Rupiah Anjlok ke Rp 17.002, Konflik Timur Tengah Memanas

Rupiah Anjlok ke Rp 17.002, Konflik Timur Tengah Memanas

Rupiah Anjlok ke Rp 17.002, Konflik Timur Tengah Memanas

Cikadu.idRupiah melemah 19 poin atau 0,11 persen ke level Rp 17.002 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis sore. Posisi ini merosot dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.983 per dolar AS.

Muhammad Amru Syifa, Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), mengungkapkan pelemahan mata uang Garuda ini dipicu ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah. Konflik yang berkepanjangan antara AS, Israel, dan Iran memberikan tekanan signifikan pada pasar keuangan global, termasuk nilai tukar rupiah.

Pergerakan rupiah saat ini tidak bisa lepas dari dinamika global yang penuh gejolak. Ketegangan di Timur Tengah memaksa para pelaku pasar untuk bersikap ekstra hati-hati dalam mengambil keputusan investasi.

Tiga Faktor Eksternal yang Menekan Rupiah

Amru menjelaskan, pergerakan rupiah masih mendapat pengaruh kuat dari tiga faktor eksternal. Pertama, penguatan dolar AS yang terus berlanjut membuat mata uang negara-negara berkembang melemah.

Kedua, pergerakan harga minyak dunia yang fluktuatif turut memberikan dampak. Ketiga, ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi katalis utama yang memperburuk sentimen pasar.

“Pergerakan rupiah masih mendapat pengaruh dari penguatan dolar AS, pergerakan harga minyak, serta ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah,” ujar Amru di Jakarta, Kamis. Kombinasi ketiga faktor ini menciptakan tekanan berlapis pada mata uang emerging markets.

Trump Akan Tinggalkan Iran dalam 2-3 Pekan

Mengutip Anadolu, Presiden AS Donald Trump menyampaikan bahwa pihaknya akan meninggalkan Iran dalam waktu dua hingga tiga pekan ke depan. Pernyataan ini menambah ketidakpastian di pasar finansial global.

Baca Juga:  Din Syamsuddin: Buzzer Pecah Belah Umat Islam 2026

Angka resmi dari AS mencatat, sebanyak 13 anggota militer AS telah tewas sejak perang dimulai. Korban jiwa yang terus bertambah menunjukkan intensitas konflik yang belum mereda.

Namun, pernyataan Trump justru memberikan tekanan tambahan terhadap pasar. Ketidakjelasan terkait akhir konflik serta masih terbukanya potensi eskalasi membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi.

Dampak Konflik ke Harga Energi dan Selat Hormuz

Konflik antara AS dan Israel dengan Iran mendorong kenaikan harga energi global. Selain itu, konflik ini mempengaruhi pengiriman komoditas melalui Selat Hormuz, jalur penting global untuk perkapalan minyak.

Sebagian besar pengiriman komoditas minyak dunia melewati selat tersebut. Oleh karena itu, setiap eskalasi di kawasan Timur Tengah langsung berdampak pada supply chain energi global.

“Pernyataan Presiden Donald Trump memberikan tekanan tambahan terhadap pasar. Ketidakjelasan terkait akhir konflik serta masih terbukanya potensi eskalasi membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati,” ungkap Amru. Akibatnya, kondisi ini mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak, yang pada akhirnya memberi tekanan pada mata uang emerging markets, termasuk rupiah.

Menariknya, ketegangan geopolitik ini bukan hanya soal konflik militer. Dampaknya merambah ke sektor finansial, perdagangan, hingga stabilitas ekonomi negara-negara yang bergantung pada impor energi.

Perhatian Pasar pada Data AS dan Kebijakan The Fed

Perhatian pasar kini tertuju pada rilis data ekonomi AS, terutama data ketenagakerjaan. Data ini menjadi indikator penting untuk memprediksi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) ke depan.

Jika data ketenagakerjaan AS menunjukkan kekuatan ekonomi, The Fed kemungkinan akan mempertahankan kebijakan hawkish. Sebaliknya, data yang lemah bisa membuka ruang bagi kebijakan moneter yang lebih akomodatif.

Baca Juga:  Batas Beli Pertalite 50 Liter Per Hari Mulai 1 April 2026

Keputusan The Fed selalu berdampak luas pada pasar global. Dengan demikian, para pelaku pasar di Indonesia juga wajib memantau perkembangan ekonomi AS untuk mengantisipasi volatilitas rupiah.

Kondisi Domestik: Inflasi Indonesia Turun ke 3,48 Persen

Di sisi domestik, penurunan inflasi Indonesia ke level 3,48 persen secara tahunan mencerminkan tekanan harga yang mereda. Angka ini menjadi faktor penopang stabilitas ekonomi di tengah gejolak eksternal.

Bank Indonesia terus menjaga likuiditas valas melalui instrumen seperti SVBI (Sekuritas Valas Bank Indonesia) dan SUVBI (Surat Utang Valas Bank Indonesia). Langkah ini bertujuan menstabilkan nilai tukar rupiah di tengah tekanan global.

“Langkah Bank Indonesia melalui instrumen seperti SVBI dan SUVBI turut menjaga likuiditas valas, meskipun dampaknya dalam jangka pendek masih kalah dominan dibanding faktor eksternal,” kata Amru. Ini menunjukkan bahwa upaya domestik saja tidak cukup untuk menahan laju pelemahan rupiah saat sentimen eksternal sangat negatif.

Meski begitu, kebijakan BI tetap memberikan sedikit bantalan untuk mencegah rupiah terjun bebas. Instrumen-instrumen moneter ini membantu menjaga kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia.

JISDOR Bank Indonesia Melemah ke Rp 17.015

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp 17.015 per dolar AS. Posisi ini lebih rendah dari sebelumnya di level Rp 17.002 per dolar AS.

JISDOR menjadi acuan penting bagi transaksi valuta asing di Indonesia. Pelemahan kurs ini mengonfirmasi tekanan yang kuat pada rupiah, tidak hanya di pasar spot tetapi juga di pasar antar bank.

Para pelaku pasar kini menunggu perkembangan situasi geopolitik Timur Tengah dan data ekonomi AS minggu depan. Kedua faktor ini akan menentukan arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek.

Baca Juga:  Investasi Perak 2026: Panduan Lengkap Pilih Jenis Terbaik

Sementara itu, BI diperkirakan akan terus memantau pasar dan siap melakukan intervensi jika volatilitas meningkat drastis. Stabilitas nilai tukar tetap menjadi prioritas utama otoritas moneter Indonesia di tengah ketidakpastian global yang tinggi.

Pada akhirnya, kombinasi faktor eksternal yang negatif dengan upaya domestik yang terbatas membuat rupiah masih rentan terhadap tekanan. Investor dan pelaku usaha perlu mempersiapkan strategi mitigasi risiko untuk menghadapi potensi volatilitas lebih lanjut dalam beberapa pekan ke depan.

Salsabilla Putri

Penulis di Cikadu.id