Cikadu.id – Prajurit Kepala (Praka) Farizal Rhomadhon gugur dalam menjalankan misi perdamaian di Lebanon. Prajurit TNI Angkatan Darat asal Ledok, Kelurahan Sidorejo, Kapanewon Lendah, Kabupaten Kulon Progo ini menghembuskan napas terakhir saat menjalankan tugas mulia sebagai pasukan penjaga perdamaian PBB.
Kabar duka ini langsung menggemparkan kampung halaman Farizal. Warga Dusun Ledok kehilangan sosok pemuda yang mereka kenal sebagai pribadi baik dan aktif di berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.
TNI sebelumnya menempatkan Farizal di wilayah Aceh sebelum kemudian mengutusnya ke Lebanon untuk misi perdamaian internasional. Pengabdiannya untuk negara kini berakhir dengan cara yang paling mulia bagi seorang prajurit.
Kenangan Masa Kecil Hingga Bergabung dengan TNI
Wakidi, Dukuh Ledok, masih ingat betul sosok Farizal sejak kecil. Pemuda yang tumbuh besar di kampung itu tinggal di Dusun Ledok mulai dari masa kanak-kanak hingga menyelesaikan pendidikan SMA.
“Masih muda, waktu dulu itu ya sering mengikuti Sub Karang Taruna di Dusun Ledok itu,” kenang Wakidi saat berbincang dengan wartawan pada Senin (30/3).
Sekitar tahun 2017, Farizal memutuskan untuk mengabdikan diri sebagai prajurit TNI. Keputusan ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga Dusun Ledok yang menyaksikan salah satu pemuda mereka berhasil meraih cita-cita mulia.
Meski sudah mengenakan seragam militer, Farizal tidak pernah melupakan akar dan kampung halamannya. Bahkan, ia tetap menunjukkan kepedulian tinggi terhadap berbagai aktivitas di desa kelahirannya.
Tetap Peduli Kampung Halaman Meski Bertugas Jauh
Dedikasi Farizal tidak hanya untuk negara, tetapi juga untuk kampung halamannya. Meski bertugas di luar daerah, ia tetap aktif berkontribusi dalam berbagai kegiatan di Dusun Ledok.
“Ada kegiatan apa saja itu mengikuti dan mendukung sampai sekarang itu kalau muda-mudi punya istilah punya kegiatan sering membantu. Sering membantu walaupun membantu sekadar uang,” ungkap Wakidi.
Kontribusi Farizal untuk kampung halaman menunjukkan karakternya yang tidak pernah lupa asal. Selain itu, sikap ini juga membuktikan bahwa ia memiliki jiwa sosial yang tinggi, tidak hanya sebagai prajurit tetapi juga sebagai warga masyarakat.
Wakidi sempat bertemu dengan Farizal pada perayaan Lebaran tahun lalu. Saat itu, Farizal pulang kampung untuk bersilaturahmi dengan keluarga dan warga desa.
Pertemuan tersebut menjadi momen berharga, karena ternyata menjadi kesempatan terakhir bagi Wakidi dan warga untuk berjumpa dengan sosok pemuda yang mereka banggakan itu.
Keluarga yang Farizal Tinggalkan
Farizal meninggalkan keluarga kecilnya yang kini harus merelakan kepergian sang kepala keluarga. Ia sudah menikah dengan seorang wanita asal Kebumen dan rumah tangga mereka telah memiliki seorang putri yang baru berusia dua tahun.
Kepergian Farizal tentu menjadi kehilangan yang sangat berat bagi istri dan anak semata wayangnya. Sang putri kecil harus tumbuh besar tanpa kehadiran sosok ayah yang seharusnya menjadi pelindung dan pembimbing hidupnya.
Di kampung halaman, Farizal meninggalkan kedua orang tuanya serta seorang kakak perempuan. Keluarga besar ini kini harus menerima kenyataan pahit bahwa anak dan adik mereka gugur dalam tugas negara.
“[Di sini] Orang tua dua, saudaranya satu. Kakanya perempuan,” jelas Wakidi mengenai keluarga yang Farizal tinggalkan di kampung halaman.
Suasana Duka di Rumah Keluarga Praka Farizal
Berdasarkan pantauan di lokasi, rumah duka sudah ramai dengan aktivitas persiapan. Warga sekitar menunjukkan rasa kebersamaan dan empati yang tinggi dengan bergotong royong membersihkan area sekitar rumah keluarga Farizal.
Tenda dan deretan kursi sudah terpasang rapi di halaman rumah untuk menampung pelayat yang berdatangan. Suasana duka yang kental terasa di setiap sudut rumah keluarga prajurit yang gugur tersebut.
Beberapa warga tampak sudah mulai berdatangan untuk melayat dan memberikan dukungan moral kepada keluarga yang berduka. Namun, lebih dari sekadar pelayatan, kehadiran warga juga menunjukkan penghormatan mereka terhadap pengorbanan Farizal untuk negara.
Gotong royong yang warga lakukan mencerminkan nilai-nilai kebersamaan yang masih kuat dalam masyarakat Indonesia, khususnya di pedesaan. Dalam situasi duka, solidaritas sosial menjadi kekuatan yang membantu keluarga melewati masa-masa sulit.
Pengabdian Prajurit TNI dalam Misi Perdamaian PBB
Gugurnya Praka Farizal Rhomadhon mengingatkan kita pada risiko tinggi yang prajurit TNI hadapi ketika mengemban tugas misi perdamaian internasional. Lebanon menjadi salah satu wilayah konflik yang memerlukan kehadiran pasukan penjaga perdamaian PBB.
Indonesia secara konsisten mengirimkan prajurit terbaiknya untuk berpartisipasi dalam misi perdamaian dunia. Kontribusi ini tidak hanya mengangkat nama baik Indonesia di mata internasional, tetapi juga menunjukkan komitmen bangsa untuk perdamaian global.
Meski penuh risiko, tugas misi perdamaian menjadi bukti profesionalisme dan keberanian prajurit TNI. Mereka rela meninggalkan keluarga dan kampung halaman untuk menjalankan mandat negara di wilayah-wilayah konflik.
Pengorbanan Farizal tidak akan sia-sia. Dedikasinya untuk perdamaian dunia menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia untuk terus mengabdi kepada negara dan kemanusiaan.
Kisah Praka Farizal Rhomadhon mengajarkan bahwa pengabdian sejati tidak mengenal batas wilayah. Dari kampung halaman di Kulon Progo hingga medan tugas di Lebanon, ia menunjukkan integritas dan tanggung jawab yang patut diteladani. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kekuatan untuk melewati masa duka ini.

