Cikadu.id – Direktur Eksekutif Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai ancaman penutupan Selat Bab-el-Mandeb membawa risiko lebih besar terhadap perdagangan global ketimbang penutupan Selat Hormuz. Pernyataan ini keluar dalam keterangan tertulis pada Senin, 30 Maret 2026.
Iran menyebut-sebut akan menutup jalur perdagangan penting ini setelah Selat Hormuz. Ancaman tersebut memicu kekhawatiran para pelaku ekonomi global, mengingat pentingnya peran selat ini dalam rantai pasok internasional.
Pengalaman Gangguan di Selat Bab-el-Mandeb Periode 2023-2024
Bhima mengingatkan kembali kejadian pada periode 2023 hingga 2024. Saat itu, gangguan di Selat Bab-el-Mandeb menambah waktu pelayaran hingga 15 hari.
Kondisi tersebut membuat kapal kargo kesulitan memperoleh perlindungan asuransi. Akibatnya, biaya logistik untuk kegiatan impor maupun ekspor mengalami lonjakan signifikan.
Pengalaman pahit ini menjadi peringatan serius bagi Indonesia dan negara-negara lain yang bergantung pada jalur perdagangan tersebut. Selain itu, para pelaku usaha masih merasakan dampak finansial dari gangguan dua tahun lalu.
Dampak Penutupan Selat Bab-el-Mandeb terhadap Ekspor Indonesia
Bhima menyoroti data ekspor Indonesia per Januari 2026. Porsi ekspor Indonesia ke Eropa mencapai 13,4 persen dari total ekspor nasional.
Angka ini menunjukkan ketergantungan ekonomi Indonesia terhadap pasar Eropa cukup tinggi. Oleh karena itu, penutupan Selat Bab-el-Mandeb berpotensi mengganggu kinerja ekspor secara masif.
Produsen dan eksportir Indonesia akan menghadapi pilihan sulit: mengambil rute alternatif yang lebih panjang dan mahal, atau menunda pengiriman. Kedua opsi ini sama-sama merugikan daya saing produk Indonesia di pasar global.
Proyeksi Harga Minyak dan Imported Inflation
Bhima memproyeksikan harga minyak dunia dapat menembus angka US$120 per barel apabila Iran benar-benar menutup Selat Bab-el-Mandeb. Proyeksi ini jauh lebih tinggi dari asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) saat ini.
Dampak imported inflation melalui jalur pangan dan energi akan lebih cepat masyarakat rasakan. Menariknya, tekanan inflasi tidak hanya berasal dari sektor energi.
Bahan baku pupuk yang turut melewati jalur tersebut berpotensi mengalami gangguan pasokan. Kondisi ini pada akhirnya akan memberi tekanan pada produsen pertanian Indonesia.
Lebih dari itu, Bhima menilai situasi ini juga dapat menekan nilai tukar rupiah. Pelemahan kinerja ekspor akan terjadi di saat yang bersamaan dengan peningkatan biaya impor.
Empat Langkah Mitigasi yang Celios Sarankan
Bhima mengusulkan pemerintah segera melakukan empat langkah mitigasi untuk mengantisipasi skenario terburuk. Pertama, pemerintah perlu melobi pemerintah Yaman maupun Iran agar kapal kargo yang memuat barang Indonesia tidak mengalami hambatan.
Kedua, pemerintah harus mempercepat realokasi anggaran untuk subsidi energi dan subsidi pupuk. Bhima memperkirakan tambahan belanja pemerintah dapat mencapai Rp 515 triliun dengan asumsi tertentu.
Asumsi tersebut menyebutkan setiap kenaikan harga minyak US$1 per barel di atas asumsi APBN akan menambah beban belanja sebesar Rp 10,3 triliun. Angka ini menunjukkan betapa besar dampak fiskal dari krisis Selat Bab-el-Mandeb.
Ketiga, pemerintah perlu menambah subsidi transportasi umum untuk menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM). Langkah ini bertujuan mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap BBM subsidi.
Keempat, Indonesia perlu mempercepat transisi energi, terutama di sektor ketenagalistrikan. Bhima mendorong instalasi panel surya, mikrohidro, dan tenaga bayu sebagai alternatif.
Di wilayah perdesaan yang masih bergantung pada solar untuk generator, Celios mendorong peralihan ke sumber energi alternatif. Diversifikasi energi ini akan mengurangi kerentanan Indonesia terhadap gejolak harga minyak global.
Urgensi Respons Cepat Pemerintah
Rekomendasi Celios menunjukkan kompleksitas tantangan yang Indonesia hadapi. Ancaman penutupan Selat Bab-el-Mandeb bukan sekadar isu geopolitik, tetapi juga krisis ekonomi potensial yang memerlukan respons komprehensif.
Pemerintah perlu segera menyusun strategi jangka pendek dan jangka panjang. Dalam jangka pendek, diplomasi dengan Iran dan Yaman menjadi prioritas utama untuk memastikan kelancaran perdagangan Indonesia.
Dalam jangka panjang, diversifikasi rute perdagangan dan percepatan transisi energi akan memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia. Langkah-langkah ini akan mengurangi dampak dari potensi krisis serupa di masa depan.




