Cikadu.id – Indonesia menempatkan ketahanan pangan sebagai prioritas utama pembangunan nasional di tengah ancaman perang, krisis iklim, dan disrupsi teknologi. Presiden Prabowo Subianto menegaskan swasembada pangan menjadi fondasi ketahanan nasional yang tidak bisa lagi pemerintah kompromikan. Kebijakan ini sejalan dengan pemikiran Presiden pertama RI, Soekarno, yang menyatakan bahwa pangan merupakan hidup-matinya sebuah bangsa.
Pakar kelautan dan tokoh nasional Rokhmin Dahuri menekankan bahwa pangan bukan sekadar urusan ekonomi. Pangan kini menjadi fondasi politik, sosial, dan keamanan negara yang menentukan daya tahan bangsa menghadapi guncangan global.
“Bangsa yang mampu menjamin pangan bagi rakyatnya akan lebih kuat menghadapi guncangan global, baik berupa perang, perubahan iklim, maupun disrupsi teknologi,” ujar Rokhmin dengan tegas.
Pangan: Kebutuhan Paling Vital dari Lima Kebutuhan Dasar
Dari lima kebutuhan dasar manusia—pangan, sandang, papan, kesehatan, dan pendidikan—pangan menempati posisi paling vital. Alasannya sederhana namun fundamental: pangan sangat menentukan kualitas sumber daya manusia dan daya saing bangsa.
“Kecerdasan seseorang ditentukan oleh asupan gizi. Tanpa pangan yang cukup, bangsa akan kehilangan daya saing,” jelas Rokhmin. Pernyataan ini menegaskan bahwa ketahanan pangan bukan hanya soal mengisi perut, melainkan investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa.
Penelitian Food and Agriculture Organization (FAO) memperkuat argumen ini. Menurut FAO, negara dengan penduduk lebih dari 100 juta jiwa yang masih bergantung pada impor pangan akan sulit menjadi negara maju, makmur, dan berdaulat. Indonesia, dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa, jelas masuk dalam kategori ini.
Oleh karena itu, langkah Presiden Prabowo menempatkan swasembada pangan sebagai prioritas utama bukan sekadar retorika politik. Ini merupakan keputusan strategis yang akan menentukan nasib Indonesia di panggung global.
Kondisi Global Makin Tidak Menentu: Konflik dan Krisis Iklim
Kondisi global saat ini semakin tidak menentu akibat konflik geopolitik yang memanas di berbagai belahan dunia. Perang dan ketegangan internasional menurunkan produktivitas pertanian serta mengganggu rantai pasok pangan global.
Belum lagi dampak perubahan iklim yang semakin nyata. Cuaca ekstrem, kekeringan berkepanjangan, dan banjir bandang mengancam produksi pangan di berbagai negara. Kondisi ini memaksa setiap negara untuk memperkuat produksi dalam negeri dan cadangan pangan nasional.
“Kondisi global saat ini semakin tidak menentu akibat konflik geopolitik dan dampak perubahan iklim yang menurunkan produktivitas pertanian serta mengganggu rantai pasok pangan dunia,” papar Rokhmin menjelaskan urgensi swasembada pangan.
Krisis pangan bukan hanya berdampak pada ekonomi. Bahkan, krisis pangan dapat memicu instabilitas politik dan sosial di berbagai negara. “Pangan bukan hanya masalah ekonomi, tapi juga politik. Jika impor terganggu, harga pupuk dan pangan bisa melambung, rakyat menderita, dan stabilitas negara terancam,” kata Rokhmin memperingatkan.
Produksi Beras Nasional Sudah Surplus: 34 Juta Ton vs 32 Juta Ton
Kabar baik datang dari sektor beras. Rokhmin menyampaikan bahwa produksi beras nasional menunjukkan tren positif dan telah berada pada kondisi surplus. Angkanya cukup melegakan: produksi mencapai sekitar 34 juta ton, sementara kebutuhan nasional hanya sekitar 32 juta ton.
“Alhamdulillah, beras kita sudah surplus. Produksi mencapai sekitar 34 juta ton, sementara kebutuhan nasional sekitar 32 juta ton,” ungkap Rokhmin dengan penuh syukur.
Namun, tantangan ke depan bukan hanya soal produksi. Pemerintah harus memastikan akses pangan yang adil dan merata bagi seluruh masyarakat Indonesia. Surplus produksi tidak akan berarti apa-apa jika distribusinya timpang dan masyarakat kecil tetap kesulitan mengakses pangan berkualitas.
“Persoalan bukan hanya produksi, tetapi akses rakyat terhadap pangan yang adil dan merata,” tegas Rokhmin mengingatkan pemerintah untuk tidak hanya fokus pada angka produksi semata.
Komoditas Strategis: Sudah Swasembada vs Masih Bergantung Impor
Beberapa komoditas strategis telah mencapai swasembada dan patut masyarakat apresiasi. Jagung, garam, dan cabai kini dapat Indonesia produksi sendiri tanpa bergantung pada impor. Pencapaian ini menunjukkan bahwa swasembada bukan mimpi kosong.
Di sisi lain, beberapa komoditas lain masih bergantung pada impor dan terus pemerintah upayakan peningkatan produksinya. Gandum, kedelai, bawang putih, dan daging sapi masih Indonesia impor dalam jumlah signifikan. Ketergantungan ini menjadi pekerjaan rumah besar yang harus pemerintah selesaikan.
Meski begitu, capaian swasembada pada komoditas seperti jagung, garam, dan cabai membuktikan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk mandiri pangan. Tinggal bagaimana pemerintah mereplikasi kesuksesan ini pada komoditas lainnya.
Inovasi Teknologi: Digitalisasi, Bioteknologi, dan Kecerdasan Buatan
Rokhmin juga menyoroti pentingnya inovasi teknologi dalam sektor pangan sebagai jawaban atas tantangan global. Digitalisasi pertanian, bioteknologi, dan kecerdasan buatan dinilai dapat meningkatkan efisiensi produksi, distribusi, dan konsumsi pangan di masa depan.
Teknologi bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan mendesak. Dengan teknologi, petani dapat memantau kondisi lahan secara real-time, memprediksi cuaca, mengoptimalkan penggunaan pupuk, dan meningkatkan hasil panen secara signifikan.
Namun, Rokhmin mengingatkan bahwa teknologi harus pemerintah integrasikan dengan kebijakan yang berpihak pada petani, nelayan, dan masyarakat kecil. Jangan sampai teknologi canggih hanya menguntungkan korporasi besar, sementara petani kecil semakin tersingkir.
“Teknologi harus diintegrasikan dengan kebijakan yang berpihak pada petani, nelayan, dan masyarakat kecil agar manfaatnya dapat dirasakan secara merata,” tegas Rokhmin memastikan teknologi tidak menciptakan kesenjangan baru.
Pemerintah Perkuat Sektor Pertanian Lewat Program Strategis
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah terus memperkuat sektor pertanian melalui berbagai program strategis. Peningkatan produksi, optimalisasi lahan, pembangunan dan rehabilitasi irigasi, penyediaan pupuk, modernisasi pertanian, serta penguatan cadangan pangan nasional menjadi fokus utama.
“Ketahanan pangan adalah benteng terakhir bangsa. Kalau pangan kita aman, negara aman. Kalau pangan terganggu, stabilitas bisa terganggu,” ujar Amran dengan nada serius. “Karena itu produksi harus terus meningkat, pertanian harus maju, dan cadangan pangan nasional harus kita perkuat.”
Mentan menambahkan bahwa ketahanan pangan harus menjadi gerakan bersama seluruh elemen bangsa. Pemerintah, swasta, petani, nelayan, akademisi, dan masyarakat harus bersinergi karena pangan merupakan faktor penentu kedaulatan dan masa depan bangsa Indonesia.
Benteng Terakhir Bangsa yang Tidak Boleh Runtuh
Rokhmin menyampaikan pesan kuat bahwa ketahanan pangan merupakan benteng terakhir bangsa. Tanpa pangan yang cukup, sehat, dan terjangkau, ketahanan nasional akan rapuh menghadapi badai global yang terus menerjang.
“Ketahanan pangan adalah benteng terakhir yang menentukan daya tahan bangsa. Tanpa pangan yang cukup, sehat, dan terjangkau, ketahanan nasional akan rapuh menghadapi badai global,” ujar Rokhmin menutup pernyataannya dengan pesan yang menggugah.
Indonesia kini berada di persimpangan jalan. Pilihan untuk mandiri pangan atau terus bergantung pada impor akan menentukan nasib bangsa ini di masa depan. Dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa, Indonesia tidak punya pilihan lain selain swasembada pangan jika ingin menjadi negara maju, makmur, dan berdaulat.
Komitmen Presiden Prabowo, dukungan Menteri Pertanian Andi Amran, dan kesadaran seluruh elemen bangsa menjadi kunci keberhasilan. Ketahanan pangan bukan lagi wacana—ini adalah kebutuhan mendesak yang harus Indonesia wujudkan untuk melindungi kedaulatan dan masa depan bangsa.




