Selat Hormuz Iran: IRGC Tantang Trump, Klaim Kontrol Penuh 2026

Selat Hormuz Iran: IRGC Tantang Trump, Klaim Kontrol Penuh 2026

Selat Hormuz Iran: IRGC Tantang Trump, Klaim Kontrol Penuh 2026

Cikadu.id – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa Selat Hormuz kini sepenuhnya berada di bawah kendali Teheran. Pernyataan ini langsung membantah klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump tentang pembukaan kembali jalur maritim strategis tersebut pada Rabu, 1 April 2026.

Kantor berita semi-resmi Iran Tasnim melaporkan, IRGC menegaskan Selat Hormuz tidak akan pihaknya buka kembali “di bawah sandiwara” Trump terhadap bangsa Iran. Pernyataan keras ini muncul di tengah ketegangan militer yang sudah berlangsung lebih dari sebulan.

Penutupan Selat Hormuz Sejak 28 Februari 2026

IRGC secara efektif menutup Selat Hormuz sejak perang pecah pada 28 Februari lalu. Ribuan kapal dagang terpaksa berhenti beroperasi karena otoritas Iran melarang mereka melintasi jalur perdagangan vital ini.

Selain itu, banyak kapal memilih tidak melintas karena khawatir menjadi target serangan. Penutupan ini menciptakan dampak ekonomi global yang masif, terutama terhadap harga energi dunia.

Harga minyak dunia melambung ke level tertinggi sejak 2022 akibat serangan dan penutupan berulang kali yang Iran lakukan. Pasar energi global mengalami guncangan hebat karena Selat Hormuz merupakan jalur pengiriman sekitar 20% pasokan minyak dunia.

Gelombang Serangan Iran ke Target Militer AS dan Israel

IRGC mengklaim telah meluncurkan puluhan serangan terhadap kapal komersial yang Tehran nilai memiliki kaitan dengan AS-Israel. Kapal-kapal yang tidak patuh terhadap perintah Iran juga menjadi sasaran operasi militer mereka.

Baca Juga:  Segel Ruko Titi Kuning Hilang, MAI Medan Langsung Lapor

Dalam pernyataannya, IRGC membantah klaim AS dan Israel bahwa intensitas serangan Iran sudah berkurang. Angkatan bersenjata Iran justru menyatakan masih berdiri tegak melawan apa yang mereka sebut sebagai agresi.

Menariknya, IRGC mengumumkan bahwa mereka sudah meluncurkan gelombang ke-89 dari Operasi True Promise 4. Operasi ini menggunakan kombinasi rudal balistik dan jelajah Qadeer serta drone serang untuk menghantam target militer utama milik pasukan AS dan Israel.

Serangan Presisi Tinggi ke Sistem Pertahanan AS di UEA

IRGC mengklaim berhasil menghancurkan dua sistem pertahanan udara peringatan dini milik AS dengan presisi tinggi. Sistem-sistem ini pihak Amerika tempatkan di perairan dan pulau-pulau Uni Emirat Arab (UEA).

Tidak hanya itu, IRGC juga mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap Aqua 1 pada Rabu kemarin. Kapal tanker minyak yang QatarEnergy sewa ini Tehran sebut sebagai milik “rezim Zionis yang tidak sah.”

Lebih lanjut, IRGC menambahkan bahwa pasukan mereka telah menghantam lokasi markas rahasia pasukan AS di luar perimeter Armada Kelima AS di Bahrain. Serangan ini menggunakan sejumlah besar drone serang dan beberapa rudal balistik.

Laporan lapangan yang IRGC peroleh menyatakan bahwa banyak perwira angkatan laut senior Amerika pihak medis larikan ke rumah sakit pasca serangan tersebut. Akibatnya, operasi militer AS di kawasan Teluk mengalami gangguan signifikan.

Target Strategis: Chinook dan USS Abraham Lincoln

Laporan intelijen IRGC juga menyebutkan pusat persiapan helikopter Chinook dan hanggar penyimpanan senjata di pangkalan Al Udeiri menjadi target serangan gabungan rudal dan drone Iran. Serangan ini bertujuan melumpuhkan kemampuan logistik dan mobilitas pasukan AS.

IRGC mengeklaim telah meluncurkan beberapa gelombang serangan drone ke arah kelompok kapal induk USS Abraham Lincoln di Samudra Hindia utara. Citra satelit yang mereka peroleh menunjukkan gugus tempur kapal induk tersebut mundur dari posisi sebelumnya ke bagian laut yang lebih jauh.

Baca Juga:  Zionis Menentang Agama, Termasuk Yahudi: Dubes Iran

Oleh karena itu, IRGC menilai strategi intimidasi dan tekanan militer mereka berhasil memaksa aset-aset strategis AS untuk mengambil posisi defensif. Namun, Pentagon belum memberikan konfirmasi resmi terkait klaim-klaim ini.

Klaim Korban: 37 Tewas di Markas AS di UEA

Informasi intelijen yang IRGC sampaikan menyebutkan serangan mereka terhadap markas pasukan AS di UEA mengakibatkan 37 orang tewas. Banyak personel lainnya mengalami luka-luka dalam serangan tersebut.

Perang antara AS-Israel versus Iran ini telah memasuki pekan kelima sejak pecah pada 28 Februari lalu. Konflik ini telah merenggut nyawa ribuan orang di Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Awalnya, serangan Iran menargetkan fasilitas militer AS-Israel di seluruh Timur Tengah. Namun, setelah infrastruktur energi Iran mengalami serangan balasan, Teheran pun membalas dengan menyerang fasilitas energi Israel.

Bahkan, beberapa negara yang AS gunakan sebagai basis untuk menggempur Iran juga menjadi sasaran serangan balasan Teheran. Eskalasi ini menciptakan ketegangan regional yang belum pernah kawasan Timur Tengah alami dalam dekade terakhir.

Implikasi Global Penutupan Selat Hormuz

Penutupan Selat Hormuz Iran ciptakan krisis energi global yang serius. Jalur maritim ini menjadi urat nadi perdagangan minyak dan gas dunia, dengan sekitar 21 juta barel minyak melewatinya setiap hari.

Dengan demikian, blokade yang IRGC lakukan langsung berdampak pada pasokan energi ke Asia, Eropa, dan Amerika. Negara-negara importir minyak besar seperti China, Jepang, dan Korea Selatan menghadapi ancaman kelangkaan pasokan.

Ternyata, sikap tegas IRGC ini merupakan respons terhadap apa yang Tehran anggap sebagai agresi militer AS dan sekutunya. Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap tertutup selama konflik berlanjut.

Pada akhirnya, pernyataan IRGC bahwa Selat Hormuz tidak akan pihaknya buka “di bawah sandiwara Trump” menunjukkan bahwa Iran tidak akan mundur dari posisinya. Teheran tampaknya bertekad mempertahankan kontrol atas jalur maritim strategis ini sebagai leverage utama dalam konflik regional yang masih berlangsung hingga saat ini.

Baca Juga:  Cara Daftar BPJS Kesehatan dan KIS Online, Syarat Lengkap

Wandi Setiawan

Penulis di Cikadu.id