Cikadu.id – Dua emiten konstruksi BUMN, PT PP Presisi Tbk (PPRE) dan PT PP Properti Tbk (PPRO), mencatatkan kerugian jumbo hingga Rp 6 triliun sepanjang 2026. Kedua perusahaan di bawah naungan PT PP (Persero) Tbk (PTPP) ini mengalami pukulan telak, dengan PPRE bahkan berbalik dari laba menjadi rugi dibanding tahun sebelumnya.
Laporan keuangan yang dipublikasikan menunjukkan betapa beratnya tekanan yang menimpa kedua BUMN konstruksi ini. Sektor properti dan konstruksi yang masih lesu, ditambah beban bunga tinggi serta lambatnya realisasi proyek, menjadi biang keladi ambruknya kinerja finansial mereka.
Lantas, seberapa parah kondisi kerugian yang menimpa PPRE dan PPRO? Apa saja faktor yang memperburuk kinerja kedua emiten ini? Berikut uraian lengkapnya.
PPRE Berbalik Rugi Rp 1,46 Triliun di 2026
PPRE mencatat rugi bersih Rp 1,46 triliun sepanjang 2026. Angka ini berbalik drastis dari laba Rp 90,33 miliar yang perusahaan raih pada 2025.
Jika dikalkulasikan, rugi BUMN konstruksi ini terkontraksi 1.719% secara tahunan atau year on year (yoy). Angka kontraksi yang fantastis ini menggambarkan betapa cepatnya kondisi perusahaan memburuk.
Dari sisi pendapatan, PPRE masih mencatatkan kenaikan 4,09% yoy menjadi Rp 3,94 triliun. Angka ini meningkat dari Rp 3,79 triliun pada 2025.
Namun, masalahnya bukan di pendapatan. Beban pokok pendapatan melonjak jauh lebih tinggi, yakni 35,25% yoy menjadi Rp 4,07 triliun dari Rp 3,01 triliun pada 2025.
Akibatnya, perseroan berbalik dari laba kotor Rp 778,22 miliar menjadi rugi kotor Rp 128,76 miliar, atau anjlok 116,54% yoy. Selisih kenaikan beban pokok yang tidak sebanding dengan pendapatan inilah yang membuat PPRE tercekik.
Beban Operasional dan Penurunan Nilai Melonjak
Di sisi operasional, beban usaha PPRE meningkat 3,95% yoy menjadi Rp 107,09 miliar. Meski kenaikan ini relatif terkendali, pos lain justru membengkak luar biasa.
Kerugian penurunan nilai melonjak tajam 1.053,49% yoy menjadi Rp 656,03 miliar dari Rp 56,90 miliar. Lonjakan ini menjadi salah satu pukulan terberat bagi PPRE.
Selain itu, beban keuangan juga naik 12,83% yoy menjadi Rp 374,27 miliar. Beban bunga yang tinggi ini mencerminkan tekanan dari sisi pembiayaan proyek-proyek perusahaan.
Di sisi lain, pendapatan lainnya tumbuh 34,71% yoy menjadi Rp 84,82 miliar. Meski demikian, beban lainnya juga ikut naik 11,07% yoy menjadi Rp 57,46 miliar.
Beban pajak final pun naik 7,61% yoy menjadi Rp 102,17 miliar. Alhasil, PPRE mencatat rugi sebelum pajak Rp 1,34 triliun, berbalik dari laba Rp 203,63 miliar atau rontok 758,52% yoy.
Setelah pajak, perseroan membukukan rugi bersih Rp 1,35 triliun, berbalik dari laba Rp 194 miliar atau anjlok 796,55%. Sejalan dengan itu, rugi per saham dasar tercatat Rp 143,06, berbalik dari laba per saham Rp 8,84.
PPRO Rugi Lebih Dalam, Capai Rp 4,83 Triliun
Kondisi PPRO bahkan lebih parah dibanding PPRE. Sepanjang 2026, rugi yang perusahaan atribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak menjadi Rp 4,83 triliun, naik 344,72% yoy.
Tidak hanya itu, pendapatan PPRO anjlok 29,51% yoy menjadi Rp 323,22 miliar pada 2026, turun dari Rp 458,50 miliar pada 2025. Penurunan pendapatan ini mencerminkan lesunya bisnis properti yang menjadi lini usaha utama PPRO.
Sejalan dengan itu, beban pokok penjualan juga turun 30,92% yoy menjadi Rp 300 miliar dari Rp 434,45 miliar. Meski beban pokok turun, perusahaan tetap tidak bisa keluar dari zona merah.
Laba kotor PPRO tercatat Rp 23,14 miliar, turun 3,75% yoy dari Rp 24,04 miliar. Di sisi lain, beban usaha justru meningkat menjadi Rp 105,27 miliar dari Rp 84,35 miliar, atau naik 24,39% yoy.
Tekanan Terbesar dari Pos Non-Operasional
Tekanan terbesar yang menghantam PPRO datang dari pos non-operasional. Perseroan membukukan beban penurunan nilai sebesar Rp 1,50 triliun, melonjak drastis dari Rp 51,6 miliar.
Lonjakan beban penurunan nilai ini menjadi bom waktu yang meledak di laporan keuangan PPRO. Angka ini jauh melampaui ekspektasi dan menjadi penyumbang utama kerugian jumbo yang perusahaan alami.
Sementara itu, pendapatan lain-lain berbalik menjadi positif Rp 1,58 triliun dari sebelumnya negatif Rp 13,47 miliar. Namun, pendapatan lain-lain ini tidak cukup untuk menutupi beban penurunan nilai yang membengkak.
Penyebab Rugi BUMN Konstruksi dan Properti
Tekanan terhadap kedua emiten konstruksi BUMN ini mencerminkan masih beratnya sektor properti dan konstruksi secara keseluruhan. Beberapa faktor utama yang memperburuk kondisi PPRE dan PPRO antara lain:
- Beban bunga tinggi: Biaya pembiayaan proyek yang terus meningkat membebani arus kas perusahaan.
- Tekanan arus kas: Lambatnya pembayaran dari klien dan realisasi proyek membuat arus kas perusahaan terganggu.
- Lambatnya realisasi proyek: Proyek-proyek konstruksi dan properti tertunda, menghambat pendapatan perusahaan.
- Penurunan nilai aset: Aset-aset perusahaan mengalami penurunan nilai signifikan, terutama di PPRO.
- Pasar properti lesu: Daya beli masyarakat yang belum pulih membuat penjualan properti stagnan.
Kombinasi faktor-faktor ini membuat PPRE dan PPRO terjebak dalam lingkaran setan. Pendapatan tidak tumbuh cukup cepat, sementara beban terus membengkak.
Strategi Pemulihan dan Penataan Perusahaan
Meski kondisi keuangan sangat memprihatinkan, manajemen kedua perusahaan tidak tinggal diam. VP Corporate Secretary PPRO Afrilia Pratiwi menyatakan bahwa langkah penataan yang perusahaan lakukan menjadi bagian krusial dalam memperkuat fundamental perseroan secara menyeluruh.
Dalam upaya tersebut, PPRO menempuh sejumlah strategi pemulihan. Pertama, memperkuat fundamental keuangan dengan menitikberatkan pada perbaikan arus kas operasional serta penurunan liabilitas secara bertahap.
Kedua, mendorong pertumbuhan yang lebih berkualitas melalui peningkatan produktivitas dan kinerja operasional. Ini termasuk lewat efisiensi biaya, optimalisasi produktivitas, penguatan pendapatan berulang (recurring income), serta memperluas kerja sama strategis guna mendukung pengembangan proyek-proyek prioritas.
Ketiga, percepatan monetisasi aset, dan peningkatan tata kelola perusahaan dan manajemen risiko yang terintegrasi. Afrilia menegaskan hal ini dalam keterangan resmi perusahaan.
Manajemen menegaskan langkah restrukturisasi dan monetisasi aset menjadi kunci untuk memperbaiki fundamental. Langkah ini termasuk melalui efisiensi biaya, peningkatan pendapatan berulang, serta penguatan tata kelola dan manajemen risiko.
Outlook Pemulihan PPRE dan PPRO
Kerugian Rp 6 triliun yang menimpa PPRE dan PPRO sepanjang 2026 memang menjadi pukulan berat. Namun, strategi pemulihan yang komprehensif memberikan secercah harapan bagi kedua BUMN konstruksi ini.
Keberhasilan restrukturisasi, efisiensi biaya, dan monetisasi aset akan menjadi kunci apakah PPRE dan PPRO bisa bangkit dari keterpurukan. Dukungan dari induk perusahaan PTPP dan pemerintah juga akan sangat menentukan arah pemulihan kedua emiten ini.
Investor dan stakeholder kini menunggu apakah langkah-langkah strategis yang manajemen ambil bisa membuahkan hasil di tahun-tahun mendatang. Sektor konstruksi dan properti yang mulai pulih juga diharapkan bisa memberikan angin segar bagi PPRE dan PPRO.

