SBY JK Melayat Juwono Sudarsono: Eks Menhan Wafat 2026

Cikadu.id – Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wakil Presiden ke-10 Jusuf Kalla (JK) melayat almarhum Prof. Dr. Juwono Sudarsono di Kementerian Pertahanan (Kemhan) pada Minggu, 29 Maret 2026. SBY tiba di Kemhan pukul 10.10 WIB, sementara JK telah lebih dulu berkunjung sekitar pukul 09.30 WIB.

Kedatangan dua tokoh nasional ini menunjukkan penghormatan tinggi terhadap sosok mantan Menteri Pertahanan yang berjasa membangun sistem pertahanan Indonesia modern.

SBY menyampaikan duka mendalam atas kepergian Juwono Sudarsono yang ia kenal secara pribadi selama bertahun-tahun.

SBY JK Melayat: Penghormatan untuk Putra Terbaik Bangsa

“Kita kehilangan salah satu putra terbaik bangsa, almarhum Prof. Dr. Juwono Sudarsono. Saya mengenal almarhum secara pribadi,” kata SBY saat wartawan wawancarai selepas bertakziah, Minggu (29/3/2026).

Mantan presiden yang menjabat periode 2004-2014 ini hadir seorang diri untuk memberikan penghormatan terakhir. Ekspresi duka tampak jelas terpancar dari wajah SBY ketika keluar dari ruangan takziah.

Sementara itu, JK yang tiba lebih awal menunjukkan kedekatan emosional dengan almarhum. Bahkan, mantan Wapres era Presiden Jokowi ini meluangkan waktu cukup lama untuk berdialog dengan keluarga duka.

Juwono Sudarsono: Tokoh Cemerlang Berlatar Belakang Sipil

SBY mengenang sosok Juwono Sudarsono sebagai Menteri Pertahanan yang turut berkontribusi besar untuk memodernisasi kekuatan pertahanan Indonesia. Penilaian ini bukan tanpa alasan mengingat Juwono memimpin Kemhan dalam masa-masa krusial transformasi TNI.

Baca Juga:  Hiu Tercemar Kokain di Perairan Bahama, Fakta Lengkap

“Almarhum merupakan tokoh cemerlang yang berlatar belakang sipil,” ujar SBY menekankan keunikan Juwono di tengah dominasi perwira militer di sektor pertahanan.

Kehadiran menteri pertahanan sipil seperti Juwono Sudarsono memang membawa angin segar dalam tata kelola pertahanan Indonesia. Nah, latar belakang akademisnya yang kuat membuatnya mampu membawa perspektif berbeda dalam menyusun strategi pertahanan nasional.

Tidak hanya itu, Juwono juga aktif membangun jembatan antara dunia sipil dan militer. Pendekatan ini terbukti efektif untuk memperkuat kontrol demokratis terhadap sektor pertahanan.

Visi Besar: Pembentukan Universitas Pertahanan Indonesia

Salah satu warisan terbesar Juwono Sudarsono adalah gagasan mendirikan Universitas Pertahanan Indonesia. SBY mengungkapkan bahwa ide ini mereka diskusikan bersama saat sama-sama bertugas di pemerintahan.

“Salah satu yang kami pikirkan dulu dengan Pak Juwono dan kemudian dengan Pak Purnomo Yusgiantoro sebagai Menteri Pertahanan, bagaimana Indonesia memiliki Universitas Pertahanan,” kata SBY, dilansir Antara.

Visi ini kemudian terwujud dengan berdirinya Universitas Pertahanan Indonesia (Unhan) yang kini menjadi pusat studi dan pendidikan tinggi bidang pertahanan terkemuka di Asia Tenggara. Oleh karena itu, kontribusi Juwono dalam mewujudkan institusi pendidikan pertahanan berkelas dunia patut mendapat apresiasi tinggi.

Menariknya, gagasan Universitas Pertahanan ini lahir dari keprihatinan akan minimnya kajian akademis tentang strategi pertahanan Indonesia. Juwono bersama SBY memandang penting adanya lembaga yang mampu menghasilkan pemikiran strategis dan SDM berkualitas di bidang pertahanan.

Dengan demikian, Unhan bukan sekadar institusi pendidikan biasa. Lembaga ini menjadi simbol transformasi sektor pertahanan Indonesia menuju profesionalisme berbasis pengetahuan dan riset.

Modernisasi Pertahanan Indonesia di Era Juwono Sudarsono

Sebagai Menteri Pertahanan, Juwono Sudarsono memimpin sejumlah program modernisasi alutsista (alat utama sistem persenjataan) yang krusial. Periode kepemimpinannya ditandai dengan upaya serius memperkuat kapasitas TNI di tengah keterbatasan anggaran.

Baca Juga:  Cara Daftar BPJS Kesehatan dan KIS Online, Syarat Lengkap

Bahkan, Juwono berhasil menegosiasikan berbagai kerja sama pertahanan dengan negara sahabat untuk transfer teknologi dan pengadaan peralatan militer. Pendekatan diplomasi pertahanan yang ia bangun membuka banyak peluang kerja sama strategis.

Selain itu, almarhum juga fokus pada peningkatan kesejahteraan prajurit TNI. Ia memahami bahwa kekuatan pertahanan bukan hanya soal alutsista canggih, tetapi juga moral dan kesejahteraan personel.

Di sisi lain, Juwono aktif mendorong reformasi birokrasi di lingkungan Kemhan. Sistem pengadaan yang lebih transparan dan akuntabel menjadi prioritas utama untuk menghindari praktik korupsi.

Akibatnya, kepercayaan publik terhadap institusi pertahanan meningkat signifikan. Transparansi yang ia bangun membuat masyarakat lebih memahami pentingnya alokasi anggaran pertahanan yang memadai.

Profil Juwono Sudarsono: Akademisi yang Jadi Negarawan

Prof. Dr. Juwono Sudarsono lahir dari keluarga intelektual dan menempuh pendidikan tinggi di dalam dan luar negeri. Latar belakang pendidikannya yang solid membentuk cara berpikir analitis dan strategis.

Sebelum terjun ke dunia pemerintahan, Juwono adalah akademisi ternama di Universitas Indonesia. Ia mengajar ilmu politik dan hubungan internasional dengan reputasi cemerlang.

Kemudian, karier politiknya dimulai ketika SBY menunjuknya sebagai Menteri Pertahanan. Keputusan ini sempat mengejutkan karena Juwono bukan berasal dari kalangan militer.

Namun, kekhawatiran awal itu sirna ketika Juwono membuktikan kapasitasnya. Pengetahuan luas tentang geopolitik dan strategi pertahanan membuatnya mampu menjalankan tugas dengan gemilang.

Ternyata, pengalaman akademisnya justru menjadi nilai tambah. Juwono mampu merumuskan kebijakan pertahanan yang berbasis riset dan analisis mendalam.

Warisan Pemikiran untuk Generasi Mendatang

Kepergian Juwono Sudarsono meninggalkan kekosongan besar di dunia pemikiran strategi pertahanan Indonesia. Namun, gagasan dan visi yang ia tanam akan terus hidup melalui institusi dan kebijakan yang ia rintis.

Baca Juga:  Oppo Find X9 Ultra Rilis 21 April: Spesifikasi Lengkap

Universitas Pertahanan Indonesia kini melatih ratusan perwira TNI dan PNS Kemhan setiap tahunnya. Intinya, warisan intelektual Juwono akan terus mengalir melalui alumni Unhan yang tersebar di berbagai institusi pertahanan.

Pada akhirnya, Indonesia kehilangan seorang pemikir strategis dan negarawan sejati. Namun, jejak langkahnya dalam membangun sistem pertahanan modern akan terus menginspirasi generasi penerus.

Penghormatan yang SBY dan JK berikan pada 29 Maret 2026 bukan sekadar ritual formal. Kedatangan mereka melayat Juwono Sudarsono mencerminkan pengakuan atas dedikasi luar biasa almarhum untuk bangsa dan negara selama puluhan tahun mengabdi.

Salsabilla Putri

Penulis di Cikadu.id