Cikadu.id – PT Pertamina (Persero) mempercepat pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) sebagai respons terhadap dinamika geopolitik global yang mempengaruhi stabilitas pasokan dan harga energi fosil. Vice President Corporate Communication PT Pertamina Muhammad Baron mengumumkan langkah strategis ini untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah volatilitas pasar energi dunia.
Pengembangan energi terbarukan Pertamina bukan sekadar target korporat, melainkan kontribusi nyata untuk mendukung Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) Pemerintah menuju masa depan berkelanjutan. Baron menegaskan bahwa bauran energi yang lebih hijau akan meningkatkan independensi energi Indonesia sekaligus mengurangi jejak karbon.
Produksi Energi Bersih Pertamina Capai 8.743 GWh
Hingga akhir tahun 2026, Pertamina mencatat produksi energi bersih mencapai 8.743 Giga watt per jam (GWh) dari berbagai sumber energi rendah karbon. Angka ini menunjukkan komitmen serius perusahaan pelat merah dalam transisi energi nasional.
Kapasitas terpasang pembangkit energi terbarukan Pertamina mencapai 3.271 Mega Watt (MW). Panas bumi atau geothermal menjadi tulang punggung dengan kontribusi terbesar dalam portofolio energi bersih perusahaan.
Ragam Sumber Energi Terbarukan yang Pertamina Kembangkan
Pertamina mengoperasikan beragam jenis pembangkit energi terbarukan dengan kapasitas yang cukup signifikan. Berikut rincian lengkap kapasitas terpasang masing-masing sumber energi:
- Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg): 2,4 MW
- Gas to Power dari Jawa Satu Power: 1.760 MW
- Gas to Power dari Pertamina Power Indonesia: 12,9 MW
- Solar dari Pertamina Power Indonesia: 55,3 MW
- Energi Panas Bumi: 772,5 MW
- Tenaga Surya CREC Filipina: 669,3 MW
Selain itu, kepemilikan saham subholding Pertamina New & Renewable Energy pada perusahaan Filipina Citicore Renewable Energy Corporation (CREC) menghasilkan pembangkit listrik tenaga surya sebesar 669,3 MW. Ekspansi ke luar negeri ini menunjukkan ambisi Pertamina menjadi pemain regional di sektor energi terbarukan.
252 Desa Energi Berdikari Tersebar di Seluruh Indonesia
Pertamina tidak hanya fokus pada proyek energi berskala komersial. Perusahaan juga mendorong pemanfaatan energi bersih di tingkat masyarakat melalui program Desa Energi Berdikari (DEB).
Hingga kini, Pertamina membangun 252 DEB di seluruh Indonesia untuk mengembangkan energi transisi berbasis lokal. Program ini mencakup instalasi panel surya, mikrohidro, biogas, dan sumber energi terbarukan lainnya yang sesuai dengan kondisi geografis masing-masing desa.
“Kami berharap dengan pemanfaatan energi transisi, masyarakat desa tidak hanya memiliki ketahanan energi, tetapi juga penggerak aktivitas ekonomi,” ujar Baron.
Dampak Nyata Program DEB untuk Ketahanan Pangan Nasional
Dari 252 lokasi DEB yang Pertamina bangun, sebanyak 156 lokasi terbukti mampu memproduksi pangan secara mandiri. Data menunjukkan hasil yang cukup impresif untuk mendukung ketahanan pangan nasional.
Total produksi pangan dari 156 DEB tersebut mencapai 15,8 ribu ton bahan pangan beras dan 890,4 ton bahan pangan non beras. Angka ini membuktikan bahwa energi terbarukan bukan hanya solusi lingkungan, tetapi juga katalis pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Nah, menariknya, ketersediaan energi bersih yang stabil memungkinkan petani mengoperasikan pompa irigasi, penggilingan padi, dan peralatan pertanian modern lainnya tanpa bergantung pada bahan bakar fosil yang mahal.
Energi Transisi Dongkrak Ekonomi Desa
Akses ke energi bersih membuka peluang usaha baru bagi warga desa. Selain pertanian, masyarakat bisa mengembangkan industri rumahan, pendinginan hasil panen, hingga usaha mikro yang membutuhkan pasokan listrik stabil.
Dengan demikian, program DEB tidak sekadar menyediakan listrik, melainkan menciptakan ekosistem ekonomi desa yang lebih produktif dan mandiri.
Respons Strategis Terhadap Gejolak Geopolitik Global
“Dinamika geopolitik global mempengaruhi stabilitas pasokan dan harga energi fosil. Oleh karena itu, Pertamina terus memperkuat bauran energi melalui pengembangan energi baru terbarukan,” jelas Baron.
Gejolak geopolitik seperti konflik di berbagai kawasan, sanksi ekonomi, dan perubahan kebijakan energi negara-negara produsen minyak menciptakan ketidakpastian pasar. Harga energi fosil yang fluktuatif berdampak langsung pada biaya produksi industri dan daya beli masyarakat.
Maka dari itu, diversifikasi sumber energi menjadi strategi krusial untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor energi fosil. Pertamina menempatkan energi terbarukan sebagai pilar utama ketahanan energi jangka panjang.
Independensi Energi Nasional yang Lebih Kuat
Upaya Pertamina mengembangkan energi terbarukan tidak hanya meningkatkan independensi energi nasional, tetapi juga menjadi bagian dari komitmen Indonesia untuk energi yang lebih bersih bagi lingkungan.
Target penurunan emisi karbon yang pemerintah tetapkan dalam RUEN sejalan dengan portofolio energi hijau Pertamina. Transisi energi bukan lagi wacana, melainkan implementasi nyata yang terukur.
Komitmen Pertamina untuk Masa Depan Energi Indonesia
Ke depan, Pertamina berkomitmen memperluas inisiatif berbasis energi bersih dan pemberdayaan masyarakat. Perusahaan menargetkan Indonesia tidak hanya mampu menghadapi gejolak ekonomi dan perubahan iklim, tetapi juga tumbuh menjadi pusat kemandirian energi dan ekonomi baru.
Pemanfaatan energi baru terbarukan ini sejalan dengan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) Pemerintah untuk tahun-tahun mendatang. Pertamina mendorong transisi energi bukan hanya sebagai sumber energi alternatif, namun sebagai upaya menurunkan emisi karbon di Indonesia.
Pada akhirnya, langkah strategis Pertamina dalam mengembangkan energi terbarukan menunjukkan visi jangka panjang untuk ketahanan energi nasional. Kombinasi antara proyek komersial berskala besar dan pemberdayaan energi tingkat desa menciptakan ekosistem energi yang inklusif dan berkelanjutan untuk seluruh lapisan masyarakat Indonesia.




