Zionis Menentang Agama, Termasuk Yahudi: Dubes Iran

Zionis Menentang Agama, Termasuk Yahudi: Dubes Iran

Zionis Menentang Agama, Termasuk Yahudi: Dubes Iran

Cikadu.id – Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyampaikan pernyataan tegas bahwa rezim Zionis menentang semua agama, termasuk Yahudi non-Zionis. Pernyataan ini muncul saat pertemuan dengan sejumlah tokoh Islam di kawasan Pondok Labu, Jakarta Selatan, pada Jumat (3/4/2026).

Diplomat Iran itu menegaskan negaranya tidak pernah menjadi pihak yang memulai konflik bersenjata sepanjang sejarah. Catatan sejarah beberapa ratus tahun terakhir membuktikan Iran tidak memiliki rekam jejak sebagai negara agresor.

Boroujerdi membandingkan sikap Iran dengan rezim Zionis yang baru berusia puluhan tahun namun telah memicu banyak peperangan. Kontras ini menjadi sorotan utama dalam paparannya kepada para tokoh agama yang hadir.

Iran Tak Pernah Memulai Perang Ratusan Tahun Terakhir

“Kalau kita melihat sejarah juga bahwa dalam beberapa ratus tahun terakhir ini Iran tidak pernah memulai untuk berperang. Namun sebaliknya, rezim Zionis yang usianya baru puluhan tahun justru telah memulai banyak peperangan,” ujar Boroujerdi dengan tegas.

Pernyataan ini menjadi fondasi argumentasinya untuk membedakan karakter kebijakan luar negeri Iran dengan Israel. Selain itu, diplomat senior ini ingin menyoroti bagaimana Iran memposisikan diri sebagai negara yang mencintai perdamaian.

Israel Telah Memulai 20 Perang Besar

Boroujerdi mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa Israel telah terlibat dan memulai sekitar 20 perang besar dalam kurun waktu keberadaannya. Angka ini kontras dengan catatan Iran yang minim konflik.

Baca Juga:  Indonesia Temukan Sumber Minyak Baru Selain Timur Tengah

Faktanya, rezim Zionis terus menunjukkan agresivitas militer terhadap negara-negara tetangganya. Oleh karena itu, komunitas internasional seharusnya lebih kritis dalam menilai siapa sebenarnya pihak yang mengancam stabilitas kawasan.

Data historis membuktikan Israel konsisten melakukan ekspansi wilayah dan operasi militer. Dengan demikian, perdamaian di Timur Tengah sulit tercapai selama kebijakan agresif ini berlanjut.

Zionis Menentang Semua Agama: Islam, Kristen, hingga Yahudi Non-Zionis

Diplomat Iran itu menuding rezim Zionis bersikap represif terhadap berbagai kelompok agama tanpa pandang bulu. Tidak hanya Islam dan Kristen, bahkan komunitas Yahudi non-Zionis pun mengalami pembatasan kebebasan beragama.

“Rezim Zionis ini menentang seluruh agama. Mereka menentang Islam, Kristen, bahkan Yahudi non-Zionis. Umat Islam tidak diizinkan beribadah di Masjidil Aqsa, umat Nasrani juga mengalami pembatasan di gereja, bahkan Yahudi non-Zionis pun tidak sepenuhnya bebas,” papar Boroujerdi.

Pernyataan ini menjadi poin krusial yang membedakan antara Zionisme sebagai ideologi politik dan agama Yahudi itu sendiri. Menariknya, banyak kalangan Yahudi ortodoks di berbagai belahan dunia juga menentang Zionisme.

Pembatasan akses umat Islam ke Masjidil Aqsa menjadi contoh nyata represivitas rezim Israel. Demikian pula, umat Kristiani menghadapi berbagai hambatan dalam menjalankan ibadah di tanah suci mereka.

Ternyata, kebijakan ini bukan tentang agama, melainkan tentang kontrol politik dan teritorial. Alhasil, klaim Israel sebagai negara demokratis menjadi dipertanyakan ketika kebebasan beragama masih mengalami pembatasan sistematis.

Komunitas Yahudi di Iran Punya Perwakilan Parlemen

Boroujerdi mencontohkan kondisi berbeda di Iran yang memberikan ruang bagi kelompok minoritas, termasuk komunitas Yahudi. Meski jumlahnya sangat kecil dibandingkan mayoritas Muslim, komunitas Yahudi Iran tetap eksis dan bahkan memiliki hak representasi politik.

“Di Iran sendiri untuk komunitas Yahudi yang jumlahnya juga dibandingkan dengan Islam tidak ada, tidak ada, sangat kecil sekali, namun mereka mendapat keleluasaan untuk memiliki perwakilan di parlemen,” jelasnya.

Baca Juga:  Gaji Bandung Zoo Lunas 2 Bulan, KDM Ingkar Janji Positif

Sistem ini membuktikan Iran menghormati hak-hak minoritas agama dalam kerangka konstitusional. Lebih dari itu, keberadaan kursi parlemen untuk Yahudi menunjukkan komitmen Iran terhadap pluralisme meskipun secara demografis mereka minoritas.

Kontras ini semakin jelas ketika membandingkan dengan perlakuan Israel terhadap minoritas Muslim dan Kristen Palestina. Sementara Iran memberikan hak politik kepada minoritas Yahudi, Israel justru melakukan pembatasan terhadap warga Palestina.

Ajakan Tegas untuk Umat Islam: Berpihak pada Siapa?

Diplomat Iran itu menyinggung eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Dalam konteks ini, Boroujerdi mengajak umat Islam untuk bersikap tegas dan menentukan posisi mereka.

“Kita akan ditanya oleh generasi mendatang, kita berada di pihak mana. Apakah membela Amerika dan Israel atau mendukung Iran?” tantang Boroujerdi kepada para tokoh Islam yang hadir.

Pertanyaan retoris ini menggugah kesadaran umat Islam untuk tidak bersikap netral dalam konflik yang melibatkan prinsip keadilan dan kemanusiaan. Pada akhirnya, setiap pilihan akan memiliki konsekuensi moral dan historis.

Generasi mendatang akan menilai sikap umat Islam hari ini terhadap agresi yang terjadi di Palestina dan kawasan Timur Tengah. Oleh karena itu, kepemimpinan agama memiliki tanggung jawab besar dalam membimbing umat untuk mengambil posisi yang tepat.

Konteks Geopolitik Timur Tengah 2026

Pernyataan Dubes Iran ini muncul di tengah ketegangan geopolitik yang terus memanas di Timur Tengah pada tahun 2026. Konflik antara Iran dan blok AS-Israel telah memasuki fase baru yang semakin kompleks.

Namun, Boroujerdi menekankan bahwa narasi yang beredar di media internasional sering tidak mencerminkan fakta sebenarnya. Intinya, publik perlu memahami perbedaan antara Zionisme sebagai ideologi politik ekspansionis dan agama Yahudi yang mengajarkan perdamaian.

Baca Juga:  DJI Avata 360 Meluncur di Indonesia, Spek & Harga

Pertemuan dengan tokoh-tokoh Islam Indonesia menunjukkan upaya Iran untuk memperkuat diplomasi publik dan membangun pemahaman yang lebih baik di kalangan umat Islam. Singkatnya, Iran ingin menyampaikan versi mereka tentang konflik Timur Tengah langsung kepada pemimpin opini Muslim di Indonesia.

Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia memiliki peran strategis dalam membentuk opini publik global tentang isu Palestina dan Timur Tengah. Kemudian, diplomasi publik seperti yang dilakukan Boroujerdi menjadi bagian penting dari soft power Iran di kawasan Asia Tenggara.

Pertemuan di Pondok Labu ini menjadi salah satu momentum penting diplomasi Iran-Indonesia di tahun 2026. Dialog antara diplomat Iran dan tokoh Islam Indonesia membuka ruang untuk saling memahami perspektif masing-masing pihak tentang dinamika Timur Tengah yang kompleks.

Salsabilla Putri

Penulis di Cikadu.id