Solusi Energi Bersih, Kunci Stabilkan Harga Pangan

Solusi Energi Bersih, Kunci Stabilkan Harga Pangan

Solusi Energi Bersih, Kunci Stabilkan Harga Pangan

Cikadu.id – Ternyata, gangguan di Selat Hormuz tidak hanya berkaitan dengan harga minyak. Dampaknya bisa jauh lebih dekat, menentukan ketersediaan dan harga pangan yang dibayar masyarakat dalam beberapa bulan ke depan.

Faktanya, konflik global ini tak lagi terasa jauh, karena masuk langsung ke sistem pangan domestik. Bagi Indonesia, masalahnya bukan sekadar kenaikan harga energi, melainkan bagaimana ketergantungan pada impor energi menciptakan kerentanan hingga ke produksi dan distribusi pangan.

Tiga Jalur Dampak Energi ke Pangan

Pertama, gangguan rantai pasokan global. Selat Hormuz menopang perdagangan dunia yang cukup besar, termasuk pertanian dan inputnya. Ketika jalur ini terganggu, distribusi pupuk, bahan baku pertanian, hingga komoditas pangan ikut terhambat. Bagi negara yang masih bergantung pada impor, dampaknya langsung mempersempit ketersediaan.

Kedua, tekanan biaya dari hulu ke hilir. Kenaikan harga minyak mendorong biaya produksi dan distribusi secara bersamaan. International Monetary Fund (IMF) mencatat, kenaikan 1% harga minyak dapat meningkatkan harga pangan sekitar 0,2% (IMF, 2026). Untuk Indonesia sebagai negara kepulauan, dampaknya lebih besar karena biaya logistik merupakan komponen utama harga pangan antarwilayah.

Namun, jalur ketiga justru yang paling jarang diperhatikan, sekaligus paling mendasar, yaitu terganggunya produksi pupuk akibat krisis energi, khususnya gas alam. Pupuk nitrogen seperti urea dan amonia sangat bergantung pada gas alam, baik sebagai bahan baku maupun sumber energi. Ketika pasokan gas terganggu atau harganya melonjak, kapasitas produksi pupuk langsung tertekan. Beberapa negara bahkan terpaksa mengurangi produksi urea akibat keterbatasan pasokan gas (Chanatry, 2026).

Pupuk lain seperti fosfat dan kalium juga membutuhkan energi dalam proses produksi dan distribusinya. Jadi, saat harga bahan bakar naik, biaya pupuk secara keseluruhan ikut terdorong.

Baca Juga:  Gaji Pekerja Bandung Zoo 2026 Dijamin Pemkot Selama Transisi

Energi Bersih, Solusi Stabilitas Pangan

Nah, situasi ini menciptakan tekanan ganda. Pasokan pupuk global terganggu, sementara kemampuan produksi domestik juga melemah. Krisis energi tak hanya menaikkan harga pangan, tapi juga mengganggu fondasi produksinya.

Oleh karena itu, swasembada energi bersih menjadi solusi penting. Energi terbarukan seperti surya, angin, dan mikrohidro dapat dikembangkan sesuai potensi di masing-masing daerah. Berbeda dengan energi fosil, sumber ini tidak bergantung pada bahan bakar global, sehingga biaya energinya lebih stabil dan dapat diprediksi.

Energi bersih berfungsi sebagai perisai, mampu menjaga stabilitas biaya ketika energi global bergejolak. Bagi sistem pangan, stabilitas ini sangat krusial karena menentukan biaya produksi dan distribusi jangka panjang. Energi bersih tidak hanya mengurangi ketergantungan, tapi juga ketidakpastian.

Singkatnya, swasembada energi bersih bukan sekadar pilihan, melainkan cara memastikan ketersediaan dan harga pangan tetap terjaga, bahkan saat konflik terjadi jauh dari Indonesia.

Agar dampaknya nyata, transisi ini perlu masuk ke seluruh rantai sistem pangan. Mulai dari produksi, distribusi, hingga kebijakan yang terintegrasi. Biaya investasi awal memang dibutuhkan, tapi dapat menggantikan beban subsidi energi, intervensi harga pangan, serta dampak sosial inflasi pangan yang selama ini berulang.

Jadi, ketahanan pangan sejatinya ditentukan oleh stabilitas biaya produksi dan distribusi, bukan hanya sekadar target produksi. Energi bersih menjadi solusi kunci untuk mempertahankan harga pangan yang terjangkau di tengah gejolak global.

Menariknya, aplikasi mobile Katadata kini memungkinkan Anda membaca artikel dengan pengalaman lebih nyaman serta fitur-fitur menarik lainnya.

Catatan Redaksi: Artikel ini ditulis oleh akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, atau pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata, belum tayang di media lain.

Baca Juga:  NTP Maret 2026 Turun 0,08%, Ini Penyebabnya
Kategori
Ekonomi

Tim Redaksi

Pengarang