Protes No Kings AS: Jutaan Warga Tolak Trump 28 Maret

Protes No Kings AS: Jutaan Warga Tolak Trump 28 Maret

Protes No Kings AS: Jutaan Warga Tolak Trump 28 Maret

Cikadu.idProtes No Kings ketiga mengguncang Amerika Serikat pada Sabtu, 28 Maret 2026 waktu setempat. Jutaan warga dari berbagai kota besar hingga kota kecil turun ke jalan, menolak kepemimpinan Presiden Donald Trump yang mereka anggap otoriter layaknya seorang raja.

Gelombang aksi massa ini menjadi simbol kekhawatiran meluas terhadap arah demokrasi AS. Dua protes sebelumnya berlangsung pada Juni dan Oktober 2025 dengan tuntutan serupa.

BBC melaporkan, demonstrasi meluas dari New York City dan Los Angeles hingga kota-kota kecil yang jarang mendapat sorotan media. Skala mobilisasi warga kali ini melampaui dua aksi sebelumnya.

Ribuan Massa Padati Washington DC hingga St Paul

Di Washington DC, ribuan demonstran memadati National Mall hingga tangga Lincoln Memorial. Mereka membawa berbagai simbol perlawanan, termasuk patung-patung satire yang menggambarkan pejabat pemerintah.

Sementara itu, St Paul menjadi titik emosional gerakan ini. Aksi di kota tersebut muncul setelah kematian dua warga sipil dalam operasi penegakan imigrasi yang dilakukan pemerintah federal.

Protes No Kings kali ini tidak hanya melibatkan aktivis dan organisasi masyarakat sipil. Bahkan, sejumlah figur publik ikut memperkuat suara penolakan terhadap kebijakan Trump.

Bruce Springsteen Tampil, Nyanyikan Lagu Antipenegakan Imigrasi

Musisi legendaris Bruce Springsteen tampil di panggung aksi, memberikan dukungan moral kepada para demonstran. Ia menyuarakan kritik lewat lagu berjudul Streets of Minneapolis yang mengecam kebijakan imigrasi pemerintah.

Baca Juga:  HP Android Mirip iPhone 17 Air Murah 2026, Spek Gahar!

Kehadiran Springsteen menambah momentum gerakan. Lagu tersebut mencerminkan kemarahan publik terhadap operasi imigrasi yang mengakibatkan korban jiwa.

Tidak hanya di panggung, solidaritas juga muncul dari berbagai lapisan masyarakat. Profesional, mahasiswa, hingga pensiunan bergabung dalam aksi damai ini.

Bentrokan Pecah di Beberapa Kota, Aparat Respons Keras

Reuters mencatat, bentrokan kecil pecah di sejumlah kota. Polisi melakukan penangkapan terhadap demonstran di Dallas, sementara insiden kekerasan terjadi di Los Angeles.

Pemerintah federal merespons dengan pengerahan aparat keamanan secara masif. Mereka menggunakan langkah-langkah pengendalian massa untuk membubarkan kerumunan.

Meski begitu, aksi tetap berlangsung relatif damai di sebagian besar lokasi. Para penyelenggara menekankan protes ini sebagai ekspresi demokrasi yang sah.

Solidaritas Internasional: Warga AS di Luar Negeri Ikut Demo

Fenomena Protes No Kings melampaui batas geografis Amerika Serikat. Warga AS yang tinggal di luar negeri turut menggelar aksi solidaritas di kota-kota seperti Paris, London, dan Lisbon.

Bahkan, demonstrasi serupa berlangsung di Roma dan Berlin. Hal ini menunjukkan keprihatinan global terhadap situasi politik AS di bawah kepemimpinan Trump.

Latar Belakang Protes: Ekspansi Kekuasaan Eksekutif Trump

Sejak kembali menjabat pada 2025, Trump memperluas penggunaan kekuasaan eksekutif secara signifikan. Langkah ini mencakup pengerahan Garda Nasional dan penerapan kebijakan hukum kontroversial.

Para penyelenggara aksi menyatakan, protes ini bukan hanya soal penegakan hukum imigrasi federal. Mereka juga menolak kebijakan lain seperti perang di Iran dan meningkatnya biaya hidup yang membebani rakyat.

“Trump ingin memerintah kita sebagai seorang tiran. Tetapi ini Amerika, kekuasaan adalah milik rakyat, bukan milik calon raja atau kroni miliarder mereka,” ujar para penyelenggara seperti dikutip BBC pada Minggu, 29 Maret 2026.

Baca Juga:  Daftar 5 Program Mudik Gratis Lebaran 2026: Cara Daftar, Rute & Kuota Lengkap

Gedung Putih Sebut Protes sebagai “Sesi Terapi Gangguan Trump”

Gedung Putih merespons dengan nada meremehkan. Juru bicara pemerintah menyebut protes tersebut sebagai “sesi terapi gangguan Trump” yang tidak signifikan.

Pihak Gedung Putih bahkan mengklaim, satu-satunya orang yang peduli dengan aksi ini adalah para reporter yang mendapat bayaran untuk meliputnya. Pernyataan tersebut menuai kritik dari berbagai pihak.

Namun, fakta di lapangan berbicara lain. Mobilisasi massa dalam skala besar menunjukkan sentimen anti-Trump yang kian meluas di kalangan warga AS.

Signifikansi Gerakan: Bukan Hanya Jumlah, Tapi Sebaran Lokasi

Leah Greenberg, salah satu pendiri organisasi nirlaba progresif Indivisible yang memulai gerakan No Kings, memberikan perspektif penting tentang aksi Sabtu ini.

“Kisah utama dari mobilisasi Sabtu ini bukan hanya tentang berapa banyak orang yang berdemonstrasi, tetapi di mana mereka berdemonstrasi,” kata Greenberg.

Pernyataan tersebut menekankan bahwa kekuatan gerakan ini terletak pada sebarannya yang merata. Protes No Kings tidak hanya terpusat di kota-kota besar, tetapi juga menjangkau komunitas-komunitas kecil di seluruh negara bagian.

Gelombang Protes No Kings ketiga ini menandai perlawanan sipil yang semakin terorganisir terhadap kebijakan Trump. Dengan mobilisasi jutaan warga di 50 negara bagian dan dukungan internasional, gerakan ini menjadi barometer penting bagi masa depan demokrasi Amerika Serikat. Pertanyaan besarnya: akankah protes ini mampu mengubah arah kebijakan pemerintah, atau justru memperdalam polarisasi politik di negeri Paman Sam?

Salsabilla Putri

Penulis di Cikadu.id