Punggungan Mayu: Fakta Gempa Bitung M7,6 Sulut

Punggungan Mayu: Fakta Gempa Bitung M7,6 Sulut

Punggungan Mayu: Fakta Gempa Bitung M7,6 Sulut

Cikadu.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut Punggungan Mayu sebagai lokasi sumber gempa Bitung berkekuatan M7,6 yang mengguncang wilayah Sulawesi Utara pada Kamis (2/4/2026). Gempa dengan kedalaman 33 kilometer ini masuk kategori megathrust yang memicu peringatan dini tsunami di beberapa wilayah terdampak.

Plt. Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono menjelaskan karakteristik gempa tersebut dalam konferensi pers daring pada Kamis (2/4/2026). “Kalau melihat kedalamannya cukup dangkal, 33 km, kalau kategori megathrust itu kan sampe kedalamannya sekitar puluhan kilometer, ini dangkal, di laut, dan ini termasuk megathrust ya, dari subduksi laut Maluku terhadap di wilayah Sulut,” ungkapnya.

Rahmat menambahkan bahwa subduksi laut Maluku menghunjam ke wilayah Sulawesi Utara dengan episenter berada di Punggungan Mayu. Mekanisme sesar naik pada gempa ini membuat potensi tsunami sangat tinggi dibandingkan dengan mekanisme mendatar. Alhasil, BMKG langsung merilis peringatan dini tsunami untuk beberapa wilayah yang berpotensi terdampak.

Apa Itu Punggungan Mayu dan Bagaimana Terbentuknya?

Memahami Punggungan Mayu memerlukan pengetahuan tentang rumitnya mekanisme tektonik yang membentuk Indonesia. Sejumlah ahli geologi menggunakan istilah suture untuk menggambarkan kompleksitas tektonik yang terjadi di wilayah Indonesia, termasuk di Pulau Sulawesi.

Studi dari Hall dan Wilson mengidentifikasi lima suture di Indonesia akibat tumbukan antara Lempeng Eurasia, Indo-Australian, Pasifik dan Laut Filipina. Kelima suture tersebut adalah Suture Sulawesi, Maluku, Sorong, Banda dan Kalimantan.

Lebih lanjut, Hall dan Wilson mengemukakan bahwa tatanan geologi Sulawesi terbentuk akibat proses tumbukan antara kontinen Paparan Sunda dan kontinen Australia. Proses ini menciptakan daerah akresi yang sangat kompleks, tersusun oleh fragmen ofiolit, busur kepulauan dan kontinen.

Baca Juga:  Prabowo ke Jepang 2026: Bahas Kerja Sama Strategis

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa pembentukan suture Sulawesi terjadi pada Kala Oligosen Akhir dan berlanjut hingga Miosen Awal. Menariknya, para ahli memperkirakan deformasi tersebut masih berlangsung hingga saat ini di tahun 2026.

Aktivitas Tektonik yang Membentuk Struktur Sulawesi

Aktivitas tektonik menghasilkan pola struktur geologi di Pulau Sulawesi dan mengaktifkan sesar-sesar yang ada. Proses ini juga mengakibatkan terangkatnya batuan ofiolit di timur Sulawesi, batuan berumur Pra Tersier di Sulawesi bagian barat dan jalur batuan metamorf di Sulawesi bagian tengah.

Sementara itu, kegiatan tektonik di wilayah Sulawesi Utara lebih banyak mendapat pengaruh dari tumbukan ganda antar busur kepulauan. Akibatnya, proses ini membentuk Punggungan Mayu di bagian timur Sulawesi utara dan timur Pulau Sangihe-Talaud.

Secara umum, pola struktur geologi di Pulau Sulawesi berarah barat laut-tenggara, utara-selatan dan barat daya-timur laut. Pola ini mencerminkan sejarah panjang interaksi antar lempeng tektonik yang membentuk wajah geologis pulau tersebut.

Sesar Aktif di Sulawesi yang Perlu Diwaspadai

Sesar Palu Koro menjadi struktur utama di Pulau Sulawesi. Namun, beberapa sesar lainnya juga menempati wilayah ini, seperti Sesar Matano, Gorontalo, Manado, Poso, Walanae, sesar naik Batui di lengan timur Sulawesi Tengah dan masih banyak lagi.

Sesar Palu Koro berarah barat laut-tenggara, membentang dari Teluk Palu lalu melewati lembah Palu, Koro hingga Teluk Bone. Para ahli menggolongkan sesar ini sebagai sesar mendatar mengiri (sinistral strike slip fault) dan tergolong sebagai sesar aktif.

Sebagian besar kejadian gempa bumi merusak di wilayah Provinsi Sulawesi Tengah bersumber dari pergerakan sesar ini. Di samping itu, para ahli juga mengidentifikasi sesar aktif lainnya yang pernah mengakibatkan terjadinya gempa bumi di Sulawesi Barat, Gorontalo, Poso, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, dan wilayah lainnya.

Baca Juga:  Investigasi 3 Prajurit TNI Gugur: Indonesia Desak PBB, Tak Minta Alasan Israel

Para ahli mengingatkan pentingnya untuk tidak mendirikan bangunan di atas sesar aktif. Langkah pencegahan ini menjadi krusial mengingat Indonesia merupakan wilayah rawan gempa dengan banyak sesar aktif yang tersebar di berbagai pulau.

Sejarah Gempa Besar di Wilayah Punggungan Mayu

Punggungan Mayu bertanggung jawab atas deretan gempa yang terjadi di wilayah Sulawesi Utara dan Kepulauan Sangir-Talaud. Selain itu, gempa di wilayah ini juga terjadi karena interaksi ganda antar busur kepulauan serta tunjaman palung Filipina.

Catatan sejarah mencatat beberapa gempa besar yang terjadi di wilayah ini pada tahun 1936, 1974 dan 1983. Ketiga gempa tersebut mengakibatkan bencana di Kepulauan Sangihe-Talaud dengan dampak yang signifikan terhadap masyarakat setempat.

Pola berulang dari gempa-gempa besar ini menunjukkan bahwa Punggungan Mayu memang menjadi zona seismik aktif yang perlu mendapat perhatian khusus. Para peneliti terus memantau aktivitas tektonik di wilayah ini untuk memberikan peringatan dini yang lebih akurat di masa mendatang.

Mekanisme Megathrust dan Potensi Tsunami

Gempa Bitung M7,6 masuk kategori megathrust dengan mekanisme sesar naik. BMKG menjelaskan bahwa sesar naik memiliki potensi menimbulkan tsunami yang sangat tinggi dibandingkan dengan mekanisme mendatar.

Kedalaman gempa yang mencapai 33 kilometer memang cukup dangkal untuk kategori megathrust yang umumnya mencapai puluhan kilometer. Faktanya, kedalaman yang dangkal ini justru meningkatkan potensi tsunami karena energi gempa lebih mudah mentransfer ke kolom air di atasnya.

Oleh karena itu, BMKG langsung mengambil langkah cepat dengan mengeluarkan warning tsunami begitu gempa terjadi. Sistem peringatan dini tsunami ini menjadi sangat penting untuk memberikan waktu evakuasi bagi masyarakat pesisir yang berpotensi terdampak.

Gempa dengan kekuatan M7,6 yang bersumber dari Punggungan Mayu ini mengingatkan kembali betapa aktifnya zona subduksi di wilayah Indonesia timur. Masyarakat di Sulawesi Utara dan sekitarnya perlu meningkatkan kewaspadaan dan memahami prosedur evakuasi saat terjadi gempa besar, terutama yang berpotensi memicu tsunami. Dengan pemahaman yang baik tentang mekanisme tektonik seperti Punggungan Mayu, diharapkan upaya mitigasi bencana dapat berjalan lebih efektif untuk melindungi jiwa dan harta benda masyarakat.

Baca Juga:  Gudang Kayu Terbakar di Sidoarjo, Kerugian Ratusan Juta

Wandi Setiawan

Penulis di Cikadu.id