Cikadu.id – Rupiah terhadap dolar AS kembali merosot pada Kamis (2/4/2026) sore, menutup perdagangan di level Rp17.002 per dolar AS. Mata uang Garuda ini mencatat pelemahan sebesar 19 poin atau setara 0,11 persen dibandingkan sesi perdagangan sebelumnya.
Bank Indonesia (BI) melalui kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) mencatat posisi rupiah berada di angka Rp17.015 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi bersamaan dengan penguatan dolar Amerika Serikat di pasar global.
Rupiah Terhadap Dolar AS Kompak Melemah Bersama Mata Uang Regional
Pelemahan rupiah bukan fenomena tunggal. Seluruh mata uang di kawasan Asia kompak bergerak di zona merah pada perdagangan Kamis sore ini.
Yen Jepang mencatat penurunan paling tajam dengan melemah 0,54 persen. Sementara itu, peso Filipina juga mengalami tekanan cukup berat dengan pelemahan 0,58 persen.
Yuan China tidak luput dari tekanan, melemah 0,27 persen terhadap dolar AS. Baht Thailand ikut terkoreksi dengan penurunan 0,25 persen, sedangkan won Korea Selatan melemah lebih moderat di level 0,15 persen.
Dolar Singapura mengalami depresiasi 0,30 persen dalam perdagangan hari ini. Menariknya, hanya dolar Hong Kong yang berhasil bertahan stagnan tanpa pergerakan berarti pada penutupan sesi sore.
Mata Uang Negara Maju Juga Terpukul Penguatan Dolar
Tekanan tidak hanya melanda kawasan Asia. Mata uang utama negara-negara maju turut mengalami pelemahan signifikan terhadap greenback.
Poundsterling Inggris menjadi yang paling terpukul dengan merosot 0,80 persen. Franc Swiss menyusul dengan penurunan 0,69 persen, sementara euro Eropa terkoreksi 0,55 persen.
Di kawasan Pasifik, dolar Australia mencatat pelemahan cukup dalam sebesar 0,75 persen. Bahkan, dolar Kanada yang biasanya relatif stabil turut melemah 0,32 persen mengikuti tren global.
| Mata Uang | Persentase Pelemahan |
|---|---|
| Poundsterling Inggris | 0,80% |
| Dolar Australia | 0,75% |
| Franc Swiss | 0,69% |
| Peso Filipina | 0,58% |
| Euro Eropa | 0,55% |
| Yen Jepang | 0,54% |
| Dolar Kanada | 0,32% |
| Dolar Singapura | 0,30% |
| Yuan China | 0,27% |
| Baht Thailand | 0,25% |
| Won Korea Selatan | 0,15% |
| Rupiah Indonesia | 0,11% |
Analisis Pakar: Sentimen Risk Off Picu Penguatan Dolar AS
Lukman Leong, Analis Mata Uang dari Doo Financial Futures, memberikan pandangan tajam mengenai pelemahan kolektif ini. Menurutnya, rupiah menutup perdagangan dalam kondisi melemah bersama seluruh mata uang utama regional maupun global.
Penyebab utamanya? Dolar AS menguat tajam di tengah sentimen risk off yang melanda pasar keuangan internasional. Investor berbondong-bondong mencari aset safe haven seiring meningkatnya ketegangan geopolitik.
Sentimen negatif ini berakar dari pidato Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam pidatonya, Trump memberikan sinyal tegas untuk menggempur habis-habisan Iran dalam beberapa pekan ke depan.
Ketegangan Geopolitik Dorong Pelarian Modal ke Dolar
Pernyataan Trump menciptakan gelombang ketidakpastian di pasar global. Ketika risiko geopolitik meningkat, investor cenderung menarik dana dari aset berisiko dan mengalihkannya ke dolar AS sebagai safe haven.
Fenomena ini menciptakan tekanan berlipat pada mata uang emerging market seperti rupiah. Terlebih lagi, Indonesia sangat bergantung pada stabilitas ekonomi global dan arus modal asing.
Di sisi lain, penguatan dolar juga mencerminkan ekspektasi pasar terhadap kebijakan luar negeri AS yang lebih agresif. Retorika keras Trump terhadap Iran memicu kekhawatiran akan konflik militer yang dapat mengganggu pasokan energi global.
Dampak Pelemahan Rupiah Terhadap Ekonomi Indonesia 2026
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS membawa implikasi langsung bagi ekonomi Indonesia. Importir harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli barang dari luar negeri, khususnya produk-produk berbasis dolar.
Harga barang impor berpotensi naik, yang pada gilirannya dapat mendorong inflasi domestik. Sektor-sektor yang sangat bergantung pada bahan baku impor seperti manufaktur dan farmasi akan merasakan dampak paling signifikan.
Namun, ada sisi positifnya. Eksportir Indonesia justru mendapat keuntungan dari rupiah yang melemah karena produk mereka menjadi lebih kompetitif di pasar internasional. Sektor komoditas seperti kelapa sawit, batu bara, dan tekstil berpotensi meraup untung lebih besar.
Proyeksi Pergerakan Rupiah dalam Jangka Pendek
Para analis memperkirakan volatilitas nilai tukar rupiah akan terus berlanjut selama ketegangan geopolitik masih membayangi. Sentimen risk off kemungkinan akan mendominasi pasar hingga ada kejelasan mengenai arah kebijakan luar negeri AS.
Bank Indonesia diperkirakan akan terus memantau pergerakan rupiah dengan cermat. Jika pelemahan berlanjut melewati batas psikologis tertentu, tidak menutup kemungkinan BI akan melakukan intervensi untuk menstabilkan nilai tukar.
Faktanya, fundamental ekonomi Indonesia masih solid dengan cadangan devisa yang cukup kuat untuk menjaga stabilitas rupiah. Namun, faktor eksternal seperti ketegangan Trump-Iran dapat memberikan tekanan jangka pendek yang sulit diprediksi.
Pelemahan rupiah terhadap dolar AS ke level Rp17.002 pada 2 April 2026 mencerminkan dampak langsung dari ketegangan geopolitik global. Pernyataan Presiden Trump mengenai Iran memicu sentimen risk off yang mendorong investor berbondong-bondong mencari perlindungan di dolar AS. Meski rupiah melemah, fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan Bank Indonesia memiliki instrumen yang cukup untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah gejolak pasar global.




