Cikadu.id – Danantara Investment Management (DIM) segera merelang proyek Waste to Energy (WtE) atau sampah jadi listrik di enam lokasi baru. Direktur Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), Zulkifli, mengumumkan bahwa verifikasi keenam lokasi telah rampung dan lelang akan berlangsung dalam waktu dekat.
Pengumuman ini Zulkifli sampaikan di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Selasa (31 Maret 2026). Keenam lokasi proyek sampah jadi listrik tersebut mencakup Lampung Raya, Semarang Raya, Surabaya Raya, Serang Raya, Kabupaten Bekasi, dan Medan Raya.
Enam Lokasi Proyek WtE yang Siap Danantara Lelang
Zulkifli memastikan bahwa proses verifikasi untuk keenam lokasi proyek telah tim selesaikan. “Lampung Raya, Semarang Raya, Surabaya Raya, Serang Raya, Kabupaten Bekasi, Medan Raya. Ini sudah selesai. Dan sudah Danantara verifikasi, akan segera kami lelang,” ujar Zulkifli.
Selain itu, lokasi-lokasi ini pemerintah pilih berdasarkan potensi volume sampah dan kebutuhan energi di wilayah tersebut. Masing-masing lokasi memiliki target kapasitas pengolahan yang berbeda, menyesuaikan dengan kondisi daerah setempat.
Gelombang Pertama Sudah Bergulir dengan Investor China
Sebelum merelang enam lokasi baru ini, Danantara sebenarnya sudah menunjuk pemenang tender gelombang pertama proyek sampah jadi listrik. Menariknya, dua perusahaan asal China yang memenangkan tender ini akan menggarap proyek di Kota Bekasi, Jawa Barat, dan Denpasar, Bali.
Tidak hanya itu, Danantara juga membuka lelang untuk gelombang kedua secara paralel. Zulkifli menegaskan bahwa empat lokasi lain sudah memasuki tahap tender dan akan segera memasuki fase konstruksi. Keempat lokasi tersebut adalah Denpasar Raya, Kota Bekasi, Bogor Raya, dan Yogyakarta.
“Rapat hari ini kami sudah memutuskan, 4 lokasi sudah tender akan segera tim bangun. Denpasar Raya, Kota Bekasi, Bogor Raya, Yogyakarta, sudah tender,” jelas Zulkifli.
Perintah Presiden Prabowo dan Target Kapasitas 1.000 Ton
Penanganan sampah melalui teknologi Waste to Energy ini merupakan perintah langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Oleh karena itu, pemerintah memprioritaskan pembangunan fasilitas WtE dengan kapasitas besar untuk mengatasi permasalahan sampah di berbagai kota besar Indonesia.
Zulkifli menegaskan bahwa proyek ini menargetkan kapasitas pengolahan sampah hingga 1.000 ton per hari. Dengan kapasitas tersebut, pemerintah berharap dapat mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sekaligus menghasilkan energi listrik terbarukan.
Bahkan, proyek sampah jadi listrik ini menjadi salah satu program unggulan pemerintah dalam mencapai target energi bersih dan pengelolaan sampah berkelanjutan. Teknologi WtE dinilai efektif karena mampu mengubah limbah menjadi sumber daya energi yang bernilai ekonomis.
Timeline Proyek: Operasi 2027 hingga 2028
Pemerintah menetapkan target yang cukup ambisius untuk proyek-proyek Waste to Energy ini. Untuk gelombang pertama yang sudah menggaet investor, pemerintah menargetkan proyek mulai beroperasi pada awal 2027.
Sementara itu, untuk gelombang berikutnya termasuk enam lokasi yang akan Danantara lelang dalam waktu dekat, pemerintah menargetkan penyelesaian konstruksi dan operasional pada Mei 2028. Dengan demikian, dalam dua tahun ke depan, Indonesia akan memiliki setidaknya 10 fasilitas pengolahan sampah menjadi listrik yang beroperasi.
Target ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menangani dua permasalahan sekaligus: krisis sampah di kota-kota besar dan kebutuhan energi listrik yang terus meningkat. Proyek sampah jadi listrik menawarkan solusi win-win yang menguntungkan dari sisi lingkungan maupun ekonomi.
Manfaat Proyek WtE untuk Indonesia
Proyek Waste to Energy membawa sejumlah manfaat strategis bagi Indonesia. Pertama, teknologi ini mengurangi ketergantungan pada Tempat Pembuangan Akhir yang sudah semakin terbatas kapasitasnya di berbagai kota besar.
Kedua, proyek ini menghasilkan energi listrik terbarukan yang dapat mendukung kebutuhan pasokan listrik nasional. Kemudian, dari sisi lingkungan, pembakaran sampah dengan teknologi modern menghasilkan emisi yang jauh lebih rendah dibandingkan pembakaran konvensional atau pembusukan sampah di TPA.
Terakhir, proyek ini juga membuka peluang investasi dan transfer teknologi dari investor asing, khususnya dari negara-negara yang sudah lebih maju dalam teknologi pengolahan sampah. Nah, dengan melibatkan perusahaan internasional, Indonesia dapat mempercepat adopsi teknologi ramah lingkungan sekaligus menciptakan lapangan kerja baru.
Pada akhirnya, keberhasilan proyek sampah jadi listrik di berbagai daerah akan menjadi model pengelolaan sampah modern yang dapat pemerintah replikasi di kota-kota lain. Program ini membuktikan bahwa sampah bukan sekadar masalah, tetapi juga peluang untuk menghasilkan energi bersih dan berkelanjutan.