Cikadu.id – Pemerintah Indonesia mengalihkan sumber impor nafta untuk bahan baku plastik dari Timur Tengah ke sejumlah negara alternatif seperti India, Afrika, dan Amerika Serikat pada 2026. Menteri Perdagangan Budi Santoso mengumumkan langkah strategis ini di Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta pada Rabu (1/4/2026), menyusul kelangkaan pasokan dan lonjakan harga plastik dalam beberapa hari terakhir.
Budi Santoso menegaskan bahwa lonjakan harga plastik merupakan dampak langsung dari situasi geopolitik global, khususnya konflik yang mengganggu pasokan impor nafta Indonesia dari kawasan Timur Tengah. “Ini bagian dari dampak perang karena bahan baku plastik itu salah satunya adalah nafta. Nafta kita impor dari Timur Tengah,” jelas Mendag.
Ketergantungan Indonesia pada impor bahan baku plastik dari satu kawasan memaksa pemerintah bergerak cepat mencari solusi alternatif. Namun, proses peralihan ini membutuhkan waktu dan koordinasi intensif dengan berbagai pihak.
Krisis Pasokan Nafta Pukul Industri Plastik
Kelangkaan bahan baku plastik berupa nafta mulai terasa dampaknya di pasar domestik. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengakui menerima keluhan masif dari pedagang terkait kenaikan harga plastik yang luar biasa.
“Naiknya luar biasa, karena bijih plastik itu kan (produk turunan) bahan bakar minyak (BBM),” ungkap Zulhas saat acara Pantauan Harga Barang Kebutuhan Pokok di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (28/3/2026).
Lonjakan harga ini langsung berdampak pada harga produk plastik di tingkat konsumen. Pedagang mengeluhkan margin keuntungan mereka menipis karena harus menyerap sebagian kenaikan harga bahan baku.
Kondisi memburuk ketika sejumlah perusahaan petrokimia Asia mengumumkan keadaan memaksa atau force majeure karena gangguan pasokan bahan baku nafta. Ancaman penutupan Selat Hormuz akibat konflik di Timur Tengah yang memanas membuat pasokan semakin tidak pasti.
Peran Strategis Nafta dalam Industri Plastik
Nafta merupakan komponen krusial yang tidak bisa pemerintah abaikan dalam rantai produksi plastik nasional. Bahan ini merupakan produk sampingan hasil penyulingan minyak bumi mentah dengan titik didih 30°C sampai 200°C.
Industri menggunakan nafta sebagai bahan baku utama dalam pembuatan bijih plastik, resin, serat sintetis, dan berbagai bahan baku kimia industri lainnya. Tanpa pasokan nafta yang stabil, seluruh rantai produksi plastik akan terganggu.
Hasil senyawa kimia dari nafta mencakup beberapa komponen vital. Pertama, etilena yang produsen gunakan dalam pembuatan kantong plastik dan produk kosmetik. Kedua, benzena yang menjadi bahan baku nilon dan sterofoam. Ketiga, paraxylene yang perusahaan butuhkan untuk memproduksi botol minum (Polyethylene Terephthalate) dan PVC (Polyvinyl Chloride).
Ketergantungan industri pada nafta membuat kelangkaan bahan baku ini berdampak sistemik ke berbagai sektor ekonomi. Mulai dari industri kemasan makanan, konstruksi, otomotif, hingga elektronik.
Strategi Diversifikasi Sumber Impor Nafta
Pemerintah tidak tinggal diam menghadapi krisis pasokan ini. Budi Santoso menjelaskan bahwa pemerintah kini aktif mencari alternatif pengganti dari negara lain untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga plastik domestik.
“Pemerintah sekarang mencari alternatif pengganti dari negara lain. Dan kita sudah melakukan misalnya dari Afrika, India dan Amerika Serikat. Memang ini butuh waktu, karena tiba-tiba dari Timur Tengah pindah ke negara lain,” ujar Mendag.
Proses peralihan ini bukan tanpa tantangan. Pemerintah harus menyesuaikan aspek logistik, merancang kontrak kerja sama baru, hingga memastikan kesiapan suplai dari negara tujuan. Perubahan rute pengiriman juga mempengaruhi waktu tempuh dan biaya transportasi.
Selain itu, pemerintah terus berkoordinasi intensif dengan asosiasi dan pelaku industri guna memastikan kebutuhan bahan baku tetap terpenuhi selama masa transisi. Koordinasi ini penting untuk menjaga kontinuitas produksi dan mencegah kelangkaan produk plastik di pasar.
Budi mengatakan sejumlah perwakilan Indonesia di luar negeri turut pemerintah kerahkan untuk menjajaki pemasok baru yang dapat mengekspor nafta ke Indonesia. “Jadi kita harapkan proses ini bisa berjalan dengan baik, sehingga harga bisa kembali normal,” tambahnya.
Dampak Force Majeure di Kawasan Asia
Krisis pasokan nafta tidak hanya melanda Indonesia, tetapi juga negara-negara Asia lainnya. Data mencatat bahwa mayoritas atau 54% pasokan nafta Asia berasal dari Timur Tengah, terutama dari Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait.
Ketergantungan tinggi pada satu kawasan membuat gangguan di Timur Tengah berdampak luas. Ancaman penutupan Selat Hormuz langsung memicu kepanikan di pasar petrokimia regional.
Di Indonesia, raksasa petrokimia PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mengumumkan force majeure pada awal Maret 2026. “Sebagai mitigasi, kami akan mengurangi tingkat operasional (run rates) di pabrik kami,” kata Manajemen TPIA yang media kutip pada Rabu (4/3/2026).
Pengumuman force majeure ini berarti TPIA tidak dapat memenuhi kewajiban kontraknya karena kondisi di luar kendali perusahaan. Langkah ini berdampak pada pasokan produk petrokimia ke industri hilir.
Perusahaan petrokimia Asia lainnya juga mengambil langkah serupa untuk mengantisipasi gangguan pasokan. Petrochemical Corporation of Singapore dan Aster Chemicals and Energy asal Singapura mengumumkan langkah pengurangan operasional.
Yeochun NCC asal Korea Selatan juga menghadapi tantangan serupa dalam memastikan kontinuitas pasokan bahan baku. Begitu pula dengan Siam Cement Group asal Thailand dan Sumitomo Chemical asal Jepang yang sama-sama terdampak kelangkaan nafta dari Timur Tengah.
Kondisi ini memperlihatkan betapa rentannya rantai pasokan petrokimia global ketika bergantung pada satu kawasan sumber. Diversifikasi sumber impor bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk ketahanan industri.
Harapan Stabilisasi Harga di 2026
Pemerintah menargetkan proses diversifikasi sumber impor nafta dapat segera rampung untuk menormalkan harga plastik domestik. Meski membutuhkan waktu, langkah strategis ini dinilai krusial untuk ketahanan industri plastik nasional jangka panjang.
Dengan mengamankan pasokan dari India, Afrika, dan Amerika Serikat, Indonesia dapat mengurangi risiko gangguan pasokan di masa mendatang. Diversifikasi sumber juga memberikan posisi tawar lebih baik dalam negosiasi harga dengan pemasok.
Pelaku industri berharap pemerintah dapat mempercepat proses negosiasi dan perizinan untuk memperlancar masuknya pasokan nafta dari negara alternatif. Stabilitas pasokan dan harga menjadi kunci agar industri plastik nasional tetap kompetitif dan dapat melayani kebutuhan domestik dengan baik.




