Musim Kemarau 2026: Wilayah Ini Berpotensi Panas Ekstrem

Musim Kemarau 2026: Wilayah Ini Berpotensi Panas Ekstrem

Musim Kemarau 2026: Wilayah Ini Berpotensi Panas Ekstrem

Cikadu.idBMKG memprediksi sejumlah wilayah di Indonesia akan mulai merasakan suhu panas lebih tinggi pada periode awal musim kemarau 2026, tepatnya mulai April mendatang. Beberapa daerah bahkan sudah bersiap mengalami suhu relatif tinggi dibanding wilayah lainnya, meski belum mencapai puncak panas tahunan.

Prediksi ini BMKG sampaikan dalam laporan Climate Outlook 2026 yang mengungkap proyeksi iklim sepanjang tahun depan. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, merilis data lengkap terkait suhu rata-rata tahunan Indonesia dalam konferensi pers daring pada Selasa, 23 Desember lalu.

Informasi ini menjadi penting bagi masyarakat untuk mempersiapkan diri menghadapi cuaca panas yang akan segera tiba.

Prediksi Suhu Rata-Rata Indonesia Sepanjang 2026

BMKG memproyeksikan suhu rata-rata tahunan di Indonesia berada di kisaran 25-29 derajat Celsius sepanjang 2026. Angka ini mencerminkan kondisi iklim normal tahunan yang biasa Indonesia alami.

“Sepanjang 2026, kami memprediksikan bahwa suhu di Indonesia berkisar antara 25-29°C untuk rata-rata tahunannya,” ungkap Ardhasena dalam konferensi pers tersebut.

Namun, suhu ini bukan berarti merata di seluruh wilayah. Beberapa daerah akan merasakan panas lebih ekstrem, sementara wilayah dataran tinggi tetap sejuk seperti biasa.

Wilayah yang Berpotensi Mengalami Suhu Panas Ekstrem

Wilayah yang berpotensi terasa “lebih terpanggang” sejak awal musim kemarau umumnya berada di zona dengan proyeksi suhu di atas 28 derajat Celsius. Daerah-daerah ini perlu ekstra waspada menghadapi cuaca panas ekstrem.

Daftar wilayah berpotensi panas ekstrem meliputi sebagian Sumatra bagian selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, pesisir utara Jawa, hingga Papua Selatan. Masyarakat di wilayah-wilayah ini perlu menyiapkan strategi adaptasi menghadapi suhu tinggi.

Baca Juga:  3 Prajurit TNI Gugur Lebanon Dipulangkan Besok

Selain itu, jika BMKG bandingkan dengan rata-rata klimatologis periode 1991-2020, sebagian besar wilayah Indonesia juga akan mengalami kondisi lebih hangat dengan anomali suhu sekitar 0,2 hingga 0,6 derajat Celsius.

“Jadi secara akumulatif rata-rata nasional tahun 2026 itu berada di dalam range dari temperatur yang pernah terjadi selama beberapa tahun terakhir,” jelas Ardhasena.

Dataran Tinggi Tetap Menawarkan Kesejukan

Berbeda dengan wilayah dataran rendah, dataran tinggi di Indonesia masih akan menawarkan suhu sejuk meski musim kemarau tiba. Wilayah pegunungan menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin menghindari panas ekstrem.

BMKG memperkirakan wilayah dataran tinggi seperti Bukit Barisan di Sumatra, Pegunungan Latimojong di Sulawesi, dan Pegunungan Jaya Wijaya di Papua tetap lebih sejuk dengan suhu di bawah 25 derajat Celsius.

Perbedaan suhu signifikan antara dataran rendah dan tinggi ini menciptakan variasi iklim mikro yang menarik di berbagai wilayah Indonesia.

Puncak Musim Kemarau Agustus-September 2026

BMKG memperkirakan puncak musim kemarau baru akan terjadi pada Agustus hingga September 2026, dengan suhu rata-rata bulanan mencapai 25,5 hingga 30 derajat Celsius. Periode ini menjadi waktu terpanas sepanjang tahun.

Meski begitu, tren pemanasan sudah mulai terasa sejak bulan-bulan awal kemarau, termasuk April mendatang. Masyarakat perlu mulai bersiap sejak dini menghadapi kenaikan suhu bertahap.

Faktanya, anomali suhu udara permukaan pada 2026 secara umum berada di kisaran -0,5 hingga +0,6 derajat Celsius. Wilayah dengan anomali tertinggi BMKG prediksi terjadi di Kalimantan Timur dan sebagian Jambi.

Sementara itu, anomali terendah berada di dataran tinggi Jawa Tengah dan beberapa wilayah Nusa Tenggara yang cenderung lebih stabil suhunya.

Perbandingan dengan Kondisi Ekstrem 2024

Kabar baiknya, tingkat panas pada 2026 BMKG prediksi tidak akan menyamai kondisi ekstrem yang terjadi pada 2024. Tahun depan akan lebih “bersahabat” dibanding dua tahun lalu.

Baca Juga:  Adu Kuluwung Bogor: Tradisi Meriam Karbit Pasca Lebaran

“Kita memang ekspektasikan tahun 2026 itu tidak sepanas tahun 2024. Demikian pula prediksi pusat global iklim lainnya di negara lain itu mayoritas dikarenakan saat ini berlangsung fenomena La Nina,” tutur Ardhasena.

Fenomena La Nina biasanya ikut secara temporer mendinginkan suhu permukaan bumi selama kurang lebih 1 tahun hingga 1,5 tahun. Efek pendinginan alami ini membantu menjaga suhu tetap dalam batas normal.

Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan menghadapi musim kemarau 2026. Persiapan yang matang dan adaptasi bijak sudah cukup untuk menghadapi suhu panas yang akan datang.

Prediksi BMKG ini memberikan gambaran komprehensif bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk menyiapkan strategi mitigasi dampak kemarau, mulai dari penyediaan air bersih hingga pencegahan kebakaran hutan dan lahan di wilayah rawan panas ekstrem.

Salsabilla Putri

Penulis di Cikadu.id