 721,7 ribu barel |
| Bus | 315,7 ribu barel |
Pergeseran ini mencerminkan penurunan harga mobil listrik dan peningkatan infrastruktur pengisian daya di negara-negara maju. Dengan demikian, mobil pribadi listrik menjadi semakin kompetitif terhadap mobil bensin.
Angkutan Komersial Mulai Bergerak Signifikan
Tidak hanya itu, sektor transportasi komersial juga menunjukkan pertumbuhan menjanjikan. Angkutan umum dan truk komersial berkontribusi hampir 1,5 juta barel per hari pada 2030, naik tajam dari posisi 2025.
Kemudian, adopsi bus listrik juga mengalami percepatan meski kontribusinya masih relatif kecil. Faktor utamanya adalah investasi infrastruktur bus listrik yang membutuhkan biaya besar dan komitmen jangka panjang dari pemerintah daerah.
Tantangan Kebijakan dan Volatilitas Harga Minyak
Meski begitu, beberapa kebijakan berpotensi menahan laju penjualan kendaraan listrik global tahun ini. Penghapusan subsidi terkait kendaraan listrik di Cina menjadi salah satu tantangan utama yang harus industri hadapi.
Di sisi lain, Eropa mengalami perubahan atau pelonggaran kebijakan penghentian penjualan kendaraan bermesin pembakaran internal pada 2035. Relaksasi ini sempat menimbulkan kekhawatiran akan perlambatan transisi energi.
Namun, melonjaknya harga bahan bakar akibat perang di Timur Tengah justru membalikkan keadaan. Volatilitas harga minyak mendorong konsumen mencari alternatif yang lebih stabil dan hemat biaya.
Daan Walter, analis dari lembaga think tank bidang energi EMBER, menyatakan bahwa kendaraan listrik semakin kompetitif dari segi biaya dibandingkan mobil bertenaga bensin. Oleh karena itu, banyak negara mulai melihat kendaraan listrik sebagai pilihan strategis untuk melindungi ekonomi dari guncangan masa depan.
Asia Memimpin Adopsi Kendaraan Listrik Global
Negara-negara di Asia termasuk yang paling cepat mengadopsi kendaraan listrik berdasarkan analisis EMBER terbaru 2026. Cina mencatatkan pencapaian bersejarah dengan 50 persen penjualan mobil berjenis mobil listrik—baik baterai murni maupun hibrid plug-in—untuk pertama kalinya pada 2025.
Faktanya, Vietnam juga menunjukkan pertumbuhan luar biasa dengan persentase mencapai 38 persen. Thailand tidak kalah agresif dengan angka 21 persen penjualan kendaraan listrik dari total pasar otomotif mereka.
Ketiga negara ini membuktikan bahwa transisi energi di sektor transportasi bukan lagi wacana, melainkan realitas yang sudah berjalan. Bahkan, kecepatan adopsi mereka melampaui proyeksi awal banyak analis internasional.
Perbedaan Metodologi EMBER dan BloombergNEF
Ternyata, perhitungan penghematan minyak dari EMBER sedikit berbeda dengan BloombergNEF. EMBER mencatat penghematan sekitar 1,7 juta barel per hari pada 2025, lebih rendah dari estimasi BloombergNEF yang mencapai 2,3 juta barel.
Perbedaan ini muncul karena EMBER juga menghitung penggunaan bahan bakar minyak oleh mobil listrik jenis hibrid plug-in. Metodologi yang lebih konservatif ini memberikan gambaran lebih realistis tentang dampak bersih kendaraan listrik terhadap konsumsi minyak.
Dampak Ekonomi: Penghematan Miliaran Dolar
Bila rata-rata harga minyak berada di level US$80 per barel, dampak ekonomi dari adopsi kendaraan listrik sangat signifikan. EMBER memperkirakan Cina bisa menghemat lebih dari US$28 miliar per tahun berkat transisi ke kendaraan bertenaga baterai.
Sementara itu, Eropa berpotensi menghemat US$8 miliar per tahun, angka yang cukup besar untuk memperkuat ketahanan energi regional. India, meski baru di tahap awal adopsi, sudah bisa menghemat US$600 juta per tahun dari pengurangan impor minyak.
Penghematan ini bukan hanya soal angka, tetapi juga tentang kedaulatan energi. Negara-negara yang bergantung pada impor minyak kini memiliki opsi untuk mengurangi ketergantungan tersebut melalui elektrifikasi transportasi.
Lebih dari itu, penghematan devisa ini bisa pemerintah alokasikan untuk pembangunan infrastruktur listrik, riset teknologi baterai, atau subsidi untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik lebih luas lagi.
Transisi global menuju kendaraan listrik terus menunjukkan momentum positif meski menghadapi berbagai tantangan kebijakan. Penghematan 2,3 juta barel minyak per hari pada 2025 dan proyeksi 5,25 juta barel per hari pada 2030 membuktikan bahwa masa depan mobilitas sudah tiba. Dengan dukungan kebijakan yang konsisten dan investasi infrastruktur yang memadai, target pengurangan emisi dan ketahanan energi global semakin dekat tercapai.




