Ragunan Raden Saleh: Kisah Kebun Binatang Tertua RI

Ragunan Raden Saleh: Kisah Kebun Binatang Tertua RI

Ragunan Raden Saleh: Kisah Kebun Binatang Tertua RI

Cikadu.id – Taman Margasatwa Ragunan menyimpan sejarah panjang yang berawal dari lahan pribadi pelukis legendaris Indonesia, Raden Saleh. Kebun binatang tertua di Indonesia ini pertama kali berdiri pada tahun 1864 di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, dengan nama Planten en Dierentuin yang diambil dari bahasa Belanda.

Bambang Wahyudi, Humas Ragunan, mengungkapkan fakta menarik ini dalam wawancara di lokasi pada Jumat (3/4/2026). Cikal bakal Ragunan ternyata lahir dari hobi sang maestro seni rupa yang sangat mencintai dunia satwa.

Motivasi Raden Saleh membangun kebun binatang pribadi cukup unik. Pelukis naturalis ini memelihara berbagai satwa eksotis sebagai objek lukisan di kediamannya.

Awal Mula Kebun Binatang Raden Saleh di Cikini

Pada pertengahan abad ke-19, Raden Saleh memiliki lahan seluas 10 hektar di kawasan Cikini. Lahan ini bukan sekadar tempat tinggal, melainkan studio alam terbuka bagi sang seniman.

“Itu milik bangsawan ternama Indonesia, Bapak Raden Saleh. Beliau pelukis naturalis yang sangat menyukai objek satwa. Motivasi beliau adalah menjadikan satwa-satwa tersebut sebagai objek lukisannya di rumah pribadinya,” ungkap Bambang.

Lokasi di Cikini menjadi saksi bisu proses kreatif Raden Saleh selama puluhan tahun. Di sinilah berbagai karya masterpiece sang pelukis lahir, dengan satwa-satwa eksotis sebagai model utama.

Koleksi Satwa Eksotis Sang Maestro Pelukis

Raden Saleh memelihara beragam satwa kesayangan di lahannya yang seluas 10 hektar. Namun, satu hewan menjadi favorit sang pelukis: harimau.

Baca Juga:  Artemis II Bawa Maskot Boneka Bulan Rise, Indikator Gravitasi Nol

Harimau sering menjadi subjek utama dalam karya-karya monumentalnya. Ketajaman Raden Saleh menangkap detail anatomi dan ekspresi binatang buas ini membuat lukisan-lukisannya begitu hidup dan dramatis.

Selain harimau, pelukis kelahiran Semarang ini juga memelihara berbagai satwa lain. Koleksinya mencerminkan kecintaan mendalam terhadap alam dan keanekaragaman hayati Nusantara.

Menariknya, kehadiran satwa-satwa eksotis di tengah kota Jakarta pada masa itu menjadi daya tarik tersendiri. Banyak masyarakat mulai penasaran dan ingin melihat langsung koleksi sang maestro.

Dibuka untuk Umum: Lahirnya Taman Raden Saleh

Antusiasme masyarakat yang tinggi mendorong Raden Saleh membuka lahannya untuk publik. Akibatnya, area pribadi ini bertransformasi menjadi taman satwa pertama yang terbuka untuk umum di Indonesia.

Nama Taman Raden Saleh resmi disematkan untuk menghormati sang pemilik. Tempat ini menjadi destinasi favorit warga Jakarta dan sekitarnya yang ingin melihat satwa eksotis tanpa harus pergi ke hutan atau luar negeri.

Dengan demikian, Taman Raden Saleh menjadi pelopor konsep kebun binatang modern di Tanah Air. Konsep ini menggabungkan fungsi edukasi, konservasi, dan rekreasi dalam satu tempat.

Perpindahan Bersejarah ke Ragunan Tahun 1964

Tepat 100 tahun setelah berdirinya Planten en Dierentuin di Cikini, terjadi perubahan besar pada tahun 1964. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi mengambil alih pengelolaan kebun binatang warisan Raden Saleh ini.

Selanjutnya, lokasi dipindahkan dari Cikini ke kawasan Ragunan, Jakarta Selatan. Perpindahan ini bertujuan menyediakan lahan yang jauh lebih luas untuk perkembangan koleksi satwa.

Ragunan dipilih karena lokasinya yang strategis namun masih memiliki ruang terbuka hijau yang memadai. Pada saat itu, kawasan Ragunan belum sepadat sekarang dan menawarkan lingkungan yang lebih natural.

Proses pemindahan ini menandai babak baru dalam sejarah kebun binatang tertua di Indonesia. Dari lahan pribadi seorang seniman, Ragunan berevolusi menjadi aset publik yang dikelola pemerintah daerah.

Baca Juga:  Tiket Mudik Online 2026: Cara Pesan Lewat HP Tanpa Antre

Perkembangan Ragunan: Dari 30 Hingga 127 Hektar

Setelah pindah ke Ragunan, kebun binatang ini memulai dengan lahan seluas 30 hektar. Angka ini sudah tiga kali lipat lebih luas dibanding lokasi awal di Cikini yang hanya 10 hektar.

Namun, perjalanan tidak berhenti di situ. Seiring waktu, Pemprov DKI Jakarta terus melakukan perluasan dan pengembangan. Kini, Taman Margasatwa Ragunan telah berkembang menjadi 127 hektar.

Luasan fantastis ini menjadikan Ragunan sebagai kebun binatang terluas di Asia. Prestasi ini membanggakan, mengingat cikal bakalnya hanya lahan pribadi seluas 10 hektar milik seorang pelukis.

Lebih dari itu, Ragunan kini menjadi rumah bagi ribuan satwa dari berbagai spesies. Fungsinya pun berkembang, tidak hanya sebagai tempat rekreasi, tetapi juga pusat konservasi dan edukasi satwa.

Warisan Raden Saleh untuk Indonesia

Kisah Ragunan yang berawal dari kebun pribadi Raden Saleh menunjukkan visi jauh ke depan sang maestro. Kecintaannya pada satwa tidak hanya menghasilkan karya seni bernilai tinggi, tetapi juga warisan konservasi yang berlanjut hingga kini.

Dari lahan 10 hektar di Cikini pada 1864 hingga menjadi kawasan 127 hektar di Ragunan, perjalanan kebun binatang ini mencerminkan komitmen Indonesia terhadap pelestarian satwa. Raden Saleh, tanpa disadari, telah menanamkan benih konservasi yang tumbuh menjadi salah satu kebun binatang terluas di Asia.

Faktanya, setiap pengunjung yang datang ke Ragunan kini turut merasakan warisan sang pelukis legendaris. Tempat yang dulunya menjadi studio alam Raden Saleh, kini menjadi ruang edukasi dan rekreasi bagi jutaan masyarakat Indonesia setiap tahunnya.

Wandi Setiawan

Penulis di Cikadu.id